RSS

Tag Archives: buku

Chef Abal-abal Jadi “Penulis”

Chef Abal-abal Jadi “Penulis”

Ketika merencanakan membuat blog ini, pas banget nemu lomba nulis yang isinya pengalaman masak. Saya berbinar-binar mengingat hadiahnya adalah gadget daput yang sampe sekarang pun saya belum punya, MIXER :D. Sayang saya ga dapet mixer, tapi ternyata beberapa tulisan pemenang dibukuin dan sekarang bukunya udah terbit.

Biarpun jelek, saya udah pernah nulis buku *bangga sampe kiamat*. Bukan karena saya penulis, bukan karena suka nulis, dan bukan karena pengen eksis. Saya cuma beruntung bisa menulis. Beruntung punya komputer, punya laptop, punya BB yang sinyalnya senen kemis, beruntung dan bersyukur pokoknya *sholehah mode on :D*.

Oh ya, ini buku pertama dari Grup HHBF di Facebook, nah nanti katanya ada buku ke-2 juga yang isinya resep-resep. Tapi saya ga ikut-ikutan nulis lagi, yang nulis admin HHBF aja.

Nah ini penampakan tulisan saya di buku, ga pa pa ya narsis dikit. Ga perlu beli, tapi kalo borong boleh dong! *modus :p*. Cakep ya di ilustrasinya biar dapurnya hangus juga, mana ovennya gede kan. Ih di dapur saya mana ada oven segede itu, adanya mesin cuci. Memang dapur saya salah fokeus sih, ga jelas dapur ama londri, abisnya rumahnya cuma seiprit sih ya.

Sambil malangkrik :p

Tulisan saya yang masuk buku kayak apa sih? Apa harus beli bukunya? Nggak harus sih kalau cuma mau baca tulisan saya, tapi kalau mau baca hal-hal bermanfaat lain, buku ini wajib di beli (saya juga jual, gitu kira-kira lanjutannya :p). Buat yang mau MPASI atau MPASU, harus punya lah yaaaa…. Kalau cuma mau baca tulisan saya, di bawah ini tak lampirkeun kok, versi asli tanpa diedit. Kalau mau versi diedit ya beliiiiiii dongggg! Semoga para juri ga nyesel ya milih tulisan saya masuk di buku :D.

***

Dapur Hangus, Surat Cinta untuk Violeta
Oleh: Ika Rahma

Hidup saya sempurna, setidaknya begitulah menurut saya. Punya bisnis idaman, kuliah di jurusan yang menyenangkan, menikah dengan mantan atasan yang lucu dan imut-imut (uhuk-uhuk, pssttt….jangan kasih tahu suami saya ya! :p), serta Rahmania Violeta Corleone sang guru kecil yang menakjubkan.

Sampai di situ semua masih sempurna kan? Sayangnya kesempurnaan itu mulai goyah ketika Vio berusia 5 bulan. Artinya H-30 saya harus mengenalkan makanan padat untuknya. Artinya, saya harus masuk dapur. Artinya saya harus bersahabat dengan ulekan, bercengkerama dengan kompor, mengakrabi penggorengan, dan berparfum bawang. Aihhh… dengan kata lain: Neraka!

Eits! Jangan dulu dibayangkan neraka dengan iblis berbentuk panci, ulekan, penggorengan, kompor, dan kawan-kawan ya. Ini sih neraka versi saya, neraka dapur. Dapur itu seolah membuka ‘luka lama’. Lagi-lagi ‘luka lama’ ini versi saya, bukan versi band Cokelat yang liriknya ada kalimat mengenangmu menyesakkan jiwa. Sedikit mirip, tapi ‘luka lama’ versi saya adalah dapur. Ironisnya, dua orang yang membuat saya antidapur adalah suami dan ibu saya sendiri (tapi tetap jangan dibayangkan suami saya kayak iblis di neraka pake bando panah, suer suami saya lucu hihi…).

Alkisah tiga bulan setelah menikah, kami pindah ke rumah baru. Kami bersemangat 45 seperti pahlawan yang semangat bergerilya, bedanya pahlawan pegang bambu runcing, saya sih pegang ulekan. Dipasanglah kompor gas di dapur. Percobaan perdana sangat mengesankan, dapur kami hangus sodara-sodara! Kompor gosong, api besar, dapur hangus membuat suami saya panik. Refleks dia menyiramkan air ke api yang tentu saja apinya tidak langsung mati malah menjilat-jilat. Pengalaman pertama dengan dapur benar-benar tak terlupakan, masakan kami berjudul dapur hangus. Biar sedikit romantis (cieee…) dapur hangus ini saya jadikan judul blog saya biar anak cucu saya nanti membacanya.

Lalu ibu saya membuat saya trauma dapur lebih awal. Ibu saya orangnya cermat, salah satunya tak boleh mengupas bawang sampai ke dagingnya. Sayang katanya! Bagi yang sudah terbiasa memisahkan bawang dari kulit arinya sih gampang saja, tapi bagi saya lain lagi. Itu bencana hiks hiks… Eits, bukan bermaksud membicarakan ibu saya, bukan itu! Saya ambil hikmahnya saja, di usia 22 bulan, Vio sudah bisa mengupas bawang putih tanpa cacat. Lumayanlah meringankan pekerjaan dapur saya heheh… (jangan dilaporkan ke Kak Seto ya, ini hanya memanfaatkan potensi anak. Tapi kalau ada agensi iklan yang mau meng-hire Vio jadi bintang iklan kupas bawang sih boleh aja hihihi…)

Duh, jadi ngelantur kan. Ya pokoknya dapur itu jadi neraka dunia buat saya. Oya, ditambah lagi saya agak geuleuh dengan makanan yang blenyek-blenyek seperti bubur bayi. Jadi kebayang kan kegalauan saya ketika Vio akan mulai MPASI. Sudah tak suka dapur, tak bisa masak, ditambah merinding melihat bubur bayi menjadi paduan yang sungguh tak menguntungkan buat saya dan Vio.

Tapi syukurlah Tuhan tidak memberi saya cobaan yang lebih berat karena segitu saja sudah seperti mengangkat bola dunia dengan jari kelingking. Saya menemukan metode baby led weaning (BLW) yang dipopulerkan oleh Gill Rapley dari hasil berselancar di dunia maya. BLW intinya skip tahap puree dan mengenalkan tekstur asli makanan ke bayi. Orang tua hanya perlu mengikuti petunjuk bayi (baby led) kapan dia mau makan, kapan dia mau berhenti makan. Aha… inilah yang cocok buat kami berdua. Setidaknya bagi saya ya, sempat sebulan dua bulan belajar dulu membuat makanan bayi. Lalu apa MPASI pertama Vio? Kentang kukus, itupun ibu saya yang mengukus hehehe… Saya dan Vio (serta suami saya yang imut tadi) merasa pas dengan metode ini dan memutuskan Vio MPASI dengan full BLW tanpa spoon feed sama sekali.

Ketika Vio semakin ‘ganas’ melahap makanan, saya mulai ketar-ketir. Dia sudah membutuhkan sesi ngemil finger food di sela-sela makanan utama. Saya galau lagi nih ceritanya (sering banget galau ya kalau dipikir-pikir jadi kayak ABG aja ). Pucuk dicinta ulam tiba, ibu saya memiliki multipan yang bisa menjalankan fungsi memanggang. Tanpa basa basi, saya rampok multipan ibu saya (ga modal mode on). Multipan itulah bekal pertama saya memasuki dunia yang tadinya seperti neraka, dunia masak memasak.

Finger food pertama untuk Vio adalah kue keju (yang di dunia persilatan dikenal dengan nama cheese bliss). Saya sengaja membuat kue keju ini waktu mertu berkunjung biar dibilang menantu idaman hehehe… Rasanya enak, renyah, gurih. Apakah Vio suka? Tentu saja! Tapi tetap saja, emaknya jauh lebih suka. Komposisinya ¼ buat Vio dan ¾ buat emaknya hehehe… Percobaan perdana yang sukses besar ini membuat saya ketagihan memasak dan baking-baking. Dapur menjadi surga bagi saya, tapi berubah jadi neraka bagi suami karena saya jadi gemar beli ini itu buat dapur (maaf ya Pak Suami, yang penting kan homemade ).

Singkat kata, saya mulai suka memasak dan mencoba resep. Ketika Vio 11 bulan, saya sudah cukup mumpuni mengolah bahan makanan. Yah, walaupun belum bisa disamakan dengan Chef Vindex, saya mau dan ikhlas disandingkan dengan Chef Juna (maunya hihihi…). Dari mana saya belajar memasak? Ya tentu saja dari mbah paling pandai sedunia dan jagat raya, Mbah Google. Untung ada Mbah Google, kalau tidak pasti kasihan ibu saya sehari lima kali menerima telpon dari saya untuk menanyakan hal-hal remeh seperti, “Bu, merica sama ketumbar bedanya apa?” atau “Bu, kunyit itu yang kuning bukan sih?”

Ya ya ya, itulah masa lalu saya. Masa sekarang sudah jauh berbeda. Perlahan tapi pasti (pasti maksa suami maksudnya), saya mulai punya peralatan dapur mutakhir seperti oven listrik, panci presto, double pan yang tersohor karena Happy Salma, sampai printilan kecil seperti loyang dan cookie cutter. Sekadar info aja sih, panci presto belum lunas juga. Rasanya nunggu panci presto lunas itu kayak nunggu tahun 2050, luamaaaa… (keliling ke rumah admin HHBF minta sumbangan buat bayar panci presto *dipentung Ibu Ping karena OOT*).

Lanjut ya, sekarang saya bisa masak macam-macam makanan. Kalau dulu cuma bisa ngukus kentang, sekarang saya bisa bikin baked potato yang endang bambang (maaf minjem nama Pak Bambang sebentar :p). Kalau dulu pinter banget beli muffin di bakery, sekarang dengan bangga saya siarkan ke seluruh dunia kalau saya bisa membuat muffin yang enak walaupun resepnya kira-kira saja (suerr ga bohong, nanti kalau menang saya bagi muffin ketan hitam satu-satu buat member HHBF hihi…).

Bahkan, kalau lagi kesambet setan dari Papua, saya bisa saja jam 11 malam koclok-koclok telur pakai whisker buat bikin brownies (ini superkode biar menang mixer maksudnya hahaha..). Kalau lagi kesambet setan dari Betawi, saya bisa tiba-tiba bikin nasi uduk jam 1 pagi. Lain lagi kalau kerasukan setan dari Bali, saya tiba-tiba saja bisa ungkep ayam jam 3 pagi. Wah, masa sih masak tergantung asal geografis setan? Tenang, sebentar lagi zona waktu digabung sama pemerintah jadi jam tidur setan Papua bakal sama dengan saya yang di Bandung (sssttt… udah liat pentung karena ngelantur nih!).

Makanan favorit keluarga kami sebenarnya sederhana. Seperti mobil Esemka, 90 persen lidah kami terbuat dari onderdil lokal hihihi… Jadi, sebagian besar menu Indonesia tercinta seperti sayur asem, sayur bening, rendang daging, opor, rawon lolos uji emisi oleh pencernaan kami. Sisanya 10 persen diimpor dari RRC (karena suka capcay), Italia (karena kadang-kadang pasta), dan Jepang (karena suka katsu-katsuan).

Jadi tulisan ini maksudnya apa sih? Nglantur ngalor ngidul ga jelas. Poin utamanya dan yang paling penting adalah. Kalau saya yang tadinya ga suka masak, alergi dapur, ga betah diam di rumah saja akhirnya bisa mengakrabi dapur, yang lain juga pasti bisa dong. Masalah rasa nomor sekianlah, masalah penampilan nomor sekian lagilah (susah mau menyesuaikan penampilan dengan Farah Quinn sih ya ), yang penting masakan yang kita sajikan di rumah makanan sehat, mengandung unsur yang lengkap. Kalaupun mau masak soto Bandung jadinya coto Makasar pun ga pa pa, yang penting masih sama-sama soto (idih, ini sih saya aja kayaknya masak apa tapi rasanya apa).

Jelas sekali semangat saya biar Vio makan sehat membawa saya ke jalan yang benar untuk suka memasak. Aminnn… Saya yang tadinya ingin berkarir, stress kalau diam di rumah terus akhirnya memilih mengendurkan niat berkarir setelah tahu memasak sama menantangnya dengan bekerja kantoran. Serius, kali ini saya super duper serius. Masih terpatri jelas di ingatan saya bagiamana deg-degannya menanti cheese bliss matang itu sama dengan menanti kalimat, “Mau nggak kamu jadi istriku.” (uhuk-uhuk).

Saya menemukan sensasi kebahagiaan lain dengan memasak makanan rumahan untuk keluarga kecil saya. Kebahagiaan yang sederhana seperti berhasil membuat sambal ala Bu Rudy yang ngetop seantero jagat mengalahkan Miss Universe. Semakin lengkap kebahagiaan saya melihat suami lahap makan karena sambel bikinan saya (walaupun akhirnya sih bolak balik ke toilet, itu nggak termasuk klaim asuransi masakan saya :p). Semakin bahagia pula ketika melihat Vio penasaran dengan apa yang saya lakukan di dapur, sampai akhirnya saya delegasikan masalah mengupas bawang putih kepadanya.

Akhir-akhir ini malah saya punya hobi baru yang sensasinya membuat fly melebihi ekstasi. Bongkar-bongkar dokumen dan foto di HHBF, catat resep ini itu, browsing resep-resep bersama Mbah Google, serta main-main ke blog-blog memasak. Semuanya benar-benar membuat saya fly, semangat saya terbang untuk memasak. Ada satu buku khusus yang isinya resep-resep andalan saya, walaupun buku itu pada akhirnya lebih banyak diisi Vio dengan coretan-coretannya. Buku itu, blog saya, dan tulisan ini menjadi saksi bagaimana perjalanan saya belajar memasak. Saya persembahkan Dapur Hangus untuk Vio dan adik-adiknya nanti.

Lalu apa? Cukupkah hanya bahagia? Ya dicukup-cukupkan sajalah. Saya berbahagia menjadi chef keluarga.

Salam Homemade 😀

Homemade Healthy Baby Food, padahal Vio BLW, saya ga pernah bikin makanan bayi hehehe...

Homemade Healthy Baby Food, padahal Vio BLW, saya ga pernah bikin makanan bayi hehehe…

***
NB: Tadinya sih tulisan ini mau dibikin posting pertama di blog, tapi karena pengumuman lomba waktu itu mundur, jadi ga jadi deh, saya bikin lagi Mengapa Dapur Hangus yang lebih ringkas :D.

Advertisements
 
 

Tags: , ,

Menulis Bersama, Menorehkan Sejarah Bersama Warung Blogger

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

Saya suka sekali quote itu, tapi kadang pura-pura nggak suka biar suami saya nggak besar kepala :p *istri kompetitif*. Suami saya, lulusan Jurusan Pendidikan Sejarah, yang kemudian nyemplung menjadi wartawan lalu menggantungkan penghasilannya di ujung pena. Hidupnya seperti digambarkan dengan tepat oleh Pramoedya Ananta Toer, tentu saya iri.

Saya, mengantongi predikat sarjana Ilmu Komunikasi dari Jurusan Jurnalistik, mantan aktivis pers kampus lalu berakhir dengan menjadi ibu rumah tangga. Suatu tugas mulia, tapi saya yakin bapak dan ibu dosen saya tidak bangga. Yang membanggakan tentu ketika anak didik mereka berhasil menjadi jurnalis sukses, menjadi anchor di televisi, meraih penghargaan, dan karyanya banyak dipuji. Sekali lagi saya iri.

Saya iri. Suami dan teman-teman saya berhasil merangkai sejarah mereka sendiri dengan lantunan tuts keyboard mereka. Mereka menulis dan mereka menorehkan sejarah. Tapi ini bukan tentang saya dan rasa iri saya, ini tentang kita. Saya tak hendak mengukir sejarah sendiri, karenanya saya menulis postingan ini.

Alkisah suatu hari Komandan Blog Camp, Pakdhe Cholik melontarkan ide untuk membuat buku bersama Warung Blogger. Ada berbagai tema, mulai parenting, travel, olahraga, teknologi, sains, dan masih banyak lagi. Saya cuma numpang lewat aja karena kesibukan saya bermanja-manja dengan kardus dan lakban *prikitiew*. Dalam hati, “Saya saja tak sempat update blog, masa ikut-ikut proyek nulis buku?”

Tak dinyana Teh Nchie menawari saya menjadi Desk Officer (DO), penanggung jawab maksudnya *terlalu keren bahasanya, sampai rasa-rasanya terlalu berat buat saya*, untuk tema resep dan masakan. Saya menyetujui, tapi seperti biasa, saya sibuk dengan urusan *lagi-lagi* kardus dan lakban, dan Teh Nchie juga sibuk menjadi Dewi SEO *eh :p. Jadi, setelah satu setengah bulan berlalu, barulah woro-woro ini diposting. Sementara itu, tema-tema lain sudah akan jatuh deadline-nya akhir Mei ini.

Bingung? Sama saya juga bingung. Pas dibaca lagi kok ruwet begini sih? Hahaha… Baiklah mari kita bikin singkat. Warung Blogger punya proyek menulis buku dan saya jadi penanggung jawab untuk tema resep dan masakan. Pasrah aja walau nggak bisa masak, saya masih bisa eksis *loh, salah fokus*. Teman-teman boleh mengirimkan resep masakan, foto masakan, hasil wisata kuliner, dan segala jenis hal yang berhubungan dangan masak, dapur, resep, dan makanan. Boleh juga hasil reportase ala-ala koran gitu deh.

Syaratnya gampang saja, silahkan dibaca ketentuan berikut:

SYARAT UTAMA
Untuk syarat dari nulisbuku.com silahkan klik link di bawah ini : http://abdulcholik.com/2013/02/20/buku-karya-anggota-grup-warung-bloggerterms-conditions/

SYARAT TAMBAHAN (yang lebih banyak dari syarat utama :p)

1. Blogger dan harus jadi anggota WB (yang belom terdaftar bisa klik di sini untuk bergabung)
Nggak harus foodblogger, asal punya blog dan sudah member WB saja.
2. Gaya penulisan bebas dan sopan. Bahasanya tidak harus baku, asal enak dibaca aja dan tidak mengandung SARA, alay, atau temen-temennya alay *maksudnya bahasa autotext BBM*.
3. Boleh mengirimkan resep, review tempat makan, recipe card, tips memasak, cara mengatur dapur, interior dapur, chef favorit dkk. Yang perlu diperhatikan, semua harus karya sendiri, bukan copy paste, bukan comot di blog tetangga, bukan pula hasil menghapus watermark foto karya orang lain. Resep boleh hasil googling, tetapi harus diuji coba di dapur masing-masing.
4. Postingan boleh baru, tapi boleh juga yang sudah diposting di blog dengan modifikasi agar lebih menarik.
5. Boleh kirim lebih dari 1 karya.
6. Karya dikirim ke dapurhangus@gmail.com dengan subjek email Buku WB
7. Format pengiriman karya :
– Ketik di MS Words, A4, Time News Roman font 12, 1,5 spasi. Margin 3-3-3-3
Kirim dalam bentuk attachment, bukan di badan email
– Bila menggunakan foto, boleh diattacthment dengan maksimal ukuran 300KB
– DI badan email, tulis nama FB (untuk mengecek apakah sudah menjadi member WB atau belum), judul, biodata singkat (boleh dengan atau tanpa foto)
8. Deadline pengiriman karya 15 Juli 2013 pukul 23.59 WIB. Batas waktu pengiriman bisa diperpanjang sesuai kebutuhan.
9. Semua hasil penjualan buku ini nantinya untuk kegiatan sosial yang dikoordinasi oleh para admin dan member WB.
10. Karya yang masuk tidak dipungut biaya sepeserpun.

Jadi, mari kita menulis bersama, menorehkan sejarah kita bersama. Swit wiwwwwwwww *tumben serius :p*. Selamat menulis, kami tunggu kiriman karyanya :).

Salam hangat bau minyak bawang,

Ika Rahma
Chef Abal-abal

 
31 Comments

Posted by on May 27, 2013 in Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: , , ,

Duo Mantap Belajar Food Photography (1)

Tujuh tahun lalu, pertama kalinya saya belajar fotografi secara teori. Hasilnya? Nol! Saya malah ngantuk dan nyaris tertidur di ruang gelap. Foto saya blur semua, nggak ada satupun yang fokus, sebagian besar under exposure. Kalaupun saya akhirnya mendapat nilai B dalam mata kuliah Fotografi Jurnalistik, saya yakin itu karena belas kasihan dosen saya saja.
Dua tahun lalu, sayalah orang yang paling tidak setuju ketika suami saya memutuskan membeli kamera DSLR. Buat apa? Tanya saya ketika itu. Toh, untuk kebutuhan liputan, jauuuuhhh lebih praktis menggunakan kamera saku yang masing-masing dari kami sudah memilikinya. Saya bahkan memiliki 2 kamera saku sekaligus

Alhamdulillah 3 kamera saku digital kami sekarang sudah almarhum dengan berbagai penyakit. Ada yang zoomnya nggak mau balik, ada yang mati total nggak mau nyala sama sekali, dan ada yang mau nyala tapi baterainya cepet banget abis.

Oya, saya menikah dengan mas kawin seperangkat alat liputan, salah satunya ya kamera yang sudah wafat itu, makanya sedih kan sebenernya? Tapi saya nggak sedih kalau gantinya 40D atau bahkan 5D *dipelototin suami*.

•••
Beberapa bulan lalu, saya tak sengaja belajar memotret makanan. Tujuannya? Untuk dokumentasi blog yang mau saya bikin ini (Dapur Hangus). Saat itu saya harus kembali belajar dari nol tentang ISO, diafragma, fokus, komposisi, dan apperture. Malu sih sebenernya sama nilai B, tapi lebih malu lagi kalau nilai saya A hahaha…

Karena nggak mau terus-terusan malu, saya akhirnya beli buku Food Photography Made Easy karya Empat Rana. Pas mau beli buku aja sedikit cek cok sama suami karena dia percaya ilmu fotografi itu akan semakin mumpuni karena banyak latihan dan pengalaman, bukan teori. Pada kasus saya lebih efektif berteriak, “Yahhhh, kalau masih gelap diapain?” Hehehe…

Tapi saya (dan suami saya) akhirnya tak menyesal membeli buku ini. Tak hanya menjelaskan tentang fotografi makanan, tapi juga memuat contoh karya fotografi makanan yang ciamik dari para panulisnya, Dita, Arfi, Riana, dan Irra. Saya menjadi tercerahkan, cieeee…

Dari buku inilah pertama kali saya kembali belajar tentang segitiga exposure. Foto yang baik adalah gabungan yang tepat antara ISO, aperture, dan bukaan rana (shutter speed). Pusing? Samaaaa…

ISO atau International Standardization Organization adalah ukuran tinggi rendahnya sensitivitas sensor dalam kamera. Angka ISO seperti 100, 200, 400, 1600 dan sebagainya menunjukkan kepekaan terhadap cahaya. Semakin kecil angka, sensor kurang sensitif terhadap cahaya, dan semakin besar angka ISO, maka berlaku sebaliknya.

ISO besar membuat hasil foto menjadi grainy atau berbutir, sementara ISO kecil membuat foto menjadi lebih halus. Di halaman 16 dan 17 buku ini ditunjukkan perbedaan foto yang sama tetapi di ambil dengan ISO yang berbeda. Mau tau bedanya? Beli dong bukunya, dijamin langsung ngerti :p *bukan promosi berbayar*.

Bukaan diafragma atau aperture fungsinya untuk mengatur besar kecilnya cahaya yang masuk. Angka-angka bukaan diafragma biasa disebut f-stops, berupa angka seperti f/1.2, f/1.4, f/8, f/16, dan seterusnya. Semakin kecil f-stops, bukaan diafragma akan semakin besar sehingga cahaya yang masuk semakin banyak. Bukaan diafragma yang kecil juga membuat area ketajaman sempit sehingga background menjadi blur.

Segitiga eksposure ke-3 adalah shutter speed. Shutter speed adalah kecepatan bukaan sensor di kamera. Kecepatan ini ditandai dengan angka 1/1, 1/30, 1/500, 1/2000, dan sebagainya. Angka 1/2000 adalah contoh fast shutter speed, biasa digunakan untuk menangkap gerakan yang cepat seperti air yang dituang, lelehan sirup, atau kopi yang dituang dari teko. Pokoknya semua objek yang butuh “dibekukan”. Dalam fotografi umum, biasa digunakan untuk meng-capture pebalap Moto GP, misalnya.

Semakin besar angka di bawah 1 per (1/) maka kecepatan shutter semakin cepat. Semakin kecil angka di bawah satu per (1/), maka shutter speed semakin lambat. Penggunaan shutter speed yang lambat cenderung membuat gambar blur karena getaran atau shaking. Makanya, untuk shutter speed lambat disarankan memakai tripod atau remote kamera bila perlu.

Lebih lanjut tentang fotografi makanan dasar, komposisi, styling serta lighting bisa dibaca di buku setebal 144 halaman ini. Semua lengkap, walaupun terkadang agak susah dicerna bagi orang awam seperti saya. Saya harus berkali-kali membaca ulang agar mengerti, tapi memang saya tak rugi kan?

Bukunya top, covernya keren, penulisnya oke, tapi ada beberapa bagian yang bikin nggak sreg juga. Pertama, kata tip yang seharusnya tips. Karena sering banget diulang, jadi ganggu. Tip dan tips beda lho! Tip itu biasanya kita kasih ke roomboy atau petugas vallet parking. Nah, kalu tips biasanya digabungin sama trik. Tips penyajian, misalnya. Ya kan ya dong? Silahkan di cek di KBBI *sambil berdoa semoga saya ga salah*.

Oh ya, satu lagi yang menurut saya mengurangi keenjoyan menikmati foto-fota cantik di buku terbitan Elex Media Komputindo ini adalah lay out-nya kurang oke. Menurut saya pribadi loh ya tentunya :). Banyak area kosong yang sebenernya nggak perlu.

Beberapa tips ringan yang saya baru tahu dari buku ini adalah memotret makanan sebaiknya dilakukan segera setelah makanan matang. Untuk makanan sejenis capcay, lakukan pemotretan ketika setengah matang. Caranya, sisihkan semangkuk khusu buat difoto *noted!*.

Yang bikin saya wow sambil koprol adalah Mamin Ditut menjadikan Arwen dan Leia ‘asisten cilik’. Saya mana bisa seperti itu? Foto-foto yang masuk kategori tidak mencemari mata pasti dihasilkan ketika Vio tidur atau ketika ada pawangnya (baca: ayahnya). Foto kastengel yang menurut saya lumayan eye catching itu saya ambil ketika Vio main dengan anak tetangga di seputaran saya motret. Saya harus merelakan sepertiga objek foto saya menjadi cemilan mereka hihihi… *pasrah*

•••
Sekarang, apa saya bisa membedakan ISO, aperture, dan shutter speed? Masih juga belum bisa :(. Setiap mau motret, saya pasti baca buku ini dulu :).

“Tidak ada yang lebih cantik atau lebih tidak cantik, salah ataupun benar. Kami hanya bisa bilang, just shoot and have fun. Style happens.”

-Food Photography Made Easy, halaman 8-

Identitas buku
Judul : Food Photography Made Easy
Penulis: Empat Rana (Dita Wistarini, Arfi Binsted, Riana Ambarsari, Irra Fachriyanthi).
Tebal: 144+viii halaman
Penerbit: PT Elex Media Komputindo

 
26 Comments

Posted by on October 11, 2012 in Resensi Buku

 

Tags: , ,

 
%d bloggers like this: