RSS

Tag Archives: resensi buku

Duo Mantap Belajar Food Photography (1)

Tujuh tahun lalu, pertama kalinya saya belajar fotografi secara teori. Hasilnya? Nol! Saya malah ngantuk dan nyaris tertidur di ruang gelap. Foto saya blur semua, nggak ada satupun yang fokus, sebagian besar under exposure. Kalaupun saya akhirnya mendapat nilai B dalam mata kuliah Fotografi Jurnalistik, saya yakin itu karena belas kasihan dosen saya saja.
Dua tahun lalu, sayalah orang yang paling tidak setuju ketika suami saya memutuskan membeli kamera DSLR. Buat apa? Tanya saya ketika itu. Toh, untuk kebutuhan liputan, jauuuuhhh lebih praktis menggunakan kamera saku yang masing-masing dari kami sudah memilikinya. Saya bahkan memiliki 2 kamera saku sekaligus

Alhamdulillah 3 kamera saku digital kami sekarang sudah almarhum dengan berbagai penyakit. Ada yang zoomnya nggak mau balik, ada yang mati total nggak mau nyala sama sekali, dan ada yang mau nyala tapi baterainya cepet banget abis.

Oya, saya menikah dengan mas kawin seperangkat alat liputan, salah satunya ya kamera yang sudah wafat itu, makanya sedih kan sebenernya? Tapi saya nggak sedih kalau gantinya 40D atau bahkan 5D *dipelototin suami*.

•••
Beberapa bulan lalu, saya tak sengaja belajar memotret makanan. Tujuannya? Untuk dokumentasi blog yang mau saya bikin ini (Dapur Hangus). Saat itu saya harus kembali belajar dari nol tentang ISO, diafragma, fokus, komposisi, dan apperture. Malu sih sebenernya sama nilai B, tapi lebih malu lagi kalau nilai saya A hahaha…

Karena nggak mau terus-terusan malu, saya akhirnya beli buku Food Photography Made Easy karya Empat Rana. Pas mau beli buku aja sedikit cek cok sama suami karena dia percaya ilmu fotografi itu akan semakin mumpuni karena banyak latihan dan pengalaman, bukan teori. Pada kasus saya lebih efektif berteriak, “Yahhhh, kalau masih gelap diapain?” Hehehe…

Tapi saya (dan suami saya) akhirnya tak menyesal membeli buku ini. Tak hanya menjelaskan tentang fotografi makanan, tapi juga memuat contoh karya fotografi makanan yang ciamik dari para panulisnya, Dita, Arfi, Riana, dan Irra. Saya menjadi tercerahkan, cieeee…

Dari buku inilah pertama kali saya kembali belajar tentang segitiga exposure. Foto yang baik adalah gabungan yang tepat antara ISO, aperture, dan bukaan rana (shutter speed). Pusing? Samaaaa…

ISO atau International Standardization Organization adalah ukuran tinggi rendahnya sensitivitas sensor dalam kamera. Angka ISO seperti 100, 200, 400, 1600 dan sebagainya menunjukkan kepekaan terhadap cahaya. Semakin kecil angka, sensor kurang sensitif terhadap cahaya, dan semakin besar angka ISO, maka berlaku sebaliknya.

ISO besar membuat hasil foto menjadi grainy atau berbutir, sementara ISO kecil membuat foto menjadi lebih halus. Di halaman 16 dan 17 buku ini ditunjukkan perbedaan foto yang sama tetapi di ambil dengan ISO yang berbeda. Mau tau bedanya? Beli dong bukunya, dijamin langsung ngerti :p *bukan promosi berbayar*.

Bukaan diafragma atau aperture fungsinya untuk mengatur besar kecilnya cahaya yang masuk. Angka-angka bukaan diafragma biasa disebut f-stops, berupa angka seperti f/1.2, f/1.4, f/8, f/16, dan seterusnya. Semakin kecil f-stops, bukaan diafragma akan semakin besar sehingga cahaya yang masuk semakin banyak. Bukaan diafragma yang kecil juga membuat area ketajaman sempit sehingga background menjadi blur.

Segitiga eksposure ke-3 adalah shutter speed. Shutter speed adalah kecepatan bukaan sensor di kamera. Kecepatan ini ditandai dengan angka 1/1, 1/30, 1/500, 1/2000, dan sebagainya. Angka 1/2000 adalah contoh fast shutter speed, biasa digunakan untuk menangkap gerakan yang cepat seperti air yang dituang, lelehan sirup, atau kopi yang dituang dari teko. Pokoknya semua objek yang butuh “dibekukan”. Dalam fotografi umum, biasa digunakan untuk meng-capture pebalap Moto GP, misalnya.

Semakin besar angka di bawah 1 per (1/) maka kecepatan shutter semakin cepat. Semakin kecil angka di bawah satu per (1/), maka shutter speed semakin lambat. Penggunaan shutter speed yang lambat cenderung membuat gambar blur karena getaran atau shaking. Makanya, untuk shutter speed lambat disarankan memakai tripod atau remote kamera bila perlu.

Lebih lanjut tentang fotografi makanan dasar, komposisi, styling serta lighting bisa dibaca di buku setebal 144 halaman ini. Semua lengkap, walaupun terkadang agak susah dicerna bagi orang awam seperti saya. Saya harus berkali-kali membaca ulang agar mengerti, tapi memang saya tak rugi kan?

Bukunya top, covernya keren, penulisnya oke, tapi ada beberapa bagian yang bikin nggak sreg juga. Pertama, kata tip yang seharusnya tips. Karena sering banget diulang, jadi ganggu. Tip dan tips beda lho! Tip itu biasanya kita kasih ke roomboy atau petugas vallet parking. Nah, kalu tips biasanya digabungin sama trik. Tips penyajian, misalnya. Ya kan ya dong? Silahkan di cek di KBBI *sambil berdoa semoga saya ga salah*.

Oh ya, satu lagi yang menurut saya mengurangi keenjoyan menikmati foto-fota cantik di buku terbitan Elex Media Komputindo ini adalah lay out-nya kurang oke. Menurut saya pribadi loh ya tentunya :). Banyak area kosong yang sebenernya nggak perlu.

Beberapa tips ringan yang saya baru tahu dari buku ini adalah memotret makanan sebaiknya dilakukan segera setelah makanan matang. Untuk makanan sejenis capcay, lakukan pemotretan ketika setengah matang. Caranya, sisihkan semangkuk khusu buat difoto *noted!*.

Yang bikin saya wow sambil koprol adalah Mamin Ditut menjadikan Arwen dan Leia ‘asisten cilik’. Saya mana bisa seperti itu? Foto-foto yang masuk kategori tidak mencemari mata pasti dihasilkan ketika Vio tidur atau ketika ada pawangnya (baca: ayahnya). Foto kastengel yang menurut saya lumayan eye catching itu saya ambil ketika Vio main dengan anak tetangga di seputaran saya motret. Saya harus merelakan sepertiga objek foto saya menjadi cemilan mereka hihihi… *pasrah*

•••
Sekarang, apa saya bisa membedakan ISO, aperture, dan shutter speed? Masih juga belum bisa :(. Setiap mau motret, saya pasti baca buku ini dulu :).

“Tidak ada yang lebih cantik atau lebih tidak cantik, salah ataupun benar. Kami hanya bisa bilang, just shoot and have fun. Style happens.”

-Food Photography Made Easy, halaman 8-

Identitas buku
Judul : Food Photography Made Easy
Penulis: Empat Rana (Dita Wistarini, Arfi Binsted, Riana Ambarsari, Irra Fachriyanthi).
Tebal: 144+viii halaman
Penerbit: PT Elex Media Komputindo

 
26 Comments

Posted by on October 11, 2012 in Resensi Buku

 

Tags: , ,

 
%d bloggers like this: