RSS

Category Archives: Kisah di Balik Rasa

Cerita, kisah menarik serta inspiratif tentang makanan. Enjoy!

Chicken Stick Lada Garam, Menu Kekinian!

Chicken Stick Lada Garam, Menu Kekinian!

so good lada garamDaerah paling jarang saya kunjungi kalau ke supermarket adalah area makanan beku. Ehhhh, nggak sengaja, pas ngejar hari diskon sayuran di salah satu toko retail, mata saya tertumbuk pada tulisan “CHICKEN STICK PREMIUM” di dalem freezer SO GOOD.  Langsung kepo maksimal sama tanda bintangnya, buka freezer dan mata saya tertambat, hati saya terpikat pada serangkain kata, “Lebih banyak daging ayam.” Fix, saya ambil ini, nggak peduli biarpun ‘cuma’ Premium, bukan Pertalite, apalagi Pertamax Turbo #eh.  Kebayang kalo banyak daging ayamnya, pasti rasanya maknyussss. Cucok myeong gaes, ini yang saya cari. Langsung masuk keranjang belanja.

Sambil terus bongkar-bongkar freezer, saya semakin berbunga-bunga karena bentuk nugget sekarang macem-macem. Ada yang bentuk donat, alfabet, dinosaurus, sampe-sampe bentuk buah-buahan dan pesawat jet! Wahhhh, Vio meracau deh liat bentuk nugget lucu-lucu, semua pengen dibeli. Tenang, Nak, kalo perlu se-freezer kita bawa pulang semua, asal becak kita muat hihihi…

Selain produk nugget, SO GOOD juga punya  siomay instan dan bakso yang dari fotonya aja keliatan enak dan menggugah selera. Kayaknya enak dimasak pas Bandung lagi musim pancaroba gini. Akhirnya saya masukin juga  bakso yam instan dan sosis ayam premium ke troli. Asyekkkk!

***

Kalau biasanya nugget dan kawan-kawan akrab sama anak-anak, kali ini saya bikin resep yang khusus buat ibu-ibu, khususnya penyuka pedas *tunjuk tangan*. Mengikuti tren kekinian di kafe dan resto di Bandung, saya bikin chicken stick lada garam. Berbekal nyicipin tahu lada garam di beberapa kafe, saya pede aja ngira-ngira resepnya.

lada garam 1

CHICKEN STICK LADA GARAM

Bahan
10 chicken stick SO GOOD
5 siung bawang putih ukuran besar, cincang kasar
20  cabe, mix cabe hijau dan merah, potong-potong
1/2 sdt garam
Sejumput merica
1/2 sdt gula
2 batang daung bawang. iris tipis
Minyak goreng secukupnya untuk menggoreng

Cara membuat
1. Potong chicken stick menjadi 4 bagian, lalu goreng dalam api yang banyak dan panas hingga matang. Sisihkan.
2. Panaskan minyak, masukkan bawang putih dan goreng hingga mulai kecoklatan.
3. Setelah bawang mulai berwarna coklat, masukkan potongan cabe dan tunggu hingga agak layu.
4. Terakhir, masukka daun bawang lalu bumbui garam, merica, dan gula, aduk rata. Angkat dan tiriskan.
5. Tata chicken stick di piring, bubuhi bumbu lada garam. Siap dinikmati deh!

lada garam 2

Chicken stick lada garam ini bisa dimakan sebagai cemilan atau temen makan nasi, disanguan kalo kata orang Sunda mah hehehe…  Karena bikinnya lebih gampang daripada menerima kabar pertunangan Babang Hamish, sudah pasti bumbu lada garam ini  masuk top list di Dapur Hangus. Next mau nyobain juga pake nugget atau bakso ikan.

Liat emaknya makan dengan lahap, Vio iri loh! Besok kita masak nasi goreng aja buat kamu ya  bocahhhh…

 

 

 
Leave a comment

Posted by on July 22, 2017 in Kisah di Balik Rasa

 

Tags: , , , , ,

Ini Lumpiaku, Mana Lumpiamu

Setelah episode ga bisa nyium bau bawang, akhirnya saya mulai ngedapur lagi. Yang paling bahagia tentu saja Violeta. Dia paling heboh bantuin di dapur. Bikin yang gampang-gampang dululah, yang ga perlu ngeluarin tenaga samson, tinggal tuang-tuang bumbu bubuk, jadi deh. Mari cekidot resep lumpia bikinan saya dan Vio…

LUMPIA NANAS
Bahan
1/2 buah nanas
1 sdt gula putih
1/4 sdt garam
1 sdt bubuk kayu manis Koepoe Koepoe
1/2 sdt bubuk cengkeh Koepoe Koepoe
Gula merah secukupnya
8 lembar kulit lumpia *saya pake yang tipis bundar, biasa dipakai untuk pisang aroma)

 

koepoe pinneaple

CARA MEMBUAT
– Potong nanas kecil memanjang, bumbui gula, garam, bubuk kayu manis dan bubuk cengkeh Koepoe Koepoe. DIamkan beberapa saat sampai meresap
– Siapkan kulit lumpia, ambil satu atau dua potong nanas, taburi gula merah.
– Goreng dengan minyak panas sampai kecoklatan.
– Lumpia siap disajikan.

LUMPIA TRIPLE CHEESE

triple chese lumpia

Bikin lumpia keju mah udah biasa, tapi kali ini pake lumpia dengan tiga keju berbeda. Rasanya udah pasti gurih luar biasa. Saya pake keju mozarella, keju cheddar, dan keju caciotta Italia. Cara bikinnya gampang, kalo ga gampang pastinya saya ga bikin.

BAHAN
10 lembar kulit lumpia siap pakai
10 potong keju caciotta, saya potong panjang sekitar 7 cm
10 potong keju mozarella, saya potong sama dengan keju caciotta
10 potong keju cheddat, potong 7 cm juga.
1 buah telur
5 sdm tepung panko atau tepung roti
1 sdm tepung terigu
1/2 sdt lada putih bubuk Koepoe Koepoe
Gula dan garam secukupnya, saya ga pake karena lupaaaaa… garem sih kayaknya ga perlu banyak-banyak, udah gurih banget
Minyak untuk menggoreng

CARA MEMBUAT
– SIapkan kulit lumpia, isi dengan 3 macam keju yang sudah dipotong.
– Kocok telur, bumbuin dengan gula, garam, dan lada putih bubuk @koepoekoepoeid
– gulirkan lumpia yang sudah diisi dengan 3 macam keju kedalam tepung tergiu, telur, dan tepung roti. Ulangi bila dirasa lapisan tepung roti kurang tebal. Punya saya ketebelan sih, jadi bentuknya malah mirip nugget.
– Goreng api sedang dengan minyak panas.
– Tanpa dibalur tepung roti pun tak apa, rasanya sudah enak banget, bila tanpa baluran tepung roti, bumbuin keju dengan italian herbs dan lada putih+gula.

LUMPIA KARI AYAM UDANG
Bahan
100 gr ayam cincang (saya pake 250 gram, sisanya simpan di freezer)
5 udang peci ukuran besar
1 sendok makan minyak goreng untuk menumis ayam cincang
minyak untuk menggoreng secukupnya
1,5 sdt bumbu kari Koepoe Koepoe
1,5 sdt garlic powder Koepoe Koepoe
Lada putih Koepoe Koepoe secukupnya.
Gula dan garam secukupnya
10 lembar kulit lumpia ukuran kecil

koepoe ayam kari

CARA MEMBUAT
– Bersihkan udang, bumbui dengan setengah sdt bumbu kari dan setengah sdt bubuk bawang putih (garlic powder) Koepoe Koepoe. Diamkan 10-15 menit di kulkas.
– Panaskan 1 sdm minyak, masukkan daging cincang, dan bumbui dengan 1 sdt bubuk kari, 1 sdt bubuk bawang putih, gula dan garam secukupnya. Terakhir masukkan seujung sendok lada putih bubuk Koepoe Koepoe . Aduk rata dan jangan biarkan menggumpal, aduk sampai matang.
– Siapkan 2 lembar kulit lumpia,
– Isi kulit lumpia pertama dengan 1 sendok isian ayam cincang yang sudah ditumis matang, gulung. dengan 1 ujung terbuka. Gulung kulit lumpia ke dua dan beri 1 ekor udang di ujung atas yang terbuka. Rekatkan dengan putih telur (bila perlu). Saya ga pake putih telur tapi bagian ujung digoreng duluan, setelah kering, baru dibalik. Pengiritan putih telur.
– Goreng sampai kecoklatan dalam api sedang.
– Sajikan dengan saos pedas manis.

LUMPIA MINI ISI NUGGET SAYUR

kopoe nugget

Bahan
10 lembar kulit lumpia (saya pake yang ukuran 12 cm)
10 nugget stik yang sudah digoreng
10 buah buncis mini, potong sesuai panjang nugget stik
1 buah wortel ukuran kecil, iris tipis memanjang sepanjang nugget stik
1/2 sdt bubuk bawang putih Koepoe Koepoe
Bubuk pala Koepoe Kopoe secukupnya
Bubuk lada putih Koepoe Koepoe secukupnya
Garam secukupnya
1 sdt minyak goreng untuk menumis sayuran
Putih telur secukupnya untuk merekatkan kulit lumpia

CARA MEMBUAT sederhana sekali
1. Panaskan minyak goreng dengan api sedang, masukkan potongan buncis dan wortel. Tunggu beberapa saat sampai agak layu
2. Bumbui dengan bubuk bawang putih, lada putih, dan pala Koepoe Koepoe. Tambahkan sedikit garam.
3. Matikan api, angkat wortel dan buncis tumis.
4. Setelah dingin, gulung nugget yang sudah digoreng, satu potong buncis, dan satu potong wortel dengan kulit lumpia mini, lekatkan dengan putih telur.
5. Siapkan wajan teflon, saya pakai wajan double yang ada garis-garisnya. Panaskan setiap sisi lumpia yang sudah digulung sampai kulit mengeras. Meskipun tidak digoreng, kulit lumpia tetep kriuk.

Lumpia panggang ini bisa jadi alternatif goreng-gorengan, lumayan jadi hemat minyak. Vio seneng banget bantuin main masak-masakan hari ini. Anak ceria, ibu bahagia ^_^.

Jangan lupa follow @koepoekoepoeid di Instagram atau like fanpage Facebooknya. Besok terakhir loh, jangan ketinggalan manteman 🙂

 
4 Comments

Posted by on February 19, 2016 in Kisah di Balik Rasa

 

Gara-gara IBIS STYLE, Violeta Ketagihan Nginep di Hotel

Violeta, bocah cilik kesayangan saya, mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai “pemilik” beberapa hotel di Bandung yang kebetulan bernama sama dengannya. Bapak dan ibu gurunya sampe nagih nginep di hotel punya Vio karena dia selalu cerita bwahahaha… Padahal, kalau dirunut, Vio nyaris belum pernah nginep di hotel (manapun). Kebetulan, 12 November, Dapur Hangus bekerja sama dengan IBIS STYLE SUnter mengadakan acara Tea Party. Makan-makan, foto-foto, dan ngobrol-ngobrol dengan chef. Dannnn… emak Vio dapet kesempatan nginep di salah satu kamar Ibis Style, tentu saja Vio digembol.

VIO

Dari situ, dimulailah teror,

“Kapan kita nginep di hotel lagi.”
“Kapan-kapan nginep di Ibis Style lagi ya.”
“Ibis Style itu yang warnanya ijo, nanti kita nginep di sana lagi ya.”
“Buk, kenapa kita ga nginep di hotel Ibis aja? Atau Ibis Style.”
“Aku mau nginep di hotel lagi ih!”
Setiap denger itu, emak mendadak pingsan ahahah…

Vio (dan ayahnya) sangat menikmati nginep di Ibis Style. Pertama dateng, dengan kerempongan luar biasa, front officenya ramah. Cuek aja gitu biarpun saya muka kilang minyak, bawa-bawa nasi kotak, plus barang segambreng. Ketika proses check in, saya harus deposit Rp300.000 karena kamarnya gretongan. Untung aja punya duit wkwkwkw… Begitu check in selesai, langsung masuk kamar dan istirahat. Vio dan ayahnya langsung acak-acakin kamar sementara emaknya teriak-teriak kalo kamarnya kudu difoto dulu dalam keadaan rapi, bersih, dan kinclong. Tapi mereka cuek waaaa *meweks*.

kursi

Kamarnya sih ga terlalu gede, tapi cozy tentu saja. Kalau saya pribadi paling suka 2 hal, warna-warninya yang ngejreng dan colourfull plus pintu kamar mandi yang bisa digeser. Jadi kalau perlu cuci tangan aja, ga perlu masuk kamar mandi dulu, cukup geser pintu dan puter kran, beres! Selain itu, saya juga suka balkonnya. Pas ngadep jalan besar, liat pemandangan Jakarta Utara. Sedikit mengejutkan, meskipun di Jakarta Utara, cuacanya adem banget di balkon. Padahal saya tadinya udah pesimis bakal ngadem di balkon, eh ternyata malah enak suasananya. Kalo bawa buku, pas banget suasana santai gitu sambil ngeteh cantik, ngopi, dan baca buku. Kalo ada temen, sambil menggosip dah!

morning like this

Nah, kalo ditanya saya bisa tidur nyenyak atau enggak, jawabnya pasti enggak. Bocah cilik nendang-nendang tidurnya, dan bentar-bentar saya kebangun karena takut ngeglundung dari kasur. Melas yaak… Vio san ayahnya, sekali lagi, karena memang kami selalu pergi sepaket, berasa liburan aja tidur di hotel. Sementara saya, karena besoknya motret buat Ibis, plus mau ada acara tea party tea, jadi spanneng, ga nyenyak boboknya.

Acara ga tidur nyenyak semaleman langsung terbayar sama makan pagi di resto hotel yang lezat banget. Bener-bener deh, image makanan hotel yang anyep ilang sudah. Makananya enakkkkkkk semuaaaaa… Saya khususon jatuh cinta sama Umm Ali, manis legitnya passss. Kalau suatu saat ke sana lagi, saya pasti pesen Umm Ali. Paket breakfastnya lengkap, ada sosis, sereal, bubur, dan makanan berat. Topppp… Kalo saya nggak harus motret, saya bisa lanjut makan icip-icip sana sini ampe jam 10.

Setelah kenyang sarapan, saya motret beberapa menu resto Ibis. Sayang pihak Ibis ga koordinasi dari awal berapa menu yang harus difoto dan apa saja makanannya. Awalnya saya perkirakan jam 10 sudah beres, ternyata hiks hiks jam 12 belum selesai, padahal jam segitu udah harus check out kan, manalah saya keringetan pengennya mandi lagi. Untungnya dari front office bisa diperpanjang stay sampe jam 1. Setelah jam 1, sambil nunggu acara setangah 3, saya sama Vio ngampar aja di ruangan acara, untung ga kayak orang ilang karena ruangannya cozy. Vio juga sempet maen di kids room-nya, kecil, tapi mainannya banyak.

Bersyukur sekali, acara Tea Party berjalan lancar. Pihak Ibis Style bahkan memberi servis lebih dari yang saya duga. Biasanya kalo workshop kan materi dan praktik aja, nah ini ditambah acara demo chef dan ngobrol-ngobrol langsung bareng chef-nya. Seruuuu… Mana makanannya enak-enak, saya paling suka sushi ballnya, padahal aslinya saya ga suka makanan mentah.

 

Pokoknya terima kasih Ibis Style, semoga next bisa kerja sama lagi yaaa… Terima kasih juga karena bikin Vio ketagihan nginep di hotel heheheh :p.

 
3 Comments

Posted by on December 9, 2015 in Kisah di Balik Rasa

 

Cipop Lahir ketika SAYA Sedang Ingin Ngemil

Cipop Lahir ketika SAYA Sedang Ingin Ngemil

“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.” M. A. W. Brouwer

Quote di atas cukup sering berseliweran di newsfeed saya. Diam-diam saya sepakat, Bandung memang indah. Rasanya tak berlebihan bila kita menjulukinya, Surga Dunia. Ya, surga dunia.

Setelah 12 tahun tinggal di bandung (ehem… 4 tahun di Jatinangor sih, yang ternyata masuk Sumedang :p) saya paling terkesan dengan makanannya. Kenangan saya akan makanan Bandung yang paling berkesan adalah lumpia basah dan marmin (martabak mini).  Martabak mini, saking lebaynya, saya anggap salah satu bentuk keajaiban dunia versi mahasiswa kere. Bagaimana tidak, martabak (saya mengenalnya dengan terang bulan), bisa dibeli dengan harga di bawah seribu saat itu *doenggg ketauan umurnyaaa*. Padahal, bila kita beli versi lengkap harganya bisa sampe 30 ribu. Belum lagi kalo topingnya nutella, silverquenn, emas, intan permata, harganya bisa ngalahin tasnya teteh Syahrini *duarrrr*.

Seiring berjalannya waktu, saya menjadi saksi gembul (karena makan mulu) betapa Bandung memang surganya kuliner.  Di dunia perACIan aja, ada cimol, cilok, cireng. Sama-sama aci (tepung kanji), tapi beda proses pengolahannya menjadikan mereka seperti sodara sepupu, beda bapak ibu tapi satu nenek-kakek :p. Ehhh… malah yang terakhir lahirlah CIPOP. Apa itu? Aci yang bisa nyanyi pop di Smule *dijitak*.

SATE kpop

Cipop, kalo dirunut dari silsilah keluarga, masih sodara sepupu jauh cireng dan cilok. Adalah Ciroll, cireng yang bisa bikin kita ngerock and roll, yang mengakui cipop sebagai sodara kandung. Selain mereka berdua, ada juga Cireng Ngambang dan Cireng Krauk. Siapa orangtua mereka? Tak lain dan tak bukan adalah Cireng Kamsia.

Sebagai fans garis keras cireng dan sepupu-sepupunya, yang sudah saya buktikan dengan ngidam cimol waktu hamil Vio :p, saya mengakui Cireng Kamsia ini sangat inovatif. Cocok pisanlah jadi orang Bandung, kreatif, inovatif, dan segala tif-tif yang lain. Ga cuma mau jadi followers, Cireng Kamsia malah jadi trendsetter. Cuma rujak cireng mah sih menurut saya so yesterday alias ketinggalan kereta, nah kalo cireng isi keju, dilapis panir menjadikannya krenyes warbiyasak.

ciroll 5

 

Biar makin sayang, kenalan sama sodara-sodara cipop ini yuk.

Ciroll — cireng isi keju yang aduhai, kriuk. Bentuk stik, mirip nugget, dijamin anak-anak suka.

Cipop — adiknya ciroll, sebenernya versi mini dari cirol, disajikan dengan cocolan saus yang sedap

Cireng Krauk —  cireng dengan isian macem-macem, ukuran besar dijamin puassshhhh…

Cireng Ngambang — paduan antara cireng dan kuah, mirip baso tapi lebih ganas rasanya.

Nah, produk Cireng Kamsia memang inovatif kan, ga salah deh kalo mereka menerima Anugerah Menteri Perdagangan Kategori Khusus Inovasi Pangan Baru pada 2013. Weissss jangan ragu lagi, buruan dipesen.

Sejak kenal produk-produknya Cireng Kamsia yang asli 100 persen dari Bandung  ini, saya semakin bahwa Bandung diciptakan ketika Tuhan tersenyum. Saya yakin pula, cipop diciptakan ketika si gembul (eke kisanak) sedang pengen ngemil *eh*. Siap-siap berbaris di belakang saya buat musuhan sama timbangan yaaa… ngemil muluuuuu….

 

Nah, kapan lagi ngemil dapet hadiah? Cuma Cireng Kamsia yang bisa! Saya aja ikut, masa kamu enggak?

Caranya

  1. Buat kreasi dari cipop
  2. Foto hasil kreasi teman-teman
  3. Upload di instagram masing-masing, bukan instagram mantan pacar, ntar malah susah move on :p. Periode upload mulai 4 November sampai  12 Desember
  4. Jangan lupa tag akun @k_food_ dan 1 akun teman.
  5. Pakai hashtag #kreasicipop #kamsiaholidaygift. Kalau versi saya ditambah #tolongAimyaAllah biar menang bwahahaha..

Kayak saya nih, bikin pizza ala-ala pake toping cipop. Pizza ala-ala aja sih, kalo kata saya mah enak, ga tau kalo kata Mas Dhani :P.

pizza untuk blog

Kalau saya jadi kamu, detik ini juga saya beli Cipop dan upload di instagram.

 
3 Comments

Posted by on December 4, 2015 in Kisah di Balik Rasa

 

Tags: , , , , ,

Nasi Liwet yang Menginspirasi

Nasi Liwet yang Menginspirasi

Abis nonton video ini, saya langsung merasa senasib sepenanggungan, salah jurusan. Jeder!!!! Semacam ditampar berkali-kali pake duit 100 rebuan *eh* sekaligus terinspirasi. Saya sempet merasa malu waktu awal memulai bisnis jualan online *kalo sekarang malu-maluin :p*, ada perasaan bersalah waktu buka-buka Wikipedia dan membaca definisi PENGANGGURAN. Saya, kebetulan, masuk kategori pengangguran terselubung (disguised unemployment), yaitu  tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu (sumber Wikipedia). Kata temen-temen saya, harusnya saya masuk sekolah bisnis atau jurusan marketing, soalnya otak saya berisi 80 persen rencana dagang dan 20 persen hahaha..

Pak Asep Haelusna, pemilik tujuh restoran Asep Stroberi, mungkin tidak akan  beromset puluhan juta rupiah per hari seperti sekarang ini bila tetap pada fitrahnya sebagai lulusan IKIP, menjadi guru. Sayapun tidak akan bisa punya online shop bila tetap memutuskan menjadi jurnalis. Memang agak-agak mirip ya nasib kita Pak Asep *ehem nyama-nyamain*, cuman bedanya omset saya baru secuil remahan roti tawar kalo dibanding omset tujuh restoran plus penginapa Asep Stroberi. Karyawan saya juga baru satu, namanya Ika, Iko, Ika Rahma, emak Vio, istri Najip, mbak janganpanggilsis, anaknya Pak Had yang kesemuanya bersinonim dengan saya heheheh… Sementara itu, karyawan Pak Asep ada 500 orang sodara-sodara :D.

***

Alkisah tahun lalu saya pergi ke resto Asep Stroberi di Jalan Raya Nagreg. Kesan pertama, makanannya biasaaaaa banget! Beda banget sama gembar gembornya suami saya tentang enaknya makanan di resto ini. Eh, usut punya usut,saya salah mesen. Saya mesen nasi timbel, sementara menu favorit di sini adalah nasi liwet. Ini 100 persen salah saya, bukan salah Cinta dan teman-temannya, apa lagi salahnya Mas Rangga :p. Penasaranlah saya, nggak bisa tidur tujuh hari tujuh malem karena mikirin, kenapa saya nggak mesen nasi liwet *lebay*.

Sebelum bulan puasa kemaren, akhirnya saya berkesempatan mengunjungi lagi Resto Asep Stroberi di Nagreg. Kali ini saya bawa mamah mertua saya, sekaligus *sogokan* sebelum nitipin Vio seminggu ke depannya *menantu macam apa inih? wkwkwkw*. Begitu buku menu dateng, sambil merem saya langsung milih nasi liwet. Saya merem, suami saya yang baca buku menu hehehe… Dan, benar sekali kata suami saya, nasi liwetnya juara di seluruh dunia, itupun kalo di dunia belahan sana ada nasi liwet yaaa… Kalau ikut olimpiade, nasi liwet di Asep Stroberi ini udah pasti dapet medali emas layaknya Susi Susanti dan Alan Budikusuma *jrengggg… ketauan deh angkatan berapa :p*.

Nasi liwet lengkap Asep Stroberi, Nagreg

Nasi liwet lengkap Asep Stroberi

Untuk ukuran nasi liwet, harganya memang cukup mahal. Saya pesan nasi liwet ayam kampung paket tiga orang, harganya 127 ribu. Harga untuk per orang kurang lebih 42 ribu. Satu paket itu terdiri atas ayam tiga potong, tahu tiga potong, asin peda satu ekor (bonus sambel di cobek), sambel tomat, dan lalapan. Kalau saya sih, sambelnya kurang, harus pesan lagi di luar paket, tapi nasinya melimpah. Setelah dimakan berempat eh bertiga setengah (Vio makannya sedikit), nasinya masih sisa satu porsi. Mertua saya berinisiatif membungkus nasinya, saking enaknya. Alhamdulillah, berarti jalan saya menitipkan Vio mulus ya Mah *menantu idaman sejagad raya*.

Nasi liwet Asep Stroberi

Ada mertua, jadi makannya dikit :p

Untuk minumannya, kami memesan jus stroberi. Subhanallah segernyaaa… Satu gelas jus stroberi segar dibandrol 18  ribu saja. Segernya mantep, nendang, pas banget (kecuali kalo saya sambil ngaca, jadi kemanisan huahahahah #plak).

Nasi liwet Asep Stroberi

Jus stroberi yang mantep banget!

Yang paling menyenangkan di resto ini adalah suasananya yang adem, banyak pepohonan, dan pemandangan sawah yang terhampar hijau. Saung-saungnya homey sekali. Susah dijelaskan pake kata-kata, makanya saya kasih foto-fotonya aja ya biar pada pengen :D.

Nasi liwet Asep Stroberi

Sungai, jembatan, kincir air, dan hamparan rumput hijau. Ademmm…

Nasi liwet Asep Stroberi

Adem dan asri ya… enak nih pacaran di sini #eh

Nasi liwet Asep Stroberi

Suara gemericik air bikin makin betah

Nasi liwet Asep Stroberi

Sekilas saungnya mirip-mirip di Jepang ya, Jepang yang deket Garut tapiiii

Nasi liwet Asep Stroberi

Asyik ya, jalan setapak aja cakep gini, pasti deh jadi lebih gampang menapaki hatimu hihihihi

Biar afdol, saya pampang juga gambar mas-mas cakep yang lagi megang kastrol nih. Doi kayaknya ge er difoto sama Raisa nih wakakak… Oh ya, pas ngedit foto ini saya kok jadi nyadar kalau foto saya ala-ala foto jurnalistik gitu ya, rupanya walopun hampir semua orang bilang saya salah jurusan, ilmunya kepake buat moto jejaka pembawa kastrol wakakak…

Nasi liwet Asep Stroberi

Hati-hati, Kang, abis ini ngetop, muncul di blog saya gitu loh!

Setelah kenyang, bisa ngecengin jejaka pembawa kastrol, jepret sana jepret sini, sambil ngeliatin orang pacaran di pematang sawah, akhirnya kami memutuskan kembali ke pelukan Mas Rangga eh kembali ke Bandung maksudnya.

Ke Bandung bersama Agya

Apa yang paling terkenal di Nagreg? Macet kalo musim mudik dan jalan berkelok-kelok. Kalo dulu saya sih ga peduli macet ya, soalnya tiap mudik pake kereta. Pas lewat jalur alternatif Nagreg, mertua saya langsung gemeteran liat rel kereta yang ada di atas, ga mau lagi naik kereta katanya. Semoga suatu saat dikasih rejeki mobil Agya merah kayak begini.

mobil idaman, aminnn

mobil idaman, aminnn

Mengapa saya pengen dikasih rejeki Agya. Kayaknya buat perjalanan begini, Agya pas banget.  Mungkin buat perjalanan Bandung-Nagreg PP habis bensinnya ga lebih mahal dari harga nasi liwet Asep Stroberi. Yuukkkk…Konon iritnya karena putaran roda kecil dan bodinya yang imut *hasil gugling biar keliatan pinter :p*. Mobil kecil begini cocok buat perjalanan dalam kota dan cucok juga buat perjalan luar kota begini, irit cyinnn…

Sayangnya sampe sekarang saya belum berani nyetirlah, masih mengandalkan sopir tercinta, ayahnya Vio :D. Kemampuan saya baru sebatas nyalain mesin, kemudian nyalain AC. Eh sama satu lagi, nyalain audio  hahaahah… Tapi, kalo besok saya beli Agya, udah dipastikan saya yang nyetir, pas dah buat ibu-ibu rempong kayak saya, yang kemampuan menguasai mobil cuma 2 hal di atas wakakak… Kebayang kalo belanja bubblewrap atau plastik ke Cibadak ga susah parkirnya. Cibadak gitu lohhhh… udah macet, ga ada ojek, tukang parkirnya cuek-cuek, untung ada batagor dan siomay enak *salah fokus*.

Saya, kalo beli mobil, pasti bakal milih berdasarkan tiga hal, irit, bagasinya gede, dan muat dipakai ngusung seglundung bubblewrap. Semua ketemu dah di Agya. Bagasi gede, off course buat ngangkutin daganganlah ya bok, bawa barang dari rumah ke JNE biar muat banyak. Nah, ketentuan ketiga itu adalah cita-cita saya yang terpendam sejak dulu. Biasanya saya bawa bubblewrap pake motor. Pernah suatu ketika sambil gendong Vio, ujan gede, macet di sepanjang jalan, plus ditubruk dari belakang pula. Makanya pengennn banget punya Agya. Doakan ya teman-teman, semoga dengan punya Agya, semakin lancar usaha saya kayak usanya Pak Asep Stroberi. Aminnnnn….

Ga masalah lagi deh saya dibilang salah jurusan, yang penting kebeli Agya merah *keukeuh*.

Banyak yang selfie di terowongan Nagrg

Banyak yang selfie di terowongan Nagreg

 
18 Comments

Posted by on June 27, 2015 in Kisah di Balik Rasa

 

Tags: , , , , ,

Cookies Transformer alias Antiremuk

Kalau saya disuruh milih, beli atau bikin cemilan sendiri, sudah pasti semua orang tau mana yang saya pilih. BELIIIIIII…. Ga perlu ba bi bu, jawabannya pastilah yang pertama hahaha! So pasti, beli cemilan menjadi pilihan saya karena saya males nyuci wadahnya. Kalau masak, perkakas masak paling males saya cuci adalah ulekan dan cobeknya. Sementara kalau baking, perkakas paling saya hindari nyucinya adalah mixing bowl. Kadang, ada rasa bersalah (dikit sih :p) kalau terlalu sering ngasih makanan atau camilan beli ke Vio. Untuk bekal sekolah sebisa mungkin, saya bawain makanan yang rada berat dan bergizi. Sekali lagi, saya males euy kalau bebikinan, jadi saya nyetok produk-produk homemade bikinan temen-temen, seperti nugget, sosis, kentang goreng.

Alergon cookies dapur hangus

Alergon cookies, dimakan sambil baca buku, surga duniaaaaa… 

Sayangnya, setelah hari ke-20, saya pasti kehabisan ide wkwkwk… Setelah nugget, sosis, pasta, sayuran beku, french fries, dan sandwich diulang 3 kali, mulailah pusing pala berbie dan bosen pula bocahnya. Pas jalan-jalan ke salah satu gerai supermarket, nemulah satu cookies menarik hati dan dompet #eh. Pandangan pertama tidak terlalu menggoda. Pas muter ke dua kalinya, belum tergoda pengen nyomot juga. Pas ke tiga kalinya, tangan belum tergerak buat mindahin doi ke troly. Nah, pas ke empat, baru deh ceki-ceki ingredients-nya. Dalam hati, pasti mbak-mbak dan mas-mas di situ mikir, nih orang mungkin lagi latihan sa’i, muterin supermarket ampe 3 kali hahaha…. Pengen banget meluruskan dulu pendapat mbak-mbak dan mas- masnya, kalo saya bukan sa’i, tapi menjaga body ala Raissa.

Baiklah, kembali ke Alergon, setelah saya ceki-ceki ingredientsnya,  hal yang paling menarik perhatian adalah BEBAS GLUTEN. Mengingat, menimbang, dan mengingat lagi *ngelu* saya ga pernah baking lagi dalam waktu yang tidak bisa ditentukan, Alergon ini jadi pilihan. Di luaran sana, cookies yang saya beli buat bekal sekolah Vio hampir pasti selalu memakai bahan dasar terigu, yang artinya mengandung gluten. Nah, biar ada selingan dari nugget, cookies bergluten, dan lain-lainnya, makanya dibawain deh Alergon

Pada suatu masa, ketika bener-bener ga ada stok bekal, Alergon penyelamatnya sodara-sodara. Saya sih milih gampangnya *plakkk, ibu macam apa ini* cemplungin Alergon sebungkus di tas sekolahnya. Ga pake wadah khusus tanpa takut remuk, di dalemnya ada bungkus mika yang ngebantu banget membuat Alergon antiremuk hahaha…, jadi ngebayangin kukis Transformer gitu yak, antiremuk biarpun udah dibanting ke sana ke mari, sampe yang nonton juga capek dan pengen bobok di bioskop *curhat detected*.

Alergon cookies dapur hangus

Alergon cookies, sama teh rasanya maknyusss

Saya seringnya baca buku sambil ngemil ini, karena tanpa pengawet, ndak usah kuatirlah, aman untuk ibu hamil maupun ibu tidak hamil yang perutnya buncit *tunjuk perut sendiri*. Sambil nyiumin wanginya kismis, saya sambil ngebayangin baca buku ini ditemenin Benedict Cumbertbatch, surga duniaaaaa…  Apa lagi kalo bisa sambil cubit-cubit doi, wihhh… surga pindah tuh ke Sariwangi hahaha…

Ya sudahlah segini aja, mau ngeteh sore sambil makan Alergon dan merealisasikan khayalan saya sedekat mungkin dengan kenyatan *ceileeeee. Yuk, dadah bye bye… Sampe jumpa di postingan saya selanjutnya, 2 tahun lagi #eaaaa….

 
3 Comments

Posted by on April 28, 2015 in Kisah di Balik Rasa

 

Semur itu yang Penting Kecap

Semur itu yang Penting Kecap

“Ini Malika, kedelai hitam yang saya besarkan seperti anak sendiri,” begitulah bunyi salah satu iklan kecap *ga boleh sebut merk* yang botolnya gambar bango *eh keceplosan :p*. Kecap yang satu ini berjasa buat saya karena bisa mengobati rasa kangen sama kecap Sawi. Kecap Sawi ini kecap buat kota asal saya yang paling ngehits se-Jawa Timur, Kediri *jiah, dikejar massa*. Duluuuu banget waktu saya masih pake rok merah ke sekolah dan tentu saja masih imut, saya ikutan les di daerah deket pabrik Kecap Sawi. Tiap jam 3 sore pas ngantuk-ngantuk, hidung ini bau kecap yang hmmmm lezattttt…. manis pol sampe giung kalo kata orang Sunda.

Ini ngomongin kecap karena saya mau bikin semur. Saya kan punya hobi yang agak positif ya, selain hobi-hobi lain yang negatif :p. Walaupun nggak bisa dan nggak suka masak, saya sukaaaa banget ngumpulin buku resep. Salah satunya dari bonus kecap, pernah dapet edisi semur Nusantara. Ternyata bumbunya beda-beda ya semur itu. Ada yang pake lengkuas, ada yang pake pala, ada yang pake jahe, ada yang pake cengkeh. Yang ga ada tentu saja yang pake sendal jepit *apalagi merk swallow :p*.

Ngomong-ngomong tentang sendal jepit, tau ga sih, dulu waktu saya kecil ada lagu judulnya sendal jepit, saya sih inget dulu anak yang nyanyi ini gosipnya anak Bang Rhoma Irama. Gosipnya yaaa, saya lupa nama anaknya, tapi inget banget liriknya:

Duh kasihan, lihat kamu. Duh kasihan diinjek selalu, duh kasihan sandal jepitku, aduh-aduh.

Saya ajarin lagu ini ke Vio kalau sambil naik motor gitu, trus dia nanya kenapa kita jarus kasihan sama sandal jepit? Saya bingung jawabnya hahaha… Iya ya, kenapa harus kasihan, kan sudah fitrahnya dia diinjek.

Nah, tentang sandal jepit sudahlah ya *gara-gara sendal swallow nih*. Sekarang balik lagi ke semur. Melihat resep di buklet bonus binti gratisan dari kecap yang ga boleh disebut merknya tapi botolnya gambar bango itu tadi, saya menarik kesimpulan penting *gaya benerrrr*, semur itu yang penting coklat. Ya kan ya dongggg… Ya yang penting pake kecap :D.

Sore itu sebelum buka puasa, saya sih pengen banget bikin semur, tapi seperti biasa saya malah ga nemu di mana rimbanya buklet itu. Alhasil, saya mengira-ngira saja resepnya, seingetnya yang pernah saya baca aja. Pokoknya jangan lupa pake kecap, karena fitrah semur itu coklat pake kecap, sama halnya dengan fitrah sendal jepit yang mau nggak mau harus diinjek :p.

resep semur mudah

Maaf ya belepotan semurnya, lagi moto ada yang ga sabar pengen nyolek 😀

Bahan:
18 buah telur puyuh. Serius ini jumlahnya 18 loh, karena saya beli di pasar 25 biji dan yang tujuh udah dilep sama Vio. Saya udah lama ga belanja ke pasar, biasanya belanja di warung nasi Padang *beli maksudnya :p, ga masak*, saya nggak tahu kalau telur puyuh bisa di kilo, biasanya kan dihargai per biji 250-300 rupiah. Coba-coba beli seperempat, ternyata dong, udah harganya lebih mahal, isinya lebih dikit. Dengan uang 8.000, harusnya kalo beli bijian saya dapet 32 eh ini cuma dapet 25 *mewek di ketek Keanu Reeves*. Kalau kata Dessy Ratnasari sih ‘menyesal tak pernah di awal’ :p. Oh ya sampe lupa, telurnya direbus sampai mateng lalu dikupas kulitnya.
5 buah tahu putih, potong ukuran sedang, goreng setengah matang. Jangan terlalu kering gorengnya, biar bumbu meresap.
1 blok kaldu ayam (bisa diganti air)
Air matang secukupnya, sesuaikan dengan kebutuhan kuahnya, kalau pengen kental, airnya cukup 2 gelas belimbing, kalau pengen agak light, tambahin airnya :D. Pokoknya jangan kebanyakan aja, kalau sekiranya satu gelas kurang, baru ditambah. Soalnya kalau sampe kebanyakan air, proses masaknya bakal lama banget plus bumbunya ga meresap maksimal.
2 sdm minyak goreng untuk menumis bumbu

Bumbu halus
2 butir kemiri, sangrai
3 siung bawang putih
5 siung bawang merah
½ sdt jahe bubuk. Kalau ada jahe yang nggak bubuk sih ya boleh saja dipake, sekitar 2 cm digeprek lalu ditumis dengan bumbu halus. Saya kebetulan nggak punya karena jarang masak, jadi semua bumbu bubuk inilah penyelamat saya 😀
Bubuk pala secukupnya, saya pake 1/2 sdt juga.
Gula, garam, merica secukupnya, saya pake merica bubuk lah ya biar ga susah nguleg.

Bumbu tambahan:
3 biji cengkih kering, ini kok kebetulan ada di atas kulkas. Pasti hasil gelap mata suatu ketika di Kijang Mas ahahah… mbuh wis, inget-inget pas baca buklet kok ada yang pake cengkih, ya tak cemplungin aja 😀
2 lembar daun salam
5 sdm kecap manis. Ini saya kira-kira ya 5 sdm, karena langsung tuang dari botol ga ditakar. Pokoknya banyak biar sesuai sama judulnya, semur itu yang penting kecap 😀

Cara membuat:
1. Rebus telor puyuh sampai matang lalu kupas, sisihkan.
2. Potong-potong tahu sesuai selera, saya pakai tahu lembang ukuran besar, saya potong jadi 6. Goreng setengah matang, sisihkan juga.
3. Tumis bumbu halus, daun salam, dan cengkih sampai wangi.
4. Masukkan kaldu ayam (kalau nggak pakai kaldu ayam ya ganti air aja), lalu telur puyuh rebus.
5. Kecilkan api, tambahkan kecap sekitar 2 sdm. Tunggu sampai warna telur agak kecoklatan dan bumbu meresap, baru tambahkan air matang dan sisa kecap (3 sdm).
6. Masukkan tahu yang telah digoreng setengah matang. Besarkan api, maksudnya ya jangan gede-gede juga sih, sedang-sedang saja apinya, lalu tutup wajan. Biarkan 5-10 menit sampai bumbu benar-benar meresap, jangan lupa sesekali diaduk. Durasi ditutupnya ini tergantung keinginan ya, kalau mau kuahnya kental, ya agak lama. Saya suka yang kuahnya nyaris habis, jadi kuahnya sedikit, jadi ya lama sih masaknya. Bisa ditinggal luluran dulu gitu dehhhh… :p.

Nah, gimana? Ternyata bikin semur gampang ya? Gampang sih kalau cuman baca resep doang, kalau disuruh masak yaaaaa gampang-gampang susah. Tapi, yang ngaku-ngaku sebagai ibu Indonesia kudu bisa masak semur, soalnya bahasa Inggrisnya semur menurut om Wiki mah Indonesian Stew, berarti asli Indonesia gitulah kira-kira.

Oh ya, isinya bisa diganti-ganti ya. Bisa pake kentang, tempe, daging, telor dan lain-lain. Saya sempet bikin pake kentang rendang yang kecil-kecil itu bareng sama telor puyuh dengan niat yang tulus untuk mengelabui Vio dan ayahnya, biar ga melulu milih telur puyuh haahahaha… Ini trik diajarain sama ibu saya, jaman dulu waktu masih kecil sering masak sayur lodeh isinya telur puyuh semua dan bangkrut karena anak-anaknya kalo makan banyakan telurnya daripada nasinya. Akhirnya sama ibu saya dicampur dong sama kentang kecil, namanya telur puyuh KW 2. Suami saya sempet terkecoh dan berkomentar, “Wah, siasat ibu berhasil nih, semua yang diambil kok kentang semua.” Ssstttt… emang banyakan kentangnya, tapi rahasia yaaaa :p

Semur yang paling ngehits kayaknya semur jengkol ya? Saya belum pernah makan jengkol seumur hidup saya yang udah 18 tahun ini *ehemmm*, jadi ya belum bisa kasih testimoni secetar apa sih semur jengkol itu. Nantilah kapan-kapan kalo dirayu sama Brad Pitt buat makan semur jengkol, mungkin saya berubah pikiran *plak*.

 
42 Comments

Posted by on July 27, 2013 in Kisah di Balik Rasa, Resep

 

Tags: , , , , , ,

 
%d bloggers like this: