RSS

Category Archives: Cerita dari Dapur Hangus

Pengalaman kami bercengkrama dengan dapur

Playdate dan Meja Cakep

Playdate dan Meja Cakep

Alhamdulillah insyafffff, blog diisi lagi hahahaha… Meski setahun sekali nulis blog, bolehlah ya diaku sebagai blogger (udah kayak tahun baruan aja setahun sekali, situ kembang api, Neng?).

Nggak kerasa setahun sudah saya nyemplung sebagai instruktur (cieeee…) foodphotography. Setahun ini sudah sekitar 15 workshop saya lakoni. Terus terang terang terus, Hayati bosan, Bang! Meskipun nerima honornya sih ga pernah bosan tentunyah! Cuma yaaaa gitu deh, workshop doang mah terlalu biasa. Saya sempet memutuskan berhenti sejenak ketika sempet hamil awal tahun ini saking bosen dan capeknya.

Lalu otak cemerlang saya (ga boleh ada yang protes ya :p) berputar layaknya komidi putar, semalem suntuk ga tidur. Mikir berat gitu? Enggak sih, cuman gara-gara minum Americano coffee di kafe jadi melek lebar, menyesali jebolnya kantong dan mengapa ga nunggu di rumah aja trus nyeduh Torabika wakakaka… Setelah semalem suntuk melek, akhirnya saya kepikiran bikin semacam acara workshop yang sedikit lebih fun bagi saya dan menguntungkan bagi peserta. Tercetuslah acara yang namanya DAPUR HANGUS PLAYDATE.

Sebagai pilot project-nya, Minggu (4/9) kemaren saya menyambangi rumah Evelyne aka Pelin, the girl behind Mabelle By Eve, di kawasan Kopo, Bandung. Mo ngeliatin Pelin ngedekor cake ceritanya, sambil foto-foto sedikit, dan intinya sih MAKAN. Yah, jaman sekarang grup whatsapp mana sih yang belum pernah botram? Sebagai emak-emak yang terbatas grup whatsapp sekaligus grup botram, momen langka ini kudu ditulis di blog.

Bersama saya yang cuman modal kamera, 2 kontainer props dan 4 set alas foto (niat banget, Kak!), dateng pula Ci Anni Yuliani, owner Smoothcakes Artpudding, yang bawa segambreng kukis. Tugas saya cuma satu, icip-icip, trus klo udah bosen icip-icip boleh dah dibawa pulang tuh makanan, difoto setitik lah. Setitik itu mulai jam 12 beres jam 4, epic banget!

Begitu dateng, saya langsung jatuh cinta sama meja ruang tamunya Pelin, cakep bangetttt buat alas foto. Saya merencanakan ntar kalo ke sana mau bawa truk aja biar tuh meja masuk dan bisa dibawa pulang. Sebagai imbas meja yang cakep, alas foto saya cuman kepake 2 aja. Selain meja, di ruang tamu Pelin banyak banget propsnya. Pokoknya semua bisa dicomot deh. Ntar mah mau moto lagi pake kayu partisi yang ga kalah cakep. Saya mah sepakat aja ama Ci Anni, ruang tamu Pelin kayak kafe.

Sementara saya foto-foto, Pelin dan Ci Anni ngeliatin langsung cara saya moto. Ternyata cuman gitu doang hahaha… Gampanglah, tinggal pasang alas foto, atur-atur props sedikit, trus jepret. Beresssss… Karena seru dan fun, banyak ketawa, saya juga enjoy berat motretnya. Ga kerasa udah jam 4 aja, ada alarm hidup (baca: Vio) udah rewel. Dari mulai terang, mendung, ujan deres, sampai terang benderang lagi asyik aja kami moto, makan, dan nggosip (eh).

Ketagihan deh bikin acara beginian, semoga next bisa sebulan sekali bikin acara begini. Bayar ga? Bayar donggggg….. (ditimpuk Fujifilm). Oh ya, agenda terdekat Dapur Hangus Playdate tanggal 24 September ini, tapi masih rahasia katanya. Yang pasti ga bakal rugi deh, dapet ilmu foto, liat langsung barang dagangan temen-temen difoto, plus dapet foto cakep yang bisa dibawa pulang dan dipejeng di sosmed. Plus, dipasang di instagram paling kece @dapurhangus (siapin keranjang muntahan! Wkwkwk).

Daripada berpanjang-panjang, inilah hasil kami foto-foto seharian. Terima kasih Ci Anni dan Pelin, semoga ga kapok yaaaa…. kapan-kapan kita ulang lagi yes! Sampe ketemu lagi meja cakeppppp….

drip cakepie buahcookies all variancupcakejellycream ijo lagilidah kucingVioleta in frame

 
8 Comments

Posted by on September 5, 2016 in Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: , , , ,

Membangun Kenangan dengan Secangkir Teh

Tea Pairing

Tea Pairing

WARNING

Postingan ini bakal panjang buanget, so siapin cemilan heheheh

Afternoon tea selalu mengingatkan saya pada Lima Sekawan.  Buku karya Enid Blyton itu adalah buku favorit saya ketika masih duduk di SD. Sepulang sekolah, saya mengayuh sejauh 2 kilometer demi meminjam di rental buku langganan. Pun ketika bisa menyisihkan uang saku, saya masih harus berjuang membelinya di toko buku favorit di pusat kota. Kenangan itu tak terlupakan, dan saya selalu mengasosiasinya dengan secangkir teh dan makanan ringan favorit Lima Sekawan.

Adalah Anne, satu-satunya anggota Lima Sekawan yang paling feminin, yang piawai menyiapkan kudapan. Di tengah petualangan kelompok mereka, Anne selalu tak lupa menyiapkan makanan untuk saudara-saudaranya serta Timmy, anjing George, sepupu Anne.  Bahkan, ketika petualangan memuncak, Anne  selalu ngotot agar  mereka makan dahulu. Dari buku inilah saya mengenal limun dan kue jahe, cemilan favorit mereka yang selalu ada di setiap acara minum teh sore.

Saya selalu membayangkan, suatu saat saya bisa minum teh sore dengan aura kehangatan dan persahabatan seperti Lima Sekawan. Tapi, kenyataan ternyata tak seindah itu ya hehehe…. Saya minum teh di jembung (mug besar) yang diseduh untuk seluruh keluarga, saya, ibu, dan bapak saya (dan adik saya yang masih satu dan kecil ketika itu). Sepulang sekolah, saya menikmati teh dingin yang kental dan manis. Satu hal yang tak pernah saya lupa, setiap meneguk teh, ampasnya yang pahit  selalu ikut terhirup. Tak jarang bentuknya bukan daun teh, tapi batang pohon teh, menggangu sekali.  Teh dalam jembung itu mulai jarang kami nikmati ketika bapak mulai memilih kopi. Jembung besar itu tak seindah pengalaman Lima Sekawan, tapi pengalaman minum teh itu sama saja tak terlupakan bagi saya.

Dua minggu lalu, saya berkesempatan menyaksikan langsung Real High Tea Competition (RHTC) Cafe and Restaurant 2015 yang digelar Dilmah di delapan resto dan kafe  di Bandung. Pengalaman ini tak terlupakan bagi saya. Satu hal yang paling saya inget adalah obrolan saya dengan Bu Eliawati Erly, Brand Ambassador DilmahIndonesia sekaligus wakil PT David Roy Indonesia, yang menjadi juri RHTC,

“Teh yang bagus di Indonesia malah kebanyakan di ekspor, orang Indonesia justru minum teh kualitas rendah, bahkan batangnya.”

Jederrrr!!!! *pingsan tujuh kali*. Berarti teh yang terkenang-kenang dalam jembung dan saya nikmati setiap hari ketika kecil adalah teh berkualitas rendah. Saya jadi penasaran kan teh yang mahal seperti apa? Kesempatan menikmati teh “kelas tinggi” pertama kali ketika technical meeting RHTC di Luxton Hotel, Dago. DI situlah pertama kali lidah ndeso saya mengenal istilah teapairing, memadukan teh dengan makanan tertentu dan mendapatkan sensasi di lidah yang benar-benar berbeda. Ketika itu, kami disuguhi sepotong opera cake dan mint tea. Hebatnya, ada sensasi berbeda ketika saya mengunyah cake dulu baru minum teh atau sebaliknya. Bedanya bagaimana sih mbak eeee? Aduh susah dijelaskan dengan kata-kata. Pokoknya lidah saya yang ruwet sama makanan bule aja menerima, yang artinya luar biasa.

Karena ikut wara wiri sama tim Dilmah selama dua hari itu, saya juga jadi baru tau kalau afternoon tea adalah istilah yang sama dengan low tea. Langsung saya manggut-manggut mengingat buku yang saya baca seminggu sebelumnya. Agatha Crhistie, penulis favorit saya sepanjang masa, hampir selalu menggambarkan momen minum teh sebagai suatu hal yang sakral. Ketika Detektif Hercule Poirot mengunjungi salah seorang klien bangsawannya di waktu minum teh, Agatha Christie menggambarkannya dengan detail.  Jujur saya tak ingat judul buku yang saya baca, tapi saya mengingat ketika Poirot menggambarkan sang nyonya bangsawan menikmati teh dengan teman pie daging babi di meja duduk sebelahnya.  Ibarat tokoh film kartun, sel kelabu saya langsung mengeti, itulah makna low table, meja pendek di sebalah kursi santai.

Sementara itu, high tea yang awalnya saya bayangkan sama dengan  afternoon tea ternyata sedikit berbeda. High tea  dilakukan di meja lebih tinggi dari meja kopi, biasanya di meja makan. Pairing untuk tehnya pun biasanya makanan berat dengan citarasa gurih. Ketika mengunjungi Porto Resto, saya tertarik sekali dengan satu menunya, Cocotte de Saumon. Cocotte de saumon yang di-pairing dengan Lapsang Souchong Tea,  menggunakan 2 jenis telur serta telur ayam sebagai cangkangnya. Ketika Chef Eric Lowell menjelaskan bahwa Porto adalah telur menggambarkan kelahiran, sekonyong-konyong kenangan ketika melahirkan terbit kembali. Ada perasaan berdebar yang sama ketika menunggu bukaan lengkap. Lagi-lagi, momen kebersamaan dengan teh Dilmah membawa saya hanyut pada kenangan tak terlupakan.

Real High Tea Challenge Dilmah

Cocotte de Saumon, telur puyuh dan telur ikan dalam cangkang telur ayam, yang menggambarkan kelahiran. 

Ketika bergeser ke Kirbs Tea Room di PVJ, saya terkesan sekali dengan Claire, owner Kirbs.  Meski tak punya kitchen, Claire menyajikan makanan makanan yang menggoyang lidah dua juri, Chef Nanda Hamdallah dan Ibu Eliawati Erly. Saya paling suka konsep Alice in Wonderland yang disajikan Kirbs. Secara pribadi, saya juga mengagumi pengetahuan Claire tentang teh yang sangat luas. Motivasi utamanya mengikuti RHTC ini adalah untuk emperkenalkan manfaat teh ke masyarakat luas.

“Tidak cuma kopi yang memiliki banyak manfaat, teh juga nggak kalah,” ungkap perempuan berambut cepak ini.

real high tea challenge dilmah

Pojok Alice in Wonderlan Kirbs Tea room dalam Dilmah Real High Tea Challenge.

Bila dirunut, teh memang memiliki segudang manfaat. Selain baik untuk emncegah kanker, teh juga bisa meredakan stress, dan menyehatkan jantung. Selain itu, teh bisa juga untuk mencegah flu, mempertajam pikiran, serta melincungi tulang dan sendi. Menurut Ibu erly, teh juga baik untuk metabolisme.

“Apalagi Dilmah ini real tea ya, tidak ada campuran, minum sedikit saja kita bisa langsung pengen ke belakang (buang air kecil-penulis),” ungkap perempuan yang asli Bandung ini.

***

TEH DI INDONESIA

Warung makan khas Sunda selalu memberikan teh tawar hangat sebagai minuman gratis. Tapi, Anda harus membayar bila ingin teh manis. Dengan radar pengiritan tiada tara yang terinpirasi dari founder IKEA, Ingvar Kamprad, saya mengantongi gula  hanya demi teh gratis hahaha… For your information, teh tawar gratis, teh manis bayar ini baru saya temui di tatar Sunda saja. Di daerah Jawa Timur, tempat saya lahir dan besar, setiap memesan teh default-nya adalah teh manis. sampai situlah pengalaman nge-teh saya, cetek kalau kata orang Betawi mah.

Budaya nge­-teh di Indonesia memang belum familiar. Berbeda dengan cafe yang menyajikan teh, belum banyak restoran yang menyediakan menu afternoon tea atau high tea dalam daftar menu mereka. Kalaupun mulai banyak hotel berbintang yang menawarkan menu nge-teh, harganya ga ramah di kantong sebagian orang Indonesia. Padahal, sekali lagi, afternoon party bukanlah budaya tanpa manfaat. Lihatlah kemacetan di Jakarta setiap sore, mengapa tidak melepas waktu sejenak untuk ­nge-teh sembari menunggu lalu lintas normal?

Teh tak seperti kopi yang punya latte art dan sangat instagenic. Ketika teh terhidang, yang ada hanya obrolan dan kehangatan. Bukan smartphone yang berlomba mengabadikan latte art sebelum terlambat, lalu memasang hashtag #fotokopi *bok, siapa ya yang begitu?* :p*.  Bagi saya, ke-fancy-an teh hanya terletak di cangkirnya. Saya jadi mengingat Henrietta, salah satu toko dalam NCIS Los Angeles yang akhir-akhir ini jadi favorit saya, ia mengoleksi cangkir-cangkir teh cantik demi mendapatkan sensai afternoon tea ala British. Atau ketika saya merasa kecewa karena Bae Yong Joon menikah, saya menonton kembali Winter Sonata dan mendapati ternyata generasi awal drama Korea selalu diisi dengan adegan minum teh dengan cangkir-cangkir cantik ala Korea. Meski saya sudah menontonnya berulang kali, tapi ketika mendapati teh dan cangkir cantik, saya selalu terkenang akan Winter Sonata, teh hangat, salju, dan kebersamaan *cieeeee…. gubraks*.

***

Teh, memang selalu membangkitkan kenangan indah. Saya lalu mengerti sepenuhnya mengapa Merrill J. Fernando, founder Dilmah tea memberi nama Dilmah pada perusahaan teh yang dibangunnya, nama yang merupakan singkatan dari dua nama anaknya, Dilhan dan Malik. Mungkin, ia ingin mengenang momen terbaik dengan dua putranya. Harapannya ketika memberi nama tersebut, dua putranya akan mengikuti jejaknya membawa teh kualitas terbaik ke seluruh dunia. Dan kini, setelah 25 tahun membangun Dilmah, dua putra Merril J. Fernando bergabung dengan ayahnya, membawa teh Srilanka pada kejayaan sebenarnya di lebih dari seratus negara.  RHTC kali ini adalah salah satu kiprah Dilmah. Untuk perjuangan Dilmah, saya salut sepenuhnya.

 

***

Tulisan ini saya buat dalam perjalan menuju ibukota Jawa Tengah, Semarang. Saya coba iseng-iseng dengan melakukan pairing antara chamomile tea dan Tahu Sumedang. Entah hanya perasaan saya atau memang begitulah adanya, tahu Sari Bumi favorit kami sekeluarga terasa lebih gurih. Momen ini tak akan pernah saya lupakan, apalagi ketika kami benar-benar melewati jalur pantai utara Jawa (Pantura).  Pantura yang katanya kejam dan rawan benar-benar kami rasakan. Bagaimana saya akan lupa ketika kami berada di jalur yang benar sekonyong-konyong muncul bus dari arah berlawanan, memakan jalur kami. Beberapa detik saya menahan nafas dan berdoa, semoga chamomile tea Dilmah ini bukanlah teh terakhir yang saya nikmati. Aminnn…

 

Foto-foto yang saya ambil dengan gaya kuda-kuda hehehe… cangkeul juga, tapi puas sama hasilnya. Bersama tim DIlmah dua hari tak terlupakan, nuhun pisan ^_^

 
14 Comments

Posted by on September 22, 2015 in Cerita dari Dapur Hangus, Icip icip

 

Tags: , ,

Betapa Malasnya Nge-Blog 2013

Tahun 2013 menjadi tahun yang malas posting tulisan di blog ini. Makkkkk…. semoga tahun depan lebih semangat. Aminnnn….

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 170,000 times in 2013. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 7 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

 
8 Comments

Posted by on December 31, 2013 in Cerita dari Dapur Hangus

 
Image

Apa itu Ramekin?

Apa itu Ramekin?

Uncle Google menjawab segalanya, tapi ternyata tidak untuk jawaban dari pertanyaan, “Apa itu ramekin?”. Buktinya, banyak sekali yang bertanya kepada saya, baik lewat inbox FB atau komen di foto ramekin (yaaaaa komen di foto barang-barang yang disebut itu lohhhhh, padahal kan jelas penampakannya ya hihihi…). Eh, maksudnya uncle Google sih mungkin aja menjawab, tapi kurang lengkap tentang apa itu ramekin, apa kegunaannya, apa bedanya dengan mangkok lain? Mungkin yaaaa… takut kualat sama om yang sudah berjasa membantu saya belajar masak :p.

apa itu ramekin

Zen ramekin, made in Indonesia ❤

apa itu ramekin

Sejak Oktober 2012, saya mulai jualan ramekin, jadi sebenernya wajar sih kalau banyak yang nanya ke saya apa itu ramekin. Ga mungkin juga dia mau nanya ke Dian Sastro, kan? Jadi, daripada saya mengulang-ulang seperti kaset rusak, saya tulis di sini aja.

Eh, tunggu bentar, saya mau sedikit cerita (yang endingnya biasanya banyak :p). Duluuuuu…. saya kenal ramekin pertama kali karena bahas MPASI di forum The Urban Mama. Yang saya lakukan pertama biar ga keliatan bodoh karena ga tau, ya saya gugling, kebetulan saya smart dan punya smartphone yang lebih smart. Itu dulu ya tahun 2010, saat yang namanya smartphone baru si apel dan si berry hitam saja. Kalau sekarang mestinya lebih banyak hape yang smart, tapiii…. ah ya sudahlah :D.

Setelah gugling, saya selalu kepikiran sama mangkok nama ramekin ini, tapi belum pernah nemu juga. Sampai suatu ketika, entah mengapa setiap malam saya gugling terus yang namanya ramekin. Ehhh…. tau nggak, tiba-tiba saya dapet pangsit eh wangsit bertemu dengan ramekin nggak lama setelah itu. Sejak itulah saya jualan dengan sistem Pre Order.

apa itu ramekin

Ini ramekin dengan kuping, bagus juga kan. Nah, ini contoh yang polos, ga bergelombang.

Sebelumnya saya nggak percaya loh orang bisa bisnis tanpa modal, tapi Allah Maha Baik dan menunjukkan jalan memulai usaha untuk saya. Dari modal nol, sekarang saya bisa memesan ramekin langsung dari pabrik senilai lebih dari sepuluh juta. Dan nikmat mana lagi yang harus saya dustakan? *dorrr seriusssss yaaa :p*. Minat? Inbox saya ya *MLM mode on :p*

Tuh kan, bener aja panjang. Jadi, apa itu ramekin?
Ramekin (ramequin) itu mangkok tahan panas yang bisa dipakai untuk oven, microwave, dan mengukus. Yang membedakannya dari pinggan tahan panas adalah bentuknya yang kecil jadi pas banget untuk satu porsi makanan. Setelah makanan di oven/microwave, bisa langsung dihidangkan di meja makan karena penampakan ramekin yang cantik kayak Asmirandah ^-^. Untuk keterangan lengkap asal kata dan sebaginya, silahkan buka di Wikipedia di sini atau di sini juga.

Kalau dari link di wikipedia itu kan jelas ya, ada bermacam-macam ramekin. Ada yang wavy side alias bergelombang permukaan luarnya ada juga yang plain/polos. Ciri khas ramekin ya memang dari bergelombangnya itu. Jadi, nggak usah bingunglah kalau yang punya mangkok yang ga bergelombang tapi tahan di oven, bisa disebut ramekin nggak kira-kira? Silahkan dipikirkan jawabannya sendiri :D.

Apa itu ramekin

Dragon Ramekin yang tak sempet diupload pun sudah ludes

Nah, definisi udah jelas kan? Sekarang bahan pembuatnya ya. Saya nggak paham bener sih tentang bahan-bahan ini, tapi dari pengalaman saya berkecimpung di dunia per-ramekin-an, bahan pembuat ramekinlah yang menentukan kualitas dan keawetannya. Ada yang menyebut bahan keramik, porcelain, white porcelain, dan glass. Ada yang sekadar dari keramik, tahan di oven juga, harga cuma lima ribu, lihatlah sekitar 6 bulan kemudian dengan minimal penggunaan seminggu sekali, ada garis-garis halus seperti retak. Ya namapun murah, jangan harap awet sampe kita kakek nenek ya. Tapiii, kalau untuk semacam koleksi atau you named kekalapan ingin punya, ramekin lima rebuan ini big deal banget! Di mana belinya? Di Giant biasanya banyak kalau lagi ada.

Ada juga yang dari white porcelain (eh saya pun bingung porcelain dan keramik itu sama ga ya?), biasanya lebih mahal, tapi ya memang lebih bagus. Saya membedakannya dengan tangan dan mata awam ya, bukan ahli porcelain. Lebih awet nggak? Sumpah saya nggak tau. Walopun sudah jualan ramekin dari tahun lalu, PERCAYALAH SAYA NGGAK PUNYA RAMEKIN untuk dipake sendiri hehehe… p.

Kadang, ada mangkok yang hanya bisa dipakai di microwave saja. Mengapa? Perhatikan, kadang ada motif di luar mangkok, kalau di oven dengan durasi lama, motifnya akan memudar. Atau… di bagian dalam mangkok dicat (diwarnai) siver atau gold. Warna ini bukan warna asli keramiknya ya. Ini yang biasa kita temui di Ace Hardware, udah imut lucu cantik ternyata ga bisa dipake buat oven :(.

Apa itu ramekin

Warna warni cantik yaaa…

Saya nggak ngerti sih mengapa dalemnya harus diwarnai, tapi untuk durasi penggunaan di oven yang lama, takutnya cat itu masuk ke bahan makanan. Itulah mengapa nggak bisa dipakai di oven, sayang ya sebenernya.

Dari cerita puanjangggg di atas, kesimpulannya ternyata hampir semua mangkok bisa dipakai di oven, bahkan mangkok kaca yang selusin 10ribuan di pasar tradisional. Untuk pemanasan yang nggak lama, semuanya bisa dipakai (dan pada akhirnya bolehlah disebut ramekin). Kata mbak Titi, di tukang zuppa soup depan alfamart gitu, yang dipakai mangkok biasa yang bahkan bisa dibeli dengan harga seribu saja. Kok bisa? Karena zuppa soup tak butuh pemanasan lama, hanya sampai puff pastrynya mengembang, tak sampai 10 menit mungkin.

Selain dipake bikin zuppa soup, ramekin juga dipakai untuk membuat chocho lava cake, lasagna, segala turunan skutel, dan souffle. Souffle ini konon awal mula diciptakannya ramekin. Fungsi ramekin bisa digantikan oleh cup dari alumunium foil dan silicon cup, kalau alumunium foil sekali pakai, silicon cup bisa dipakai berulang sama halnya seperti ramekin. Hanya untuk makanan yang sifatnya cair, memakai silicon cup beresiko tumpah.

Kalau memang pengen punya ramekin, ya mulai sekarang buka-buka lemari deh, ada nggak mangkok polos yang bisa diuji coba dipakai di oven. Kalau nggak ada, lakukan hal yang sering saya lakukan, buka-buka lemari emak hahahah :p. Nah, kalau nggak ada juga, bolehlah beli di Dapur Hangus.

NB: Ceritanya jadi pamer foto ramekin ya wekekek :p

Apa itu ramekin

Ramekin Yoshikawa

 
27 Comments

Posted by on December 27, 2013 in Alat Tempur, Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: , , , , , , , ,

Chef Abal-abal Jadi “Penulis”

Chef Abal-abal Jadi “Penulis”

Ketika merencanakan membuat blog ini, pas banget nemu lomba nulis yang isinya pengalaman masak. Saya berbinar-binar mengingat hadiahnya adalah gadget daput yang sampe sekarang pun saya belum punya, MIXER :D. Sayang saya ga dapet mixer, tapi ternyata beberapa tulisan pemenang dibukuin dan sekarang bukunya udah terbit.

Biarpun jelek, saya udah pernah nulis buku *bangga sampe kiamat*. Bukan karena saya penulis, bukan karena suka nulis, dan bukan karena pengen eksis. Saya cuma beruntung bisa menulis. Beruntung punya komputer, punya laptop, punya BB yang sinyalnya senen kemis, beruntung dan bersyukur pokoknya *sholehah mode on :D*.

Oh ya, ini buku pertama dari Grup HHBF di Facebook, nah nanti katanya ada buku ke-2 juga yang isinya resep-resep. Tapi saya ga ikut-ikutan nulis lagi, yang nulis admin HHBF aja.

Nah ini penampakan tulisan saya di buku, ga pa pa ya narsis dikit. Ga perlu beli, tapi kalo borong boleh dong! *modus :p*. Cakep ya di ilustrasinya biar dapurnya hangus juga, mana ovennya gede kan. Ih di dapur saya mana ada oven segede itu, adanya mesin cuci. Memang dapur saya salah fokeus sih, ga jelas dapur ama londri, abisnya rumahnya cuma seiprit sih ya.

Sambil malangkrik :p

Tulisan saya yang masuk buku kayak apa sih? Apa harus beli bukunya? Nggak harus sih kalau cuma mau baca tulisan saya, tapi kalau mau baca hal-hal bermanfaat lain, buku ini wajib di beli (saya juga jual, gitu kira-kira lanjutannya :p). Buat yang mau MPASI atau MPASU, harus punya lah yaaaa…. Kalau cuma mau baca tulisan saya, di bawah ini tak lampirkeun kok, versi asli tanpa diedit. Kalau mau versi diedit ya beliiiiiii dongggg! Semoga para juri ga nyesel ya milih tulisan saya masuk di buku :D.

***

Dapur Hangus, Surat Cinta untuk Violeta
Oleh: Ika Rahma

Hidup saya sempurna, setidaknya begitulah menurut saya. Punya bisnis idaman, kuliah di jurusan yang menyenangkan, menikah dengan mantan atasan yang lucu dan imut-imut (uhuk-uhuk, pssttt….jangan kasih tahu suami saya ya! :p), serta Rahmania Violeta Corleone sang guru kecil yang menakjubkan.

Sampai di situ semua masih sempurna kan? Sayangnya kesempurnaan itu mulai goyah ketika Vio berusia 5 bulan. Artinya H-30 saya harus mengenalkan makanan padat untuknya. Artinya, saya harus masuk dapur. Artinya saya harus bersahabat dengan ulekan, bercengkerama dengan kompor, mengakrabi penggorengan, dan berparfum bawang. Aihhh… dengan kata lain: Neraka!

Eits! Jangan dulu dibayangkan neraka dengan iblis berbentuk panci, ulekan, penggorengan, kompor, dan kawan-kawan ya. Ini sih neraka versi saya, neraka dapur. Dapur itu seolah membuka ‘luka lama’. Lagi-lagi ‘luka lama’ ini versi saya, bukan versi band Cokelat yang liriknya ada kalimat mengenangmu menyesakkan jiwa. Sedikit mirip, tapi ‘luka lama’ versi saya adalah dapur. Ironisnya, dua orang yang membuat saya antidapur adalah suami dan ibu saya sendiri (tapi tetap jangan dibayangkan suami saya kayak iblis di neraka pake bando panah, suer suami saya lucu hihi…).

Alkisah tiga bulan setelah menikah, kami pindah ke rumah baru. Kami bersemangat 45 seperti pahlawan yang semangat bergerilya, bedanya pahlawan pegang bambu runcing, saya sih pegang ulekan. Dipasanglah kompor gas di dapur. Percobaan perdana sangat mengesankan, dapur kami hangus sodara-sodara! Kompor gosong, api besar, dapur hangus membuat suami saya panik. Refleks dia menyiramkan air ke api yang tentu saja apinya tidak langsung mati malah menjilat-jilat. Pengalaman pertama dengan dapur benar-benar tak terlupakan, masakan kami berjudul dapur hangus. Biar sedikit romantis (cieee…) dapur hangus ini saya jadikan judul blog saya biar anak cucu saya nanti membacanya.

Lalu ibu saya membuat saya trauma dapur lebih awal. Ibu saya orangnya cermat, salah satunya tak boleh mengupas bawang sampai ke dagingnya. Sayang katanya! Bagi yang sudah terbiasa memisahkan bawang dari kulit arinya sih gampang saja, tapi bagi saya lain lagi. Itu bencana hiks hiks… Eits, bukan bermaksud membicarakan ibu saya, bukan itu! Saya ambil hikmahnya saja, di usia 22 bulan, Vio sudah bisa mengupas bawang putih tanpa cacat. Lumayanlah meringankan pekerjaan dapur saya heheh… (jangan dilaporkan ke Kak Seto ya, ini hanya memanfaatkan potensi anak. Tapi kalau ada agensi iklan yang mau meng-hire Vio jadi bintang iklan kupas bawang sih boleh aja hihihi…)

Duh, jadi ngelantur kan. Ya pokoknya dapur itu jadi neraka dunia buat saya. Oya, ditambah lagi saya agak geuleuh dengan makanan yang blenyek-blenyek seperti bubur bayi. Jadi kebayang kan kegalauan saya ketika Vio akan mulai MPASI. Sudah tak suka dapur, tak bisa masak, ditambah merinding melihat bubur bayi menjadi paduan yang sungguh tak menguntungkan buat saya dan Vio.

Tapi syukurlah Tuhan tidak memberi saya cobaan yang lebih berat karena segitu saja sudah seperti mengangkat bola dunia dengan jari kelingking. Saya menemukan metode baby led weaning (BLW) yang dipopulerkan oleh Gill Rapley dari hasil berselancar di dunia maya. BLW intinya skip tahap puree dan mengenalkan tekstur asli makanan ke bayi. Orang tua hanya perlu mengikuti petunjuk bayi (baby led) kapan dia mau makan, kapan dia mau berhenti makan. Aha… inilah yang cocok buat kami berdua. Setidaknya bagi saya ya, sempat sebulan dua bulan belajar dulu membuat makanan bayi. Lalu apa MPASI pertama Vio? Kentang kukus, itupun ibu saya yang mengukus hehehe… Saya dan Vio (serta suami saya yang imut tadi) merasa pas dengan metode ini dan memutuskan Vio MPASI dengan full BLW tanpa spoon feed sama sekali.

Ketika Vio semakin ‘ganas’ melahap makanan, saya mulai ketar-ketir. Dia sudah membutuhkan sesi ngemil finger food di sela-sela makanan utama. Saya galau lagi nih ceritanya (sering banget galau ya kalau dipikir-pikir jadi kayak ABG aja ). Pucuk dicinta ulam tiba, ibu saya memiliki multipan yang bisa menjalankan fungsi memanggang. Tanpa basa basi, saya rampok multipan ibu saya (ga modal mode on). Multipan itulah bekal pertama saya memasuki dunia yang tadinya seperti neraka, dunia masak memasak.

Finger food pertama untuk Vio adalah kue keju (yang di dunia persilatan dikenal dengan nama cheese bliss). Saya sengaja membuat kue keju ini waktu mertu berkunjung biar dibilang menantu idaman hehehe… Rasanya enak, renyah, gurih. Apakah Vio suka? Tentu saja! Tapi tetap saja, emaknya jauh lebih suka. Komposisinya ¼ buat Vio dan ¾ buat emaknya hehehe… Percobaan perdana yang sukses besar ini membuat saya ketagihan memasak dan baking-baking. Dapur menjadi surga bagi saya, tapi berubah jadi neraka bagi suami karena saya jadi gemar beli ini itu buat dapur (maaf ya Pak Suami, yang penting kan homemade ).

Singkat kata, saya mulai suka memasak dan mencoba resep. Ketika Vio 11 bulan, saya sudah cukup mumpuni mengolah bahan makanan. Yah, walaupun belum bisa disamakan dengan Chef Vindex, saya mau dan ikhlas disandingkan dengan Chef Juna (maunya hihihi…). Dari mana saya belajar memasak? Ya tentu saja dari mbah paling pandai sedunia dan jagat raya, Mbah Google. Untung ada Mbah Google, kalau tidak pasti kasihan ibu saya sehari lima kali menerima telpon dari saya untuk menanyakan hal-hal remeh seperti, “Bu, merica sama ketumbar bedanya apa?” atau “Bu, kunyit itu yang kuning bukan sih?”

Ya ya ya, itulah masa lalu saya. Masa sekarang sudah jauh berbeda. Perlahan tapi pasti (pasti maksa suami maksudnya), saya mulai punya peralatan dapur mutakhir seperti oven listrik, panci presto, double pan yang tersohor karena Happy Salma, sampai printilan kecil seperti loyang dan cookie cutter. Sekadar info aja sih, panci presto belum lunas juga. Rasanya nunggu panci presto lunas itu kayak nunggu tahun 2050, luamaaaa… (keliling ke rumah admin HHBF minta sumbangan buat bayar panci presto *dipentung Ibu Ping karena OOT*).

Lanjut ya, sekarang saya bisa masak macam-macam makanan. Kalau dulu cuma bisa ngukus kentang, sekarang saya bisa bikin baked potato yang endang bambang (maaf minjem nama Pak Bambang sebentar :p). Kalau dulu pinter banget beli muffin di bakery, sekarang dengan bangga saya siarkan ke seluruh dunia kalau saya bisa membuat muffin yang enak walaupun resepnya kira-kira saja (suerr ga bohong, nanti kalau menang saya bagi muffin ketan hitam satu-satu buat member HHBF hihi…).

Bahkan, kalau lagi kesambet setan dari Papua, saya bisa saja jam 11 malam koclok-koclok telur pakai whisker buat bikin brownies (ini superkode biar menang mixer maksudnya hahaha..). Kalau lagi kesambet setan dari Betawi, saya bisa tiba-tiba bikin nasi uduk jam 1 pagi. Lain lagi kalau kerasukan setan dari Bali, saya tiba-tiba saja bisa ungkep ayam jam 3 pagi. Wah, masa sih masak tergantung asal geografis setan? Tenang, sebentar lagi zona waktu digabung sama pemerintah jadi jam tidur setan Papua bakal sama dengan saya yang di Bandung (sssttt… udah liat pentung karena ngelantur nih!).

Makanan favorit keluarga kami sebenarnya sederhana. Seperti mobil Esemka, 90 persen lidah kami terbuat dari onderdil lokal hihihi… Jadi, sebagian besar menu Indonesia tercinta seperti sayur asem, sayur bening, rendang daging, opor, rawon lolos uji emisi oleh pencernaan kami. Sisanya 10 persen diimpor dari RRC (karena suka capcay), Italia (karena kadang-kadang pasta), dan Jepang (karena suka katsu-katsuan).

Jadi tulisan ini maksudnya apa sih? Nglantur ngalor ngidul ga jelas. Poin utamanya dan yang paling penting adalah. Kalau saya yang tadinya ga suka masak, alergi dapur, ga betah diam di rumah saja akhirnya bisa mengakrabi dapur, yang lain juga pasti bisa dong. Masalah rasa nomor sekianlah, masalah penampilan nomor sekian lagilah (susah mau menyesuaikan penampilan dengan Farah Quinn sih ya ), yang penting masakan yang kita sajikan di rumah makanan sehat, mengandung unsur yang lengkap. Kalaupun mau masak soto Bandung jadinya coto Makasar pun ga pa pa, yang penting masih sama-sama soto (idih, ini sih saya aja kayaknya masak apa tapi rasanya apa).

Jelas sekali semangat saya biar Vio makan sehat membawa saya ke jalan yang benar untuk suka memasak. Aminnn… Saya yang tadinya ingin berkarir, stress kalau diam di rumah terus akhirnya memilih mengendurkan niat berkarir setelah tahu memasak sama menantangnya dengan bekerja kantoran. Serius, kali ini saya super duper serius. Masih terpatri jelas di ingatan saya bagiamana deg-degannya menanti cheese bliss matang itu sama dengan menanti kalimat, “Mau nggak kamu jadi istriku.” (uhuk-uhuk).

Saya menemukan sensasi kebahagiaan lain dengan memasak makanan rumahan untuk keluarga kecil saya. Kebahagiaan yang sederhana seperti berhasil membuat sambal ala Bu Rudy yang ngetop seantero jagat mengalahkan Miss Universe. Semakin lengkap kebahagiaan saya melihat suami lahap makan karena sambel bikinan saya (walaupun akhirnya sih bolak balik ke toilet, itu nggak termasuk klaim asuransi masakan saya :p). Semakin bahagia pula ketika melihat Vio penasaran dengan apa yang saya lakukan di dapur, sampai akhirnya saya delegasikan masalah mengupas bawang putih kepadanya.

Akhir-akhir ini malah saya punya hobi baru yang sensasinya membuat fly melebihi ekstasi. Bongkar-bongkar dokumen dan foto di HHBF, catat resep ini itu, browsing resep-resep bersama Mbah Google, serta main-main ke blog-blog memasak. Semuanya benar-benar membuat saya fly, semangat saya terbang untuk memasak. Ada satu buku khusus yang isinya resep-resep andalan saya, walaupun buku itu pada akhirnya lebih banyak diisi Vio dengan coretan-coretannya. Buku itu, blog saya, dan tulisan ini menjadi saksi bagaimana perjalanan saya belajar memasak. Saya persembahkan Dapur Hangus untuk Vio dan adik-adiknya nanti.

Lalu apa? Cukupkah hanya bahagia? Ya dicukup-cukupkan sajalah. Saya berbahagia menjadi chef keluarga.

Salam Homemade 😀

Homemade Healthy Baby Food, padahal Vio BLW, saya ga pernah bikin makanan bayi hehehe...

Homemade Healthy Baby Food, padahal Vio BLW, saya ga pernah bikin makanan bayi hehehe…

***
NB: Tadinya sih tulisan ini mau dibikin posting pertama di blog, tapi karena pengumuman lomba waktu itu mundur, jadi ga jadi deh, saya bikin lagi Mengapa Dapur Hangus yang lebih ringkas :D.

 
 

Tags: , ,

Untung Ada Foodpanda

Untung Ada Foodpanda

Laper, males masak, lalu males beli ke luar itu sebenernya bukan paduan yang cucok yah. Pilihannya buat saya ada dua, maksain beli ke luar sambil menahan laper dan resiko masuk angin *lebay* atau masak (baca: goreng telor ceplok :p). Tapi siang itu sayangnya saya males melakukan dua pilihan itu, pengennya sih telfon lalu makanan dateng, macem delivery service gitu. Tapi saya lagi pengen yang menunya beraneka macam, bukan hanya ayam atau kentang goreng atau pizza ajah. Maunya nasi aja, mengingat perut kami bertiga sedikit katrok.

Udah laper, males masak, males beli, pengennya macem-macem pula. Paling tepat memang teriak, Doremoooonnnnnn keluarin jin yang bisa masak dari kantong ajaib. Mungkin Doraemon akan jawab, “Ribet banget sih jin harus masak, mana harus ngeluarin panci, kompor, talenan, pisau Oxone *sekalian promosi*.” Pokoknya mending beliiiiiiii…..

Saya lagi nongkrong di Kampus UPI, tepatnya di Sekretariat IKA UPI sambil nungguin suami tercinta yang lagi berenang biar sixpack katanya. Bukannya ambil motor lalu beli makan, saya malah sibuk gugling lalu dilanjut blogwalking ke blog masak-masakan dan makan memakan #eh :p. Blognya foodblogger maksudnya, yang isinya masakan-masakan enak, tampak saya nggak bisa praktiknya, fotonya bagus pula, dan yang terpenting adalah nggak hangus ahahaha *berarti bukan blog ini*. Ya bisa ditebak saya makin laper lah ya, semua juga tau. Tak ada kata lain selain laper dan laper banget sodara-sodara.

Pas buka-buka blognya mbak Hesti, saya nemu postingan ini. Mata langsung berbinar bahagia seperti Cinderella yang diajak dansa sama Jang Geun Suk *mauuuuuu….*. Ada food delivery yang dipesen secara online, foodpanda. Cucok! Langsung meluncur ke foodpanda.co.id sambil deg-degan ada ga ya di Bandung? Eh, ternyata ada dong dong dong. Hepi berat!

Order Food Online in 3 Easy Steps

Order Food Online in 3 Easy Steps

Katanya, Foodpanda itu order food online in 3 easy steps. Masukin area, pilih resto-nya, dan pilih menu-nya. Gampang? Gampang banget! Yang bikin nggak gampang sih telunjuk saya yang ga bersahabat sama touchscreen tab punya suami, berkali-kali harus ngulang pilih menu. Akhirnya nyerah loh, buka laptop dulu dan memang lebih gampang. Buat yang pake android, foodpanda ada aplikasi khususnya, hanya pastikan jari Anda tak seperti jari saya yang katrok touchscreen hihihi…

Pilihan resto di Setiabudi, lumayanlah... :D

Pilihan resto di Setiabudi, lumayanlah… 😀

Kami memutuskan memilih resto Sangkuriang, didasari pada lambung yang 100 persen terbuat dari onderdil lokal. Horayyy ada menu buntut, langsung klik dan pilih-pilih menu pendukungnya. Cuma 5 menit klak klik, daftar, buka email untuk konfirmasi, dan isi form, ehhhh udah di telp aja tuh sama orang foodpanda. Cepet yah! Lalu terjadilah percakapan seperti ini:
FP: Bu, bener melakukan pemesanan bla..bla…bla…
Saya: Benar.
FP: Tolong dimasukkan kode verifikasi dari hp ke web-nya bu
Saya: Ga bisa mas *dalam hati jangan sampai dibilang gaptek*
FP: Gampang bu, tinggal masukin kode yang dikirim ke hp ibu, nanti di web ada window-nya.
Saya: Masalahnya window-nya udah saya close *jederrrrr :p*, bisa diulang ga mas?
FP: Oh ya udah ga pa pa, yang penting sudah konfirm ya melakukan pesanan.
Saya: Iya Mas, jangan lama-lama ya keburu laper *ga tau malu*

Lima menit kemudian:
FP: Bu, mohon maaf menu buntut habis semua, mau diganti yang lain.
Saya: Yah, mas, saya pengennya buntut, kalo yang goreng ada nggak? *ngotot*

Nih struknya, btakut dikira hoax mah struk harus ditunjukin :)

Nih struknya, takut dikira hoax mah struk harus ditunjukin 🙂


FP: Habis semua bu untuk menu buntut.
Saya: Ya udah buntutnya diganti aja, tapi semua mau diorder ulang mas, soalnya saya mau pesen sapi lada hitam tapi pesenan yang tadi ada sayur asemnya, nanti rasanya nano-nano dong.
FP: Baik, Bu
Saya: *dalam hati* Mas nya pengertian banget ya, ogah juga kali makan sapi lada hitam bareng sayur asem.

Lalu saya order ulang dannnnn…. sejam kemudian pesenan dateng. Eh, ga sampe sejam sih, 45 menitan lah. Bayar di situ juga, mana bapak delivery Sangkuriangnya udah siap sama kembalian. Eits, tapi kami lebih sigap bayar pake uang pas hahahaha… Sapi lada hitamnya buanyakkkk dan puedessss, sampe dibungkus lagi *setelah dipoto-poto sama potograper*, dimakan buat sarapan besoknya.

Foodpanda.co.id ini jaringan internasional dari foodpanda.com. Saya aja melongo loh asli, ini orang kirim-kirim makanan aja jaringannya seluruh dunia begini. Hebat dan keren bener deh! Di Indonesia sendiri baru tersedia layanan di 3 kota/pulau, Jakarta, Bandung, dan Bali. Sayangnya, pilihan restonya masih terbatas. Saya sempet mau pilih Lekko di Setiabudi, iler udah netes-netes ke lantai, ehhhh… ternyata Lekko-nya di Setiabudi Jakarta, duhhh kecele nih yeee…

Sapi Lada Hitam, tanpa masak langsung makan ^^

Sapi Lada Hitam, tanpa masak langsung makan ^^

Ini foodpanda bikin ketagihan deh kayaknya, gabungan males masak, laper, dan males keluar rumah ga masyalaha lagi dong. Klik klik klik lalu tunggu, makanan lezatos dianter sampe depan rumah. Aihhh…. syedappp!

“Dan nikmat manakah yang kau dustakan?”

Subhanallah, saya bersyukur ada foodpanda. Untunggg banget ada foodpanda ;).

Menu lengkapnya, plus 2 macem jus :D. Kenyangggg....

Menu lengkapnya, plus 2 macem jus :D. Kenyangggg….

 
5 Comments

Posted by on June 30, 2013 in Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: , ,

Menulis Bersama, Menorehkan Sejarah Bersama Warung Blogger

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

Saya suka sekali quote itu, tapi kadang pura-pura nggak suka biar suami saya nggak besar kepala :p *istri kompetitif*. Suami saya, lulusan Jurusan Pendidikan Sejarah, yang kemudian nyemplung menjadi wartawan lalu menggantungkan penghasilannya di ujung pena. Hidupnya seperti digambarkan dengan tepat oleh Pramoedya Ananta Toer, tentu saya iri.

Saya, mengantongi predikat sarjana Ilmu Komunikasi dari Jurusan Jurnalistik, mantan aktivis pers kampus lalu berakhir dengan menjadi ibu rumah tangga. Suatu tugas mulia, tapi saya yakin bapak dan ibu dosen saya tidak bangga. Yang membanggakan tentu ketika anak didik mereka berhasil menjadi jurnalis sukses, menjadi anchor di televisi, meraih penghargaan, dan karyanya banyak dipuji. Sekali lagi saya iri.

Saya iri. Suami dan teman-teman saya berhasil merangkai sejarah mereka sendiri dengan lantunan tuts keyboard mereka. Mereka menulis dan mereka menorehkan sejarah. Tapi ini bukan tentang saya dan rasa iri saya, ini tentang kita. Saya tak hendak mengukir sejarah sendiri, karenanya saya menulis postingan ini.

Alkisah suatu hari Komandan Blog Camp, Pakdhe Cholik melontarkan ide untuk membuat buku bersama Warung Blogger. Ada berbagai tema, mulai parenting, travel, olahraga, teknologi, sains, dan masih banyak lagi. Saya cuma numpang lewat aja karena kesibukan saya bermanja-manja dengan kardus dan lakban *prikitiew*. Dalam hati, “Saya saja tak sempat update blog, masa ikut-ikut proyek nulis buku?”

Tak dinyana Teh Nchie menawari saya menjadi Desk Officer (DO), penanggung jawab maksudnya *terlalu keren bahasanya, sampai rasa-rasanya terlalu berat buat saya*, untuk tema resep dan masakan. Saya menyetujui, tapi seperti biasa, saya sibuk dengan urusan *lagi-lagi* kardus dan lakban, dan Teh Nchie juga sibuk menjadi Dewi SEO *eh :p. Jadi, setelah satu setengah bulan berlalu, barulah woro-woro ini diposting. Sementara itu, tema-tema lain sudah akan jatuh deadline-nya akhir Mei ini.

Bingung? Sama saya juga bingung. Pas dibaca lagi kok ruwet begini sih? Hahaha… Baiklah mari kita bikin singkat. Warung Blogger punya proyek menulis buku dan saya jadi penanggung jawab untuk tema resep dan masakan. Pasrah aja walau nggak bisa masak, saya masih bisa eksis *loh, salah fokus*. Teman-teman boleh mengirimkan resep masakan, foto masakan, hasil wisata kuliner, dan segala jenis hal yang berhubungan dangan masak, dapur, resep, dan makanan. Boleh juga hasil reportase ala-ala koran gitu deh.

Syaratnya gampang saja, silahkan dibaca ketentuan berikut:

SYARAT UTAMA
Untuk syarat dari nulisbuku.com silahkan klik link di bawah ini : http://abdulcholik.com/2013/02/20/buku-karya-anggota-grup-warung-bloggerterms-conditions/

SYARAT TAMBAHAN (yang lebih banyak dari syarat utama :p)

1. Blogger dan harus jadi anggota WB (yang belom terdaftar bisa klik di sini untuk bergabung)
Nggak harus foodblogger, asal punya blog dan sudah member WB saja.
2. Gaya penulisan bebas dan sopan. Bahasanya tidak harus baku, asal enak dibaca aja dan tidak mengandung SARA, alay, atau temen-temennya alay *maksudnya bahasa autotext BBM*.
3. Boleh mengirimkan resep, review tempat makan, recipe card, tips memasak, cara mengatur dapur, interior dapur, chef favorit dkk. Yang perlu diperhatikan, semua harus karya sendiri, bukan copy paste, bukan comot di blog tetangga, bukan pula hasil menghapus watermark foto karya orang lain. Resep boleh hasil googling, tetapi harus diuji coba di dapur masing-masing.
4. Postingan boleh baru, tapi boleh juga yang sudah diposting di blog dengan modifikasi agar lebih menarik.
5. Boleh kirim lebih dari 1 karya.
6. Karya dikirim ke dapurhangus@gmail.com dengan subjek email Buku WB
7. Format pengiriman karya :
– Ketik di MS Words, A4, Time News Roman font 12, 1,5 spasi. Margin 3-3-3-3
Kirim dalam bentuk attachment, bukan di badan email
– Bila menggunakan foto, boleh diattacthment dengan maksimal ukuran 300KB
– DI badan email, tulis nama FB (untuk mengecek apakah sudah menjadi member WB atau belum), judul, biodata singkat (boleh dengan atau tanpa foto)
8. Deadline pengiriman karya 15 Juli 2013 pukul 23.59 WIB. Batas waktu pengiriman bisa diperpanjang sesuai kebutuhan.
9. Semua hasil penjualan buku ini nantinya untuk kegiatan sosial yang dikoordinasi oleh para admin dan member WB.
10. Karya yang masuk tidak dipungut biaya sepeserpun.

Jadi, mari kita menulis bersama, menorehkan sejarah kita bersama. Swit wiwwwwwwww *tumben serius :p*. Selamat menulis, kami tunggu kiriman karyanya :).

Salam hangat bau minyak bawang,

Ika Rahma
Chef Abal-abal

 
31 Comments

Posted by on May 27, 2013 in Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: , , ,

 
%d bloggers like this: