RSS

Category Archives: Kisah di Balik Rasa

Cerita, kisah menarik serta inspiratif tentang makanan. Enjoy!

Momofuku Ando dan Mie Goreng Jawa

Momofuku Ando dan Mie Goreng Jawa

Kata suami saya, kalau nanti dia ke luar negeri, yang bakal dikangenin adalah Indomie. Beuuuuhhh… bukannya kangen istri malah kangen Indomie. Kalau di negara-nya nggak ada Indomie, dia bakal nyari tiket promo dan terbang ke Belanda cuma buat beli Indomie. Percayalah, dia korban iklan hehehe…

Di Indonesia memang Indomie ibarat nama lain mie instan, tapi tahukah saudara-saudara sebangsa dan se-tanah air bahwa merk mie instan pertama adalah Nissin. Hayoooo…pasti ada yang belum pernah makan mie Nissin kan? Kalau saya lebih suka Nissin karena bumbunya lebih sedap dan mie-nya lebih kenyal tapi mengenyangkan. Aslinya sih, saya suka Nissin setelah tahu kalau Nissinlah pelopor mie instan di dunia. Jadi, kalau suami saya korban iklan, saya korban ensiklopedia penemu hahaha…

Untung saja Nissin lebih kecil dan sedikit lebih mahal *beda 100 perak sih, tapi kan duit juga hahha…*. Nissin juga susah ditemukan di warung-warung kecil. Harus melipir ke PVJ kalau mau beli Nissin, euuhhh parkirnya juga susah :p.

Adalah Momofuku Ando, orang pertama yang menemukan mie instan. Pria Jepang kelahiran Chiayi, Taiwan, 5 Maret 1910 ini terinspirasi menciptakan mie yang cepat dimasak karena melihat antrian di sebuah kedai mie. Pada 1948, Momofoku Ando mendirikan perusahaan bernama Chukososha yang awalnya bergerak dalam pembuatan garam. Pada prosesnya, perusahaan itu kemudian berubah menjadi Nissin Foods bertempat di Ikeda, Prefektur Osaka, Jepang.

Pada 1957, ketika itu ia berusia 47 tahun, Ando mulai uji coba membuat mie yang cepat disajikan di halaman rumahnya. Ia juga ingin mie buatannya praktis dan tahan lama. Bumbu dan kaldu sudah dicampurnya ke dalam mie (tidak seperti sekarang yang dalam bungkus terpisah) hingga orang tidak perlu repot mencampur bumbu sendiri.

Setelah berhasil membuat mi berbumbu seperti keinginannya, Ando tak puas mencari teknik mengeringkan mi melalui berbagai uji coba-coba, namun semuanya gagal. Keluarganya sudah bangkrut karena Ando harus membayar hutang dari koperasi simpan pinjam yang dikelolanya.

Ia kemudian terilhami oleh istrinya yang menggoreng tempura lalu mucul ide untuk mengeringkan mie dengan cara digoreng. Tak disangka, hasil eksperimennya ludes tak bersisa ketika Ando mencoba menjualnya di sebuah toko serba ada.

Tahun berikutnya, tepatnya 25 Agustus 1958, Ando meluncurkan produk mie instan yang disebutnya Chicken Ramen dengan kuah kaldu ayam. Mie hanya perlu diletakkan di dalam mangkuk dan disiram air panas sebelum dapat dimakan. Karena masih jarang, Chicken Ramen dijual dengan harga relatif mahal. Namun karena kepraktisannya, makanan ini cepat populer dan Nissin Shokuhin Kabushikigaisha pun maju pesat hingga mulai masuk lantai bursa pada 1963, hanya lima tahun sejak pertama kali berdiri.

Ando, yang telah merasakan asam garam dunia bisnis, tak puas begitu saja. Pada 1966 ia berkeliling Eropa lalu terinspirasi kemudian meluncurkan produk noddle cup. Kalau di Indonesia namanya Pop Mie hihihi… “Kamu berhasil,” begitulah kata Pop Mie *korban iklan yang lain*. Pada 2005, Ando masih juga berinovasi dengan Space Ramen, mie instan yang bsia dibawa ke luar angkasa untuk bekal para astronot.

Momofuku Ando meninggal pada 5 Januari 2007, di mana saat itu saya mulai membaca kisahnya dan mulai menyukai Nissin ketimbang Indomie. The New York Times edisi 9 Januari 2007 memuat tajuk rencana berjudul Appreciations Mr. Noodle yang berisi pujian atas penemuannya, “Mie instan telah meletakkan Ando di tempat yang abadi dalam sejarah kemajuan umat manusia.”

Coba bayangkan, dunia tanpa Momofuku Ando, tak akan ada korban iklan seperti suami saya hahaha…

“Dunia damai kalau semua orang cukup makan”,
“Makan yang benar membuatmu cantik dan sehat”
“Produksi makanan adalah melayani rakyat”

Itulah tiga prinsip yang menjadi nafas hidup Nissin.

Jadi, masihkah Anda menganggap mie instan adalah musuh, racun, sumber masalah. Saya tidak, saya belajar dari Momofuku Ando untuk dua kata, “Pantang Menyerah!”

***

Dor, serius banget yaaaa! Katanya di Jepang ada Cupnoddles Museum di Minato Mirai, Yokohama. Museum tersebut terdiri dari 5 lantai. Di lantai empat terdapat Noodles Bazaar dan Cupnoodles Park. Noodles Bazzar menjual 8 menu mie instant dari 8 negara : mie goreng (Indonesia), pasta (Italia), lagman (Kazakhstan), lanzhou beef (China), cold ramen/ramyun (Korea), Pho (Vietnam), Tom Yum Goong Noodles (Thailand), dan Laksa (Malaysia).

Ssssttt… Mie goreng dari Indonesia, yayyyy!!! Jadi, mari kita bikin mie goreng. Yaelah udah muter-muter sampe ke Jepang ternyata cuma mau bikin mie goreng? Gawats, Bang Rhoma bakal bilang, “Sungguh ter-la-lu!” :p

MIE GORENG JAWA (boleh milih Jawa mana aja, dibikin di Jawa Barat, oleh orang Jawa Timur, tapi terinspirasi dari mie nyemek Gunung Kidul. Nah loh, bingung kan?)

mie goreng Dapur Hangus

Bahan:
1 bungkus mie telor 200 gram (saya pakai yang bintang iklannya Inul Daratista, lupa merknya :p). Rebus mie sampai aldente, jangan lupa kasih minyak biar nggak nempel satu sama lain. Rebus mie-nya jangan terlalu lembek ya, karena nanti juga masih ada sedikit proses merebus.
1 kotak kaldu ayam buatan Chef Abal-abal ciyeehhhh… bisa bikin kaldu juga ternyata (kalau ditanya sekotak itu seberapa, saya nggak tau ya, resepnya nanti menyusul sip :D)
1 butir telur
2 sdm minyak untuk menumis
2 sdm kecap manis

Bumbu halus
3 siung bawang merah
1 siung bawang putih
1/2 sdt bawang putih goreng
sejumput ebi sangrai
1 biji kemiri sangrai
Garam, gula, merica secukupnya

Pelengkap
Potongan cabe
Irisan seledri dan bawang daun (cuma ada bawang daun)
Bawang goreng (lagi ga punya, jadi ga pake)

Cara membuat
1. Tumis bumbu halus sampai wangi, kecilkan api lalu agak sisihkan bumbu, masukkan telur lalu orak arik sampai setengah matang.
2. Masukkan kaldu ayam, tunggu sampai mencair. Masukkan mie telor yang telah direbus dan ditiriskan. Tambahkan kecap manis lalu aduk merata.
3. Besarkan api, lalu tutup wajan. Ini hasil pengamatan di warung mie Jawa gitu ya, pasti akan ada sesi memasak yang ditutup gitu kan? Ternyata ini pengaruh ke rasa loh. Saya mah kan bukan chef ya, cuma merasakan aja bedanya kalau api kecil dan api besar itu bakal pengaruh ke aroma dan rasa. Kalau di warung Mie Jawa kan pake arang ya, jadi ngegedein apinya pake dikipas-kipas. Dulunya saya bingung kenapa pas dikipas wajannya harus ditutup? Saya pikir awalnya biar nggak kenal abu dari arang *polos* ternyata ya biar ada sensasi agak gosong khas mie jawa gitulah *sok tau*.
4. Ditutup sekitar 3 menit saja sampai kaldu terserap sempurna. Buka tutup lalu kecilkan api dan aduk kembali. Purulukkan (artinya adalah emmmm taburi kayaknya ya) irisan bawang daun dan seledri, aduk kembali. Mie goreng Jawa ala saya siap dinikmati dengan irisan cabe dan bawang goreng.

Cabe iris boleh ditambahkan ketika mie masih di masak, bareng sama numis bumbu. Tapi, berhubung saya bikin sekalian buat Vio, jadi pedesnya belakangan aja yaaa… Rasa pedesnya memang nggak terlalu nendang kayak kalau dimasak bareng, tapi demi penghematan energi dan secepat mungkin ngacir dari dapur, saya rela masakan saya pedesnya nggak nendang eheheh… Kalau menurut saya, ini enak. Kalau dibandingkan Indomie, ya pasti beda aliran ya, Indomie jauh lebih gurih. Tapiiii, kalau bikin kaldunya dari ceker, asli aromanya akan sangat mirip. Saya biasanya bikin kaldu dari tulang ayam sisa fillet.

Silahkan dicoba resepnya di rumah masing-masing, jangan sampai nyobain resep mudah ini di rumah tetangga, apalagi di rumah Pak SBY. Bisa-bisa ditangkap Paspampres, yukkk…

SUMBER
1. Ciputraentrepreneurship
2. Kompasiana

Advertisements
 
22 Comments

Posted by on November 18, 2012 in Kisah di Balik Rasa, Resep

 

Tags: , , , , , , ,

Rahasia Roti Kim Tak Gu

Sejak membaca Madre-nya Dewi “Dee” Lestari, saya baru tahu kalau ragi roti itu bisa dibuat sendiri dan bisa bertahan lama. Tansen, lelaki asal Bali yang menjadi tokoh utama dalam Madre, pun tak pernah tahu sebelumnya. Ia hanya menerima sebuah kunci untuk membuka lemari penyimpanan Madre dari orang yang tak pernah dikenalnya.

Hidup Tansen berubah dalam sehari karena Madre, yang dalam bahasa Spanyol artinya IBU. Sejatinya Madre adalah adonan biang untuk membuat roti yang diberi makan tepung dan air sehingga bisa “melahirkan” roti-roti lain. Dari seorang anak pantai Bali, Tansen berubah menjadi tukang roti, menghidupkan kembali toko roti yang telah tidur panjang selama 5 tahun.

Saya tak hendak bercerita tentang Madre, namun tentang sebuah buku lain yang berhasil memikat hati saya. Selain langsung mengingatkan saya pada Madre, saya tertarik dengan buku ini karena Kim Tak Gu, seorang tokoh utama dalam drama Korea Bread, Love, and Dreams (Baker Kim Tak Gu). Kalimat pembuka di sampul belakang buku ini mendorong saya untuk pergi ke kasir dan membayar sebesar 45 ribu.

“Roti yang difermentasi alami sangat populer di Korea Selatan sejak drama “Bread, Love, and Dreams (Kim Tak Gu)”, memperkenalkan metode alami dalam membuat roti,” begitulah kalimat yang membuat saya terpikat.

Lagi-lagi, saya tak hendak bercerita tentang Kim Tak Gu. Menurut saya, drama itu adalah Tersanjung versi Korea yang mbulet dan ruwet. Dua kali diputar di televisi, saya hanya menonton sampai adegan ketika Tak Gu kecil dikejar-kejar karena mencuri roti. Alasan lain, tentu saja pemainnya kurang ganteng hahaha…

Buku ini berjudul Rahasia Membuat Roti Sehat dan Lezat dengan Ragi Alami, ditulis oleh seorang baker sekaligus spesialis fermentasi termuda di Korea, Sangjin Ko. Sang penulis memiliki sertifikat The National Certificate of Baking dari Pemerintah Korea. Wow! Mungkin dialah Kim Tak Gu di dunia nyata *halah*, sayang lagi-lagi ga seganteng Bae Yong Joon hahaha…

Setelah sampai di rumah, saya tak menyesal membeli buku ini. Pertanyaan saya tentang bagaimana membuat Madre terjawab sudah dengan lengkap dan mendetail di halaman 15 dan 16. Yang terpenting, semua bisa kita buat sendiri di rumah. Keren! Inilah buku yang saya cari. Walaupun pada praktiknya (praktik ya bukan praktek :p), mungkin saya akan mencoba membuat ragi sendiri satu atau sepuluh tahun lagi tergantung perginya rasa malas. Eaaaa… *butuh dipecut*.

Ragi alami bisa terbuat dari buah kering maupun buah segar. Hampir semua buah, sayur, dan bahkan bunga yang bisa dimakan bisa menghasilkan ragi. Mulai dari apel, manggis, jambu biji, tape, kurma, pisang, stroberi, jeruk, tomat, anggur sampai kismis, wortel, dan ubi bisa menghasilkan ragi alami. Selain rotinya lebih enak dan beraroma, menggunakan ragi alami tentu saja memiliki efek samping yang tak terbeli, lebih sehat!

Roti dari ragi alami tentu lebih mudah dicerna serta teksturnya lebih empuk. Di samping itu, roti lebih kaya rasa dan aroma dari buah atau sayur asal raginya. Bonusnya, roti justru tahan lebih tahan lama dibandingkan roti dengan ragi buatan. Umur simpan roti dengan ragi alami panjang meskipun tanpa pengawet karena berbagai mikroorganisme hasil fermentasi akan meningkatkan keasaman dan menghasilkan senyawa antibakteri pada adonan roti (halaman 7).

Yuuk, saya kutip salah satu saja cara membuat ragi alami ya, yaitu ragi dari pisang (halaman 23).

Alat dan bahan (berasa di lab aja)
100 gram pisang, sebaiknya gunakan
250 ml air
1-2 sdt madu atau gula organik
Toples steril ukuran 500ml

Cara membuat:
1. Potong pisang kecil-kecil, masukkan semua bahan dalam toples yang sudah dicuci dan disteril. Proses cuci-steril ini dijelaskan di halaman 12. Cuci toples dengan sabun dan air tetapi jangan menggunakan spons karena seperti spons terdapat banyak bakteri yang nantinya akan berpengaruh terhadap proses fermentasi. Rebus toples kaca dan tutupnya sampai terendam air dan tunggu sampai air mendidih lalu tutup panci selama 5 menit. Angkat toples dan tutupnya, lalu keringkan.

2. Aduk perlahan bahan yang sudah dimasukkan ke dalam toples. Lakukan ulang setiap sehari sekali. Jangan aduk lagi setelah proses fermentasi terjadi.

3. Fermentasikan selama 4-6 hari pada suhu ruang, sekitar 25-27 derajat celcius. Masukkan toples di kotak styrofoam agar suhunya lebih stabil. Ragi pisang telah siap jika semua potongan pisang mengapung dengan banyak gelembung udara. Simpan di kulkas, dapat bertahan selama 2 minggu. Jangan gunakan ragi jika rasanya terlalu asam dan baunya tidak enak.

4. Saring dan ambil cairan ragi.

5. Dapat dibuat ragi lagi dengan menggunakan 1% ragi pisang yang sudah jadi.

Ternyata cukup sederhana kan bikin ragi alami. Modalnya cuma buah 100 gram, air, dan sesendok gula/madu tentunya disertai tekad yang kuat dan niat yang lurus *ini yang susah hhehehe…*. Jadi, kalau mau belajar, ya beli dulu bukunya, lebih lengkap-kap-kap *bukan promosi walaupun pengennya sih dibayar*.

Selain cara membuat ragi alami dari berbagai buah lokal Indonesia, Sangjin Ko juga berbagi 31 resep roti antigagal yang telah diuji coba. Ada juga cara membuat adonan biang dan sourdough, semacam pengembang alami. Sampai sini saya malah bingung jadi Madre yang dimaksud Dee itu sourdough ini atau ragi biang. Dan tampaknya, saya akan mengajak teman-teman semua bingung juga biar mau baca bukunya hahaha…

Secara keseluruhan, buku ini bagus, recomended. Hanya saja, tak ada gading yang tak retak. Meski di awal menjelaskan jika ragi alami bisa dibuat dari bunga dan sayur, tak ada sama sekali contoh ragi sayuran, apalagi cara membuatnya. Untuk 45 ribu, saya kira buku ini layak dimiliki.

Akhir kata, ternyata saya bisa juga bikin resensi buku makanan *ngaca sambil sisiran* :p.

 
41 Comments

Posted by on September 5, 2012 in Kisah di Balik Rasa

 

Pre Order Sendok Garpu Kayu

Apa kabra teman-teman? Saya masih mudik nih, jadi belum bisa (belum pengen) update blog ^^ hehehe…

Suatu hari, saya jalan-jalan sama Vio dan nemu toko yang jual alat-alat dari kayu, mulai garukan punggung, mangkok dari batok kelapa, talenan, sampai alat buat kerokan. Mana yang menarik hati? Tentu saja alat buat kerokan *eh*.

Bukan dong! Yang menarik hati adalah rupa-rupa sendok dari kayu. Selain bentuknya yang lucu-lucu, harganya juga bersahabat di kantong. Udah lama sih pengen sendok begini buat selai atau sekadar buat properti biar foto-foto di Dapur Hangus jadi keceh.

Apalagi, harganya masih jauuuuhhh lebih murah dari barang Daiso. Kalau beli di Daiso dapet satu biji, di situ dapet 2 biji plus kembalian 3 ribu. Murah kan? Akhirnya saya memutuskan buka PO saja setelah pamer ke Mak Jule alias Julia Wingantini.

Yang bikin seneng, selain warna coklat muda, ada juga warna coklat tua dan bahkan hitam. Yang item ini asli lucu banget, ga nemu deh di Daiso :p. Kata penjualnya, khusus yang item, dibikin dari kayu sono sementara yang coklat dari kayu sawo. Jadi, warnanya alami warna kayunya. Insya Allah warnanya awet karena dalam proses pembuatannya ada perebusan. Bapak-bapak yang jual nunjukin sendoknya yang lagi dipake makan (serius si Bapak lagi makan siang), udah dipake beberapa bulan, warnanya awet. Saya sih ngangguk-ngangguk aja sambil mikir minta diskon hahaha…

Kalau ada yang nanya bisa dipake buat makan atau nggak, saya bilang bisa. Tapi, kalau nggak biasa ya nggak enak sih, agak ketebelan. Jadi saya menyarankan peruntukannya untuk sendok selai, sambel, atau ya itu tadi buat properti foto-foto makanan biar foto makin okeh saja.

Oya, ada berbagai ukuran. Ada yang segede sendok makan, ada juga yang segede sendok teh. Ada yang lebih kecil dari sendok teh, ada juga yang sedikit lebih besar dari sendok makan (tapi bukan ukuran centong ya).

Selain itu, ada berbagai bentuk. Ada yang tangkainya berlekuk-lekuk, ada juga yang tangkainya lurus. Ada semacam spoon rest (sendok juga, tapi fungsinya lebih ke tempat sendok di meja makan biar nggak bersentuhan langsung sama meja), ada garpu buah yang giginya cuma 2, ada pisau selai yang tipis dan aman buat anak-anak karena nggak tajem, juga garpu dan sendok yang sepasang.

Pertama, saya jual per paket, isinya 10 biji yaaaaa. Dari 10 biji itu, bisa campur-campur sendok garpu berbagai model dan berbagai warna yang sudah disebutkan di atas. Harganya? 90 ribu (belum termasuk ongkos kirim). Alhamdulillah saya berhasil nawar dengan mengancam bapak penjual. Mengancam saya minta sendok yang lagi dia pake makan siang hahaha… Sudah murah, bikinan dalam negeri pula :D.

Paket 1 : campur berbagai macam sendok garpu (termasuk sendok garpu yang sepasang), spoon rest, pisau selai, garpu buah. Paket ini jadi favorit karena bisa ganti-ganti kalau mau foto makanan.

Paket 2: 5 pasang sendok garpu yang seragam (ukuran sendok teh). Jadi ada 5 sendok dan 5 garpu.

Pre order dibuka 29 Agustus 2012 dan ditutup 5 September 2012 (seminggu). Transfer dilakukan sebelum tutup PO ya. Saya membatasi cuma 20 paket karena takut kebanyakan dan berat bawa ke Bandung, sampai saat ini tersisa 5 paket karena sebelumnya udah buka PO di Facebook. Pengiriman dilakukan 1 minggu setelah tutup PO. Jangan ketinggalan yaaaa… ^^

NB: Barang yang dibeli tidak bisa ditukar apalagi dikembalikan. Jenis serta bentuk sendok garpu sesuai ketersediaan. Saya mengusahakan dalam satu paket nggak akan ada yang sama. Bila satu orang membeli dua paket, saya usahakan semua berbeda (jika memilih paket 1).

Please contact me at dapurhangus@gmail.com, private message via Facebook atau DM/mention di twitter @ikarahmavioleta.

 
15 Comments

Posted by on August 30, 2012 in Kisah di Balik Rasa

 

Cordon Bleu KW 10

Waktu jadi panitia ospek jurusan beberapa tahun lalu, chicken cordon bleu sempet jadi polemik. Cieeee…bahasannya agak serius mengingat panitia di angkatan saya menyediakan konsumsi yang namanya aja tampak mahal, apalagi harganya. Apalagi waktu itu kan masih jadi mahasiswa, jadi 13 ribu jaman itu muahalll banget!

Bagi kantong saya, 13 ribu bisa buat seharian makan. Karena saya dari kota kecil di Jawa Timur, tinggal di kampung pula, ga ngerti apa sih yang disebut-sebut cordon bleu itu. Ya detik itu rame ngomongin chicken cordon bleu ya sudah pastilah saya belum pernah makan.

Setelah nyobain cordon bleu pertama kali, saya hepi banget walaupun kecewa juga ternyata ‘cuma begitu’ hihihi… Kesimpulan saya sih, daging ditipisin, dikasih keju dan daging asap, lalu dibungkus breadcrumb alias tepung roti. Gampang kalau mau bikin sendiri, cuma ya saya nggak pernah kepikiran mau bikin juga sih hehehe…

Ternyata eh ternyata, suatu hari di bulan Januari, saya harus mengosongkan freezer karena bunga es-nya udah nggak nahan. Pintu freezer ga bisa ditutup rapat karena bunga es. Jadilah dua potong fillet dada ayam saya eksekusi. Saya cuma mengandalkan feeling aja, mungkin daging ayam dipadu keju leleh akan sangat lezat.

Jadilah saat itu saya bikin ini, sebelum matang, saya nggak kepikiran namanya apa hehehe…

Bahan:
2 potong fillet dada ayam (masing-masing sekitar 150-200 gram) 2 slice keju
2 slice daging asap (saya nggak pake karena memang gak pernah beli daging asap) 1 butir putih telur (kocok dengan garam dan merica secukupnya) 100 gram tepung roti
2 sdm tepung terigu/kanji

Bumbu fillet ayam (aduk rata)
1 siung bawang putih ukuran agak besar
1/2 sdt lada hitam
Gula, garam, merica secukupnya (saya pake gula garam 1 sdt, merica 1/2 sdt, bisa ditambahkan sesuai selera)

Cara membuatnya cukup mudah. Cuma perlu kesabaran ekstra plus perut kosong aja biar semangat hihihih… Berdasarkan pengalaman saya, memasak ketika perut kosong itu biasanya lebih semangat lho! Bener kan? Nanti ketika masakan mateng, malah udah kenyang hahaha..

Belah horisontal fillet ayam, namun jangan sampai terputus. Sisakan sedikit daging untuk menahan keju slice tetap di tempat nantinya. Setelah itu, tipiskan dengan alat pemukul daging (bahasa kerennya sih meat tenderizer hehehe… ). Saya nggak punya, jadi saya pake ulekan aja. Pokoknya sih manfaatkan semua peralatan yang ada, jangan sampai ulekan disalahgunakan untuk nyambit tetangga yang kepo atau anak tetangga yang jorok *yukkk curhat :p*

Setelah tipis dan agak melebar, bumbui ayam dengan bumbu, diamkan di lemari es setidaknya satu jam. Tujuannya? Biar makin lapar jadi nanti makan jadi makin semangat hahahah…. Ya enggak dong, konon suhu yang dingin membuat bumbu meresap lebih cepat. Ga percaya? Silahkan google yak :p, daripada saya dibilang kebohongan publik wek!

Setelah bumbu meresap, masukkan keju dan daging asap di antara daging yang tadi sudah dibelah. Baluri fillet dengan tepung terigu/kanji agar kesat lalu cemplungkan ke kocokan putih telur. Gulingkan ke tepung roti lalu diamkan 30 menit di kulkas. Goreng sampai kecoklatan dengan minyak panas dan api kecil.

Oya, saya sajikan dengan saus abal-abal ala saya sendiri. Bahannya 1 siung bawang putih, 150 ml kaldu ayam (saya buat sendiri, biasanya stok), 1/2 siung bawang bombai ukuran kecil. Geprek bawang putih, iris kecil memanjang bombai lalu tumis dengan minyak secukupnya. Setelah wangi, tuang kaldu lalu bumbui dengan sedikit garam (karena kaldunya sudah saya kasih garam), oregano, lada hitam, kecap (1 sdm), dan sedikit gula (bisa pakai gula merah dan skip kecap). Agar agak kental, saya tambah maizena 1 sdm yang dilarutkan ke sdm air. Masukkan maizena perlahan ketika kaldu ayam mulai meletup-letup. Aduk rata, dan jadi deh.

Saya baru kepikiran ternyata penampakan ayam olahan tadi mirip cordon bleu tanpa daging asap, jadi saya namakan saja cordon bleu KW 10 hahaha… Rasanya enakkkkk… Sambil makan saya memuji diri sendiri gitu bisa bikin cordon bleu *plak!*

Oya, ini bisa juga dipanggang. Saya kan bikin 2 potong, satunya digoreng dan satu lagi dipanggang. Waktu itu belum baca posting Otty The Urban Mama tentang cordon bleu panggang ini, jadi setelah dipanggang, saya goreng lagi *hiyaaaa cupu abis dan ga hemat energi*. Nanti di link-in ke postingan Otty kalau udah OL di PC ya teman-teman. Selamat mencoba ^^

 
14 Comments

Posted by on August 26, 2012 in Kisah di Balik Rasa

 

Nice quotes today ^^

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2012 in Kisah di Balik Rasa

 

Roast Chicken ala Lei yang Terkenal

Roast Chicken ala Lei yang Terkenal

Judulnya ehem, ga banget ya. Biarin ajah, yang penting makanannya enak. Ceritanya Lei abis private blognya karena ada hal yang penting *sok misterius*. Tapi ternyata ayam panggang ala Lei yang spektakuler ini masih sering ditanyain sama penggemar Lei *uhuk-uhuk*. Jadi mojang Cimohay bernama lengkap Lady Fitriana ini berharap resepnya bisa di-reblog sama Dapur Hangus biar ga pake ngetik-ngetik lagi kalau ada yang nanya. Tinggal kasih link, beres deh!

Nah, ini di-copy paste begitu saja dari postingan Lei, kalau ada yang mau nanya, silahkan meluncur ke twitter beliau @ladyfitriana.

***

Walau terdengar keren dan susah (ah kata siapa? mnrt lo aja kali lei?? haha..) bikin ayam panggang yang super lezat itu ternyata sama sekali ga ribet. Beneran! Lbh repot bikin ketupat opor ayam deh, suwer!

 

 

Ini resep andalan yang saking sering dibikin dan sudah melewati berbagai fase trial n (ga terlalu) error yang akhirnya gw nemu modifikasi dan menyederhanakan resep asli ke langkah2 yg gampang cepat dan hemat. Inspirasinya dari resep berjudul Roast Chicken with Lemon and Rosemary Roast Potatoes, gw nyontek dari buku yayang gw si Jamie Oliver yang Jamie’s Dinners (gw ya otty n eryka, yayang gw ituuu!)

Hasil modif ini Insya Allah ga mengurangi tingkat kelezatannya ko, yg jelas jd
simpel tp ttp enak bgt. optimal! (sok gaya banget deh ah..)

Yuk mari kita coba..
1 ekor ayam utuh cuci yang bersih luar dan dalam, keluarkan semua jeroan sampai benar2 bersih lalu selusur bagian bawah kulit dada dan paha ayam dengan jari tangan agar daging dan kulit tidak menempel. tiriskan. makin kering ayamnya, makin crispy hasil panggangannya.

dry rub:
1 sdm sangat munjung garam
1 sdm black pepper
1 sdm garlic powder
1 sdt dry rosemary (bs juga ga dipake, tp ngaruh bangeett kl ada)

campur smua bumbu di mangkok kecil dan aduk rata

ambil ayam dan lumuri dengan dry rub, seluruh permukaan luar, bawah kulit dan di dalam perut ayam. biarkan di kulkas overnight or at least setengah hari agar bumbu meresap.

sekitar 3 jam menuju jam makan, siapkan side dish berupa:
kentang, cuci dan kupas, potong wedges
wortel, cuci dan kupas, potong dgn ketebalan kurleb ky kentang
bawang bombay, kupas, potong wedges
lumuri sayuran dengan minyak sayur/olive oil, taburi sedikit garam, merica dan thyme (kalo ada/mau)

keluarkan ayam dari kulkas

susun sayur2 pada bagian dasar loyang/pyrex/roasting pan taruh rak kawat di tengah loyang (diatas sayuran) dan simpan ayam di atasnya. kucuri ayam dengan sedikit minyak

panggang selama kurang lebih 2 jam

setelah matang dan kulit ayam crispy, keluarkan dr oven dan diamkan dulu sekitar 10 menit.

bagi 4 bagian dan siap dinikmati bersama side dish, saos sambal dan mayo :9

side dish versi dipanggang dengan ditutup alufoil, sayuran dan daging ayam enak, juicy dan empuk tapi kulit ayamnya kurang kering..

 

hohoho..gampang banget kan?? cocok bgt buat yang pgn praktis, hemat dan ttp pgn makan enak kaya gw begini. bikin utk menjamu lunch/dinner juga oke bgt karena oven bekerja jauh lebih keras daripada tuan rumah. stress free banget, minim cucian dan prep-nya simpel. yang penting diperhatikan adalah timing dan seasoning aja yang pas. hemat karena walau kompor nyala 2 jam, masaknya udh lengkap smua dan dalam 1 atau dish saja.

oya! ucil pun ikutan doong makan ini, dan dia suka bgt! biasanya gw buatin di wadah alu terpisah, tanpa/sedikit bgt garam. daging bagian paha lbh enak dan empuk buat ucil

jatah ucil :9

 

this is what i call frugalicious :D ahahaha…

 
20 Comments

Posted by on June 30, 2012 in Kisah di Balik Rasa

 

Tags: , , , , ,

Sambal, Kekayaan Kuliner Indonesia

Sambal, Kekayaan Kuliner Indonesia

Ayam goreng tak lengkap rasanya tanpa sambal terasi. Ikan asin tak lagi sedap tanpa sambal dadak dan lalapan. Krupuk pun tak nikmat tanpa sambal pecel. Ikan bakar lebih lezat dengan sambal dabu-dabu. Colek tahu dengan sambal petis, rasanya mantap! Masih ada sambal pencit, sambal kenari, sambal bajak, sambal bawang, sambal embe, sambal parado, sambal lado mudo, sambal arang tampurung, sambal jalapeno, dan segala jenis sambal lain. Lihatlah dari sambal saja, kita menyadari betapa besarnya kekayaan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia memang tak bisa makan tanpa sambal. Tak peduli tua atau muda, miskin maupun kaya, di kota maupun di desa semua suka sambal. Rasanya tak cukup satu atau dua hari membahas tentang sambal khas Nusantara. Mungkin ada ratusan bahkan ribuan jenis sambal asli Indonesia.Masing-masing punya ciri khas tersendiri dan sensasi rasa yang berbeda. Beberapa sangat unik, baik dalam proses pembuatan maupun dari bahan-bahan dasarnya.

Sambal tumpang misalnya. Sambal khas Jawa Timur ini dibuat dari tempe busuk. Tempe busuk? Ya, tempe bosok alias tembe busuk. Tempe yang telah didiamkan beberapa hari sehingga mengalami fermentasi lanjutan hingga menjadi “busuk” inilah bahan dasar sambal tumpang. Yang mengherankan, rasanya luar biasa enak.  Hebat ya orang Indonesia, tempe busuk pun bisa jadi makanan enak.

Saking enaknya, seorang tetangga yang berangkat ke Eropa sampai-sampai rela membawa kuali berisi sambal tumpang lho! Konon, selama perjalanan kuali itu didekap dalam pangkuannya. Demi makan enak di negeri orang, pengorbanan mendekap kuali selama penerbangan pun dilakukan :D. “Habis, kalau lagi pengen kan nggak bisa mincuk (makan dengan daun pisang yang dibentuk kerucut),” ujarnya ketika ditanya.

Selain dari bahan dasar yang unik, ada juga sambal yang dibuat dengan cara cukup unik. Sambal arang tampurung namanya. Sambal ini satu daerah dengan sambal dabu-dabu. Semua bahan sambal diulek lalu dicampur dengan bara dari batok atau tempurung kelapa. Unik ya? Sayangnya saya belum pernah mencoba sensasi memakan bara tempurung kelapa. Pertama kali mengetahui jenis sambal ini, saya merasa aneh. Namun, bagi saudara kita yang asli Manado, pasti sambal unik ini bikin kangen kampung halaman. Lagi-lagi saya tersadar betapa kayanya kuliner Indonesia.

Dari sambal bawang, seorang Bu Rudy pun bisa ngetop sampai ke luar negeri. Sambal bawang yang khas karena pedasnya yang tanpa ampun ini telah menjadi satu pilihan cindera mata kuliner dari Indonesia. Setiap membeli sambal Bu Rudy, karyawan Bu Rudy yang kebagian tugas  packing akan bertanya apakah sambal tersebut akan dibawa masuk kabin atau dititipkan di bagasi. Keduanya akan mempunyai perlakuan berbeda, jika di bagasi pegangan kardus dibiarkan tegak berdiri sehingga petugas mudah mengambilnya. Semntara bila pelanggan membawa masuk kabin, pegangan kardus akan dilipas dan diganti dengan tali yang kokoh.

Omset Bu Rudy tak tanggung-tanggung. Dalam sehari ia bisa menghabiskan setidaknya 200 kilogram cabe sebagai bahan dasar sambalnya. Jumlah itu setara dengan 2.000-3.000 botol sambal. Luar biasa bukan? Padahal sambal ini sama dengan sambal lain, terbuat dari bawang merah, bawang putih, dan tentu saja cabe. Bu Rudy, seorang ibu sederhana berlogat Jawa khas Suroboyoan, berhasil mengangkat sambal biasa menjadi istimewa karena kecintaannya akan memasak. Ia ramah, selalu menyempatkan berdialog dengan pelanggan di depotnya. Hanya sambal, tapi nama Bu Rudy seolah tak bisa lepas dari produk dagangannya yang dikerjakan dengan sepenuh hati.

Ada lagi sambal pecel. Sambal yang terbuat dari kacang tanah yang ditumbuk halus lalu dibumbui dengan bumbu khusus dan irisan daun jeruk ini disajikan dalam berbagai bentuk. Menjadi teman nasi, oke. Mau jadi teman makan lontong sayur, oke juga. Dijadikan colekan ketika menyantap krupuk sudah pasti tak kalah nikmatnya. Menjadi saos siraman di mie goreng, tak ada yang bisa menolaknya. Semuanya sedap terasa.

Sambal pecel ini memiliki berbagai varian. Ada pecel Madiun, pecel Kediri, lalu pecel Surabaya. Pada dasarnya semua sama, hanya saja sedikit berbeda dalam penyajian nasi pecelnya. Pecel Kediri khas dengan lalapan dan rempeyeknya. Di Kediri sendiri, setiap malam lewat jam 9, sepanjang Jalan Dhoho akan berubah menjadi pusat lesehan pecel. Nasi pecel Surabaya disajikan dengan telur atau nasi rames sehingga harganya sedikit lebih mahal. Pecel Madiun sedikit berbeda taste dengan pecel Kediri. Setiap naik kereta api menuju Surabaya, saya selalu teringat pedagang pecel di stasiun Madiun yang menjajakan dagangannya dengan cara berteriak, “Pecellllllll, nasi pecel!”

Cobalah sekali-kali berkunjung ke rumah makan khas Sunda, lalu hitung berapa jenis sambal yang disajikan. Ada belasan atau puluhan jenis sambal tersaji di meja. Ada sambal terasi, sambal ijo, sambal cikur, sambal sereh, sambal dadak, sambal matah, sambal teri, sambal tempe, dan sambal yang namanya pun saya tak tahu. Sudahkah Anda mencoba semua jenis sambal itu? Saya pribadi belum. Itu baru rumah makan khas Sunda lho! Sambalnya saja beraneka ragam, sekaya ragam kuliner Indonesia.

*****

 

Sambal mungkin tak bisa dipisahkan dari lidah orang Indonesia. Ada sensasi mau lagi dan lagi dari kapsaisin yang membuat ketagihan. Karena itu, orang Jawa punya istilah kapok lombok. Hari ini makan sambal, besok masih mau lagi. Hari ini diare karena makan pedas, besok tak kapok makan lagi. Biarpun lidah terjulur karena pedas, masih colek  lagi dan lagi. Seuhah kata orang Sunda.

Ternyata dari sambal saja kita belajar tentang Indonesia. Tak salah jika sambal menjadi satu hal yang paling Indonesia. Sambal menjadi bukti bahwa Indonesia begitu kaya. Jadi, masihkah Anda tidak bangga menjadi Indonesia? Jangan tanya saya, saya bangga menjadi warga negara Indonesia.

<img src="” alt=”” />

 
7 Comments

Posted by on June 27, 2012 in Kisah di Balik Rasa

 

Tags: , , , , , ,

 
%d bloggers like this: