RSS

Tag Archives: Giveaway

Berawal dari Cinta, Sebuah Jawaban Giveaway

Semua berawal dari cinta. Seperti Qays yang gila karena Layla, atau Romeo yang mati karena Juliet. Begitupun giveawaynya, terinspirasi oleh “cinta”.

Jika Qays rela membuang kenyamanan istana orangtua-nya dan menggantinya dengan kehidupan liar di alam bebas, Romeo rela diasingkan demi cintanya pada Juliet. Bila Qays menciumi tembok rumah Layla demi memuaskan rindu pada sang pujaan hati, Romeo malah menenggak sebotol racun yang dibeli di Kim…eh di apotek karena mendapati Juliet telah dikubur.

Ya…itu cinta yang sengsara. Akhirnya Qays mati di pusara Layla. Mereka baru bisa bersama di pemakaman. Pun Romeo, yang tak tahu bahwa sebenernya Juliet masih hidup, memilih mengakhiri hidupnya dengan racun. Juliet? Menusukkan belati ke tubuhnya sendiri. Tadinya pengen romantis-romantisan, tapi kok sedih gini ya? *ketauan lagi galau*

Njieeee…saya keren banget nih cerita kisah cinta Qays-Layla dan Juliet Romeo, sebenernya saya baca buku dulu hahaha… Makanya wajar postingan ini ditulis dari Senin dan baru selesai sekarang, saya malah tergoda baca novel sampe abis, ga masak, ga nyuci, ga makan biar langsing *crottttt*.

Kembali ke laptop!

Cinta bagi Dapur Hangus adalah versi lain, cinta yang ceria, nggak pake perang, nggak pake minum racun, apalagi racun asmara. Nggak pake ngutang, cuma transfer uang sih tetep diperbolehkan :p. Cinta yang dibentuk dari sebuah serbuk hijau bernama matcha powder alias green tea powder.

Pertanyaan giveaway-nya sederhana banget! Apakah kejanggalan dari foto di bawah ini?

Kuncinya jelas loh, kalau membaca postingan dengan sekasam, pasti deh ga akan jawab yang salah ^^.

Jangan mikir jauh-jauh, karena ya ini nggak ada hubungannya dengan fotografi, baking, teknik membuat kue dsb. Hubungannya hanya dengan sejauh mana Anda bisa menangkap fakta dari apa yang Anda lihat dari foto itu. Mungkin juga jawaban yang benar menurut saya nantinya sangat aneh, tapi ya kumaha saya we da saya yang ngadain kuis ;p

Adakah yang jawab, “Itu kan green tea, harusnya ijo dong!” >> Jawaban salah karena sesuai clue di atas, jawaban nggak ada hubungannya dengan baking dan fotografi :p

Atau Anda salah satu yang jawab, “Kayaknya di resep green tea-nya bukan ditabur deh, tapi dimasukin di adonan.” >> coba bayangkan kalau green tea nggak ditabur, giveaway ini nggak akan pernah ada.

Ada juga yang menjawab, “Green tea-nya meuni berantakan, beresin atuh!” >>Sunda alert, maha aing we :p

Daaaannnn, ada juga yang jawab, “Katanya grinti mahal, kok dibuang-buang jadi taburan?” >> Ingat, saya horang kayah :p, lagian ini memang episode ngabisin grinti kan? Saya udah menyebutkan di postingan resep.

Eeehhh… ada juga yang jawab, “Aneh, soalnya di bawah saringan ga ada bekas green tea-nya.” >> Ya jelas nggak ada dong sayangku, kan green tea-nya ditabur di sagu kejunya, bukan di bawah saringan.

Kalau Anda yang jawab, “Di foto yang kue sagu di tumpuk itu kok malah kayak bakpia sih? >> plis dehh, yang jadi soal kan bukan foto ituuuuu *mulai gila*.

Coba perhatikan cetakan kertas putih di bagian bawah foto. Kertas itu putih bersih dan kontras sekali dengan keadaan sekitar yang berantakan. Kok bisa? Karena kertas itu bukan cetakan love yang saya pakai untuk nyetak love di kue sagu. Cetakan love untuk kue sagu hancur di sobek Vio ketika sesi pemotretan masih berlangsung dan saya terpaksa membuat cetakan love yang baru.

Ada yang protes?

Pasti ada. Bisa aja kan saya memang pake cetakan kertas love yang lain, yang ada di kue lain misalnya. Tenang, saya bisa jawab kok. Kuncinya cuma teliti aja. DI postingan resep, ada tiga foto, di semua foto itu, ada satu sagu green tea yang ditutup dengan kertas, selalu, di semua foto. Artinya, saya nggak mindah-mindahin kertas itu, ya memang dari awal sampai akhir kertas itu ya tempatnya di situ hehehe…

Dua cinta (love) tapi bentuknya berbeda, ya begitulah cinta, selalu punya ciri khas masing-masing, ada yang sengsara ada juga yang bahagia. Kita pasti mau yang bahagia aja kan?, makanya saya menggelar giveaway berhadiah ini.

Ini cuma sebuah giveaway, hadiahnya juga cuma dua set sendok kayu yang lagi happening di seantero jagat raya *ga pa pa kok menglaim dagangan sendiri ngetren :p*, tapi lihatlah, dari lima ratus tiga puluh empat juta jawaban yang masuk (aslinya cuma 70-an), hanya ada 5 orang yang menjawab benar.

Ini cuma fakta, yang bisa dilihat dengan dua mata kita. Tapi, masih ada juga yang berpikir ruwet dan menyalahkan penyelenggara giveaway hehehe… Plis dong ah, jawaban gampang gini kok ga bisa sih? Bahkan dalam keadaan lumpuh pun, Hercule Poirot dalam Tirai bisa memecahkan kasus pembunuhan loh :D. Jadi, yang begini sih keciiiillll ya harusnya.

Dannnn…yang beruntung mendapat masing-masing satu set sendok kayu adalahhh…. jreng-jreng….. Silahkan cek email masing-masing ya, pemenang akan di email paling lambat Senin pagi karena da syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menebus hadiah. Siap-siap deg-degan lagi? Hehehe.. *yaelah masa hadiah sendok doang deg-degan, beli atuhhhh….*

Oya, sekalian pengen ngucapin terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh teman dan handai taulan yang udah vote Dapur Hangus di Majalah Sekar Blog Competition, baik itu dengan keikhlasan maupun dengan paksaan di bawah acungan golok hehehe… Doakan yang terbaik untuk saya dan Dapur Hangus.

Menang atau tidak, saya tetap chef abal-abal, tak akan berubah jadi Farah QUinn atau Marinka. Dan satu hal yang pasti, dapur ini tetap akan menjadi Dapur Hangus, tidak akan berubah menjadi dapur lezat, dapur umami, ataupun dapur enak dan tidak hangus hihihi… Tetap semangat dan saling menyemangati untuk belajar memasak, itulah yang terpenting, karena tanpa teman-teman semua, Dapur Hangus nggak akan pernah ada *peres air mata*

NB: postingan ini bukan berarti membuat saya memasak dengan cinta ya, tetep aja kok saya masak pake kompor :p *tangkis cubitan*

 
28 Comments

Posted by on November 1, 2012 in Giveaway

 

Tags:

Sagu Green Tea Perjuangan

kue sagu

Seminggu ke depan, mungkin postingan di sini bakal ijo-ijo terus isinya. Bukan kolor ijo, tapi green tea alias teh hijau. Bukan karena biar gaya, tapi bubuk grinti yang saya beli beberapa bulan lalu masih nyisa buanyak sementara udah mau expired akhir bulan ini. Yuuukkk….

kue sagu teh hijau

Green tea ini bau wanginya khas dan sedikit pahit. Harganya lumayan mahal sih, 25 gram sekitar 15 ribu. Tapi ya itu tadi, karena cuma seneng aja pas belinya, tapi pas bikinnya kok ga minat. So far udah pernah bikin brpwnies (baca: kue bantat) green tea, kukis greentea, muffin greentea, dan terakhir sagu keju green tea serta kastengel green tea yang akan saya posting belakangan. Cieee rajin banget sih bikin-bikin? *prok prok prok smeuanya*.

Resepnya dari NCC, tapi nggak pake keju. Keju saya ganti pake grinti bubuk satu sendok teh. Sayangnya kurang banyak, jadi bau grinti-nya kalah sama bau tepung sagu. Oh ya, ini cuma setengah resep, tapi tetep pake satu kuning telur soalnya susah mau ngebelahnya :P.

Bahan:
150 gram sagu
2 lembar daun pandan
75 gram margarin atau butter (saya pakai margarin semua)
1 butir kuning telur
30 ml santan kental siap pakai
60 gram gula halus (di resep asli kalau setengah resep 75 gram, tapi sengaja saya kurangi biar pahir-pahit grintinya kerasa, tapi tetep nggak keras euy)
1 sdt bubuk grinti, mungkin harusnya ditambah jadi 2 sdt kali ya biar kerasa grintinya

kue sagu green tea
Cara membuat:
1. Sangrai sagu bersama daun pandan dengan api kecil. Tunggu sampai daun pandan mengering, aduk sesekali. Tujuannya biar renyah hasil akhir kue-nya.
2. Kocok mentega atau margarin dengan garpu/mixer (berat hati nulis mixer karena ga punya)/whisker sampai lembut. Seharusnya sampai putih sih, tapi tangan keburu capek karena saya pakai garpu aja. Pengocokan ini mungkin akan pengaruh ke tekstur akhir, kalau cuma sampai lembut, kue sagu-nya akan agak padat, sementara kalau sampai putih teksturnya lebih ringan dan melt.
3. Masukkan gula halus, aduk rata.
4. Masukkan kuning telur lalu aduk sampai merata.
5. Campur bubuk grinti dengan tepung sagu yang sudah disangrai, aduk rata. Masukkan campuran sagu grinti ke kocokan telur margarin, aduk rata.
6. Tambahkan santan kental, adonan siap dibentuk.
7. Tahap bentuk membentuk ini sungguh membuat saya menderita. Saya nggak pinter pake spuit, apalagi ini adonannya agak-agak keras, udah nyoba masukin ke spuit, tapi malah gigi spuitnya melar :(. Lalu nyoba pake cookies stamp, ehhh… adonannya ga mau digiles, mokong gitu malah nem[el-nempel (mokong itu apa??? hehehe…). Akhirnya saya timbang pake timbangan digital trus dipenyet-penyet pake cookies cutter bentuk bulet. Jadi juga sih walaupun bentuk bulet. Inilah mengapa namanya sagu grinti perjuangan, bukan karena berafiliasi dengan partai tertentu, tapi karena butuh perjuangan untuk membentuk :(.
8. karena agak tebal dan besar, manggangnya juga sekitar 40 menit, agak lama memang. Oya, kalau punya kuning telur berlebih, boleh diolesin kuning telur biar mengilap gitu. Saya olesi tipis-tipis 10 menit sebelum keluar dari oven, lumayanlah liat bentuknya yang rapi hati jadi ayem, semoga rasanya seenak penampakannya :).

kue sagu

Baca baik-baik postingan ini karena berhubungan dengan giveaway di sini. Ikutan yuuukkkk :).

 
7 Comments

Posted by on October 5, 2012 in Giveaway, Resep

 

Tags: , , , , , , ,

Our First Trial

Our First Trial

Cieeee, judulnya bahasa Enggres yaaaa… Biar sedikit keren dan menunjukkan kalau saya menguasai empat bahasa, bahasa Jawa, Sunda, Indonesia, dan Enggres ehem… Sejak giveaway happycall Mei lalu, belum ngadain giveaway lagi kan? Lagi males review hadiahnya, males moto, males segala-gala deh *pecut diri sendiri*. Nah, tiba-tiba muncul ide untuk bikin grup Dapur Hangus di Facebook (yang belum gabung, silahkan bergabung di sini). Ya ampun, dengan begitu tiap giveaway bisa langsung posting di Facebook, gampang ya… Nah, biar sedikit beda, kami menamakannya TRIAL (semoga ga pake error ya hihihi…).

Untuk TRIAL pertama, tantangannya adalah posting foto kue kering lebaran yang dibuat sendiri di rumah, ga boleh beli, ga boleh pesen ke tetangga, ga boleh nyolong apalagi. Kue keringnya boleh apa saja, boleh berbahan terigu, sagu, tapioka, tepung beras, pasir semen (menurut lo?) dll yang penting ga beracun :D. Masalah bikin sendiri ini, hanya sang pembuat, Tuhan, dan cicak-cicak di dapur masing-masing yang tau. Jadi, be wise dan jujur ya, jangan sampai kue beli dibilang bikin sendiri :p.

Syaratnya? Pertama tentu saja join grup Dapur Hangus dulu. Posting foto kue kering lengkap dengan resep dan tips untuk membuatnya. ga usah terlalu serius, boleh becanda juga. Fotonya sebagus mungkin ya, buat orang yang melihat ngiler sampe perlu gayung buat nadahin iler. Jijay ih :p!

Penilaiannya? Karena TRIAL pertama, penilainnya dari like (75 persen) dan dari penjurian (25 persen). Ajak bapak, ibu, sodara, tetangga, satpam kompleks, tukang sayur, tukang galon buat ngelike foto Anda di grup. Hadiahnya hanya untuk satu pemenang saja yaaa, masih dibuka kesempatan buat yang mau nyumbang hadiah lhooo. Oya, ongkos kirim hadiah ditanggung pemenang :D. Mohon maklum yaaaa!

Mau tau hadiahnya? Sebuah panci wok diameter 28 cm yang tebal seharga 350 ribu dengan merk Boriz Beinz. Saya sendiri sudah menggunakan panci ini, hasilnya memasak jauh lebih cepat. Rendang yang biasa harus 4 jam, cuma butuh 2 jam karena bahan panci ini menyimpan panas (hati-hati gosong aja sih hihihi…). Saking kinclongnya, panci ini bisa buat ngaca hehehe :D.

This slideshow requires JavaScript.

TRIAL ini berlangsung mulai hari ini, 30 Juli 2012 sampai dan berakhir Jumat, 17 Agustus 2012. Pengiriman hadiah untuk pemenang dilakukan setelah admin pulang dari mudik yaaa :D. Keputusan pemenang mutlak dan tidak dapat diganggu gugat ya. Yuk ahh tunggu apa lagi, segera upload resep andalan di grup dan jadilah pemenang :D.

 
25 Comments

Posted by on July 29, 2012 in Giveaway

 

Tags: , , ,

Udang Mandi Telur Asin

Udang Mandi Telur Asin
Udang mandi telur asin

Aroma kuning telur asin yang nyaris terbakar, hmmmm… so yummy

Berawal dari nonton acara Koki Cilik di Trans7, akhirnya saya bikin menu ini. Kata suami saya, rasanya mirip dengan menu di D’Cost. Kalau D’Cost rasa bintang lima harga kaki lima, bikinan saya ini rasa bintang tujuh harga kaki tiga (lebih murah dari kaki lima). Maksudnya sih mau bilang bikinan saya lebih enak gitu lho!

Sebagai anak juragan telur asin (aminnn…) stok telur asin di kulkas lumayan banyak, apalagi abis pulang kampung kemarin. Pas banget udah bosen sama udang goreng kering, jadi kepikiran buat ngolah telur asin yang berlimpah dan udang yang besar-besar. Ditambah lagi, caranya gampang banget! Memang resep-resep di Koki Cilik itu gampang-gampang lho pemirsa, boleh jadi rujukan ibu-ibu males di dapur tapi pengen makan enak sepeerti saya. Yuk, bikin yuk!

Bahan

12 udang ukuran agak besar, bumbui dengan bawang putih dan garam, diamkan beberapa saat di kulkas biar bumbu meresap. Tentu saja saya pakai bawang putih bubuk aja biar gampang.

1 butir kuning telur asin matang, cairkan dengan 2-3 sdt air tergantung ukuran telurnya. Kuning telur asin bikinan ibu saya itu gede-gede, jadi kadang butuh setengah gelas kecil. Kuning telur asin semakin banyak semakin enak, jadi udangnya kayak mandi pasta telur asin gitu deh.

Irisan daun bawang secukupnya (saya pakai parsley pas nggak punya bawang daun)

Bumbu halus

1 siung bawang putih yang agak besar

2 siung bawang merah yang agak kecil

Garam, gula, merica secukupnya

Caranya sungguh easy

  1. Goreng udang setengah matang sampai berwarna agak kemerahan. Jangan terlalu kering nanti nggak juicy lagi. Tiriskan, sisihkan terlebih dulu.
  2. Tumis bumbu halus sampai wangi, lalu besarkan api. Masukkan kuning telur yang telah dicairkan, aduk-aduk terus sampai tercampur rata dan telur asin mulai mengental dan membentuk seperti karamel. Masukkan udang, aduk rata. Karena api besar, jangan sampai gosong ya, makanya aduk-aduk terus. Kalau sudah ada semburat kecoklatan, masukkan irisan daun bawang atau parsley kering (pilih salah satu aja), aduk rata lalu angkat.
  3. Siapkan piring dan nikmati dengan nasi hangat. Sungguh enak…Bau kuning telur asin yang setengah gosong itu sungguh menggoda.
Olahan udang telur asin

Laperrr…

TIPS biar nggak banyak yang dicuci, goreng udangnya dengan minyak secukupnya, mungkin sekitar 5 sdm aja. Sisihkan udang ke pinggir wajan, masukkan bumbu halus lalu kuning telur asin, baru campur udang. Cuma satu penggorengan yang kotor yayyy….

Di rumah, saya aja sih yang tergila-gila, baru pulang mudik 10 hari aja udah 4 kali bikin bumbu telur asin ini. Kadang udangnya diganti cumi yang lebih murah, rasanya tetap enakkkk… inilah yang saya sebut rasa bintang tujuh harga kaki tiga itu hihihi… Ketagihan masakan ini jangan dibebankan ke saya ya, karena ketagihan saya pun belum ada obatnya.

Oya, jangan protes kalau emak-emak seperti saya nontonnya Koki Cilik ya, sebenernya nemenin Vio nonton TV kalau dia nggak bobo siang. Kalau dia bobo sih pasti channelnya pindah ke Indosiar alias nonton drama Korea hahaha…

 
8 Comments

Posted by on May 19, 2012 in Cerita dari Dapur Hangus, Giveaway

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Brownies Mudah, Murah, dan Lezatosss!!!

Lima tahun lalu, pas KKN di Cirebon, takjub banget lihat temen yang bisa bikin brownies. Di mata saya, dia keren, cool, dan hebat. Apalagi waktu itu lagi ngetop-ngetopnya Brownies Amanda dan harus ngantri panjang sampe nguler kalau mau beli.

Tak disangka, di Tahun Naga Air ini keadaan udah berubah drastis. Ibu saya minta diajarin bikin brownies. Duh, berarti sekarang saya keren, cool, dan hebat kan? Hihihi… *maunya*

Brownies itu dalam sejarahnya adalah kue gagal ngembang alias bantat. Kalau mau jas merah, ya bikin brownies jangan pake pengembang. Tapi, pake pengembang sedikit oke aja, cukup ekonomis kalau mau buat jualan.

Awalnya sih niat gugling resep, eh nyantolnya tetep aja ke blognya Lei, yah tau gitu mah langsung nanya aja eike ke Jeng Lei. Oya, ini udah dimodifikasi. Hasilnya tetep enak, tapi ibu kurang puas sih. Keenakan kalau buat dijual harga seribu.

Bahan:
155 gr terigu
45 gr coklat bubuk
4 btr telor ukuran besar
1 gelas belimbing minyak sayur (minyak goreng)
1/2 sdt baking powder
250 gr gula pasir
Sejumput garam

Setelah semua bahan siap, tinggal dieksekusi. Campur baking powder, garam, terigu dan coklat bubuk. Saya pakai coklat van houten, rasanya gilak enak banget. Sebungkus kecil yang 45 gram harganya sekitar 10 ribu, kalau browniesnya mau dijual ya terlalu enak seperti kata ibu saya. Oya, pokoknya total terigu+coklat bubuk 200 gram ya, bisa dikurangi coklatnya tapi ditambahi terigu juga oke.

Di wadah terpisah, campur telur dan gula. Kocok sampai lembut dan gula larut. Saya ngocoknya pake whisker aja, butuh waktu sekitar 1080 detik (hayolo berapa menit) atau sampai tangan kerasa agak pegel dan besoknya butuh pijit hahaha… Masukkan minyak. Campurkan adonan telur ke terigu+coklat. Aduk sampai rata ya, jangan sampai ada yang bergerinjil.

Masukkan adonan yang sudah dioles mentega dan dibalurin terigu tipis-tipis. Panggang sekitar 30 menit. Karena kemaren pake otang, apinya kecil aja, sebelumnya otang udah dipanasin 5 menit. Adonan ini jadinya 2 loyang loaf. Enak banget… Jadi kepikiran buat jualan brownies trud dititip di warung deket rumah hihihi… Sesuai judulnya kan? Mudah, murah, lezatoss!

 
22 Comments

Posted by on April 29, 2012 in Kisah di Balik Rasa

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Jatuh Cinta sama Dapur

Dapur saya hangus! Itulah pengalaman pertama saya di dapur.

Masakan saya gosong! Begitulah pengalaman selanjutnya.

Salah satu favorit kami, chicken katsu 🙂

Pengalaman saya di dapur praktis baru dimulai setelah menikah. Sebelum menikah, tak pernah terpikir untuk memasak sendiri. Sedikit pun tak pernah terbersit untuk berpeluh di dapur, mendekati penggorengan atau panci, bahkan berakrab-akrab dengan bumbu-bumbu. Saat itu saya berpikir sudah sangat hebat bisa menyalakan kompor lalu memasak mie instan atau menyeduh kopi hihihi…

Sebagai mantan anak kos yang setiap hari merasakan masakan warung tegal atau sesekali nasi padang, setelah menikah pun saya merencanakan  hal yang sama. Mengunjungi warung-warung di pinggir jalan atau kaki lima, tak masalah buat saya, lebih praktis dan hemat waktu.  Apalagi ketika calon suami tak mensyaratkan saya harus bisa masak. “Aku tak menikahimu untuk memasak,” ungkapnya ketika itu. So sweet banget kan?

Entah harus disyukuri atau tidak, rumah baru kami jauh dari warung nasi. Kalaupun ada, lauknya tak bervariasi dan rasanya hambar, harganya pun mahal. Mulailah kami membongkar kompor hadiah, membeli panci dan penggorengan serta berburu ulekan di pasar tradisional. Percobaan pertama memasak, dapur saya hangus! Kompor hadiah itulah pemicunya. Saluran pemantiknya bocor dan membuat api berkobar besar. Ya! Dan dapur kecil kami positif hangus. Itulah pengalaman pertama saya di dapur. Keinginan memasak di dapur sendiri yang tadinya hanya sepersekian jiwa, sekarangpun makin minus hahaha..

Kami kembali lagi ke pelukan warteg, warnas, dan teman-temannya. Sesekali makan steak atau makan di mal bila kantong sedang tebal, sayangnya kami tak suka makan di cafe. Lama-lama, lidah berontak karena makan makanan tak enak setiap hari. Sambal kurang pedas, nasi keras, ayam kurang asin atau sayur yang terlalu banyak vetsin membuat saya sadar. Terbitlah keinginan untuk memasak sendiri, setidaknya untuk sarapan. Kami membeli kompor baru dan dimulailah petualangan saya di dapur.

Masakan pertama saya adalah telur dadar pedas. Seringkali melihat ibu saya memasak telur dadar di dapur cukup membuat saya pe-de setengah mati! Dengan percaya diri saya berkoar-koar ke suami bahwa ini tak mungkin gagal, terlalu gampang buat saya memasak telur dadar pedas karena inilah salah satu makanan favorit saya. Saya lupa bahwa saya tak pernah praktek sendiri, hanya melihat, cuma menonton atau sesekali membantu mengiris bumbu. Hasilnya bisa ditebak, gosyong pemirsa!

Malu ke suami? Iya tentu saja. Untungnya dia masih mau memakan telur dadarnya meskipun rada pahit, ya lumayanlah untuk variasi masakan warteg yang itu-itu saja hahaha… Dia pun tentu tak lupa ucapannya sebelum menikah yang yakin tak menikahi saya untuk memasak. Jadi, telur gosong tak membuat saya was-was dipecat jadi istri hihihi…

Waktunya tiba ketika saya harus memasak yang sebenarnya. Ketika anak kami sudah masuk tahap MPASI (makanan pendamping ASI), mau tak mau saya harus berkenalan dengan dapur lebih intens. Saya dan suami boleh saja sudah kebal dengan makanan pinggir jalan yang jorok, tak diare meski minum es teh yang dibuat dengan air comberan, atau tak sakit walupun makan daging ayam tiren, tapi tak mungkin bayi saya makan makanan yang sama dengan kami. Sebagai ibu, saya ingin yang terbaik untuk anak. Di situlah titik balik saya, kalau saya mau anak saya makan makanan sehat maka kami sebagai orangtua pun harus melakukannya.

Bagaimana caranya? Ya saya harus belajar masak. Dibandingkan suami, saya termasuk pilih-pilih makanan. Saya suka makanan enak, daging-dagingan dan hanya sesekali makan sayur. Membeli olahan daging bagi kami sangat mahal. Lagi-lagi saya sampai pada kesimpulan kalau saya harus belajar memasak. Dari mana? Kali ini dari hasil gugling dan browsing di internet. Saya harus berterima kasih kepada teknologi.

Sialnya, semakin sering mencoba resep, lidah saya semakin tinggi levelnya. Bumbu-bumbu instan yang biasa saya stok di kulkas dan biasanya enak-enak saja tak lagi memuaskan lidah saya. Saya mulai belajar lagi membuat masakan dengan bumbu yang lebih kompleks. Again, saya berterima kasih kepada teknologi. Resep-resep mudah dan praktis bisa saya temukan dengan singkat dalam genggaman. Aplikasi yang tersedia di smartphone  membuat saya lebih “pintar” pula. Thanks to aplikasi Masak Apa , dapur saya bisa menghasilkan makanan yang lebih bervariasi. Tentu saja, Mbah yang paling ngehits seantero jagat raya, Mbah Google, turut andil dalam pencarian cinta sejati saya kepada dapur.

Kini, berbagai resep dalam genggaman saya. Ditantang masak apapun, saya berani. Kalau gosong atau keasinan itu resiko. Terpercik minyak sudah biasa. Makanan enak tak harus pergi ke cafe, memasak sendiri jauh lebih sehat untuk badan, dan tentunya untuk kantong juga hehehehe… Kebahagiaan memasak itu sederhana, ketika kelehan berjibaku di dapur dibalas dengan masakan yang tandas oleh orang-orang tersayang.

Saya sudah jatuh cinta sama dapur 🙂

 

Tags: , , , , , , ,

 
%d bloggers like this: