RSS

Category Archives: Alat Tempur

Segala peralatan yang berinteraksi dengan dapur

Image

Apa itu Ramekin?

Apa itu Ramekin?

Uncle Google menjawab segalanya, tapi ternyata tidak untuk jawaban dari pertanyaan, “Apa itu ramekin?”. Buktinya, banyak sekali yang bertanya kepada saya, baik lewat inbox FB atau komen di foto ramekin (yaaaaa komen di foto barang-barang yang disebut itu lohhhhh, padahal kan jelas penampakannya ya hihihi…). Eh, maksudnya uncle Google sih mungkin aja menjawab, tapi kurang lengkap tentang apa itu ramekin, apa kegunaannya, apa bedanya dengan mangkok lain? Mungkin yaaaa… takut kualat sama om yang sudah berjasa membantu saya belajar masak :p.

apa itu ramekin

Zen ramekin, made in Indonesia ❤

apa itu ramekin

Sejak Oktober 2012, saya mulai jualan ramekin, jadi sebenernya wajar sih kalau banyak yang nanya ke saya apa itu ramekin. Ga mungkin juga dia mau nanya ke Dian Sastro, kan? Jadi, daripada saya mengulang-ulang seperti kaset rusak, saya tulis di sini aja.

Eh, tunggu bentar, saya mau sedikit cerita (yang endingnya biasanya banyak :p). Duluuuuu…. saya kenal ramekin pertama kali karena bahas MPASI di forum The Urban Mama. Yang saya lakukan pertama biar ga keliatan bodoh karena ga tau, ya saya gugling, kebetulan saya smart dan punya smartphone yang lebih smart. Itu dulu ya tahun 2010, saat yang namanya smartphone baru si apel dan si berry hitam saja. Kalau sekarang mestinya lebih banyak hape yang smart, tapiii…. ah ya sudahlah :D.

Setelah gugling, saya selalu kepikiran sama mangkok nama ramekin ini, tapi belum pernah nemu juga. Sampai suatu ketika, entah mengapa setiap malam saya gugling terus yang namanya ramekin. Ehhh…. tau nggak, tiba-tiba saya dapet pangsit eh wangsit bertemu dengan ramekin nggak lama setelah itu. Sejak itulah saya jualan dengan sistem Pre Order.

apa itu ramekin

Ini ramekin dengan kuping, bagus juga kan. Nah, ini contoh yang polos, ga bergelombang.

Sebelumnya saya nggak percaya loh orang bisa bisnis tanpa modal, tapi Allah Maha Baik dan menunjukkan jalan memulai usaha untuk saya. Dari modal nol, sekarang saya bisa memesan ramekin langsung dari pabrik senilai lebih dari sepuluh juta. Dan nikmat mana lagi yang harus saya dustakan? *dorrr seriusssss yaaa :p*. Minat? Inbox saya ya *MLM mode on :p*

Tuh kan, bener aja panjang. Jadi, apa itu ramekin?
Ramekin (ramequin) itu mangkok tahan panas yang bisa dipakai untuk oven, microwave, dan mengukus. Yang membedakannya dari pinggan tahan panas adalah bentuknya yang kecil jadi pas banget untuk satu porsi makanan. Setelah makanan di oven/microwave, bisa langsung dihidangkan di meja makan karena penampakan ramekin yang cantik kayak Asmirandah ^-^. Untuk keterangan lengkap asal kata dan sebaginya, silahkan buka di Wikipedia di sini atau di sini juga.

Kalau dari link di wikipedia itu kan jelas ya, ada bermacam-macam ramekin. Ada yang wavy side alias bergelombang permukaan luarnya ada juga yang plain/polos. Ciri khas ramekin ya memang dari bergelombangnya itu. Jadi, nggak usah bingunglah kalau yang punya mangkok yang ga bergelombang tapi tahan di oven, bisa disebut ramekin nggak kira-kira? Silahkan dipikirkan jawabannya sendiri :D.

Apa itu ramekin

Dragon Ramekin yang tak sempet diupload pun sudah ludes

Nah, definisi udah jelas kan? Sekarang bahan pembuatnya ya. Saya nggak paham bener sih tentang bahan-bahan ini, tapi dari pengalaman saya berkecimpung di dunia per-ramekin-an, bahan pembuat ramekinlah yang menentukan kualitas dan keawetannya. Ada yang menyebut bahan keramik, porcelain, white porcelain, dan glass. Ada yang sekadar dari keramik, tahan di oven juga, harga cuma lima ribu, lihatlah sekitar 6 bulan kemudian dengan minimal penggunaan seminggu sekali, ada garis-garis halus seperti retak. Ya namapun murah, jangan harap awet sampe kita kakek nenek ya. Tapiii, kalau untuk semacam koleksi atau you named kekalapan ingin punya, ramekin lima rebuan ini big deal banget! Di mana belinya? Di Giant biasanya banyak kalau lagi ada.

Ada juga yang dari white porcelain (eh saya pun bingung porcelain dan keramik itu sama ga ya?), biasanya lebih mahal, tapi ya memang lebih bagus. Saya membedakannya dengan tangan dan mata awam ya, bukan ahli porcelain. Lebih awet nggak? Sumpah saya nggak tau. Walopun sudah jualan ramekin dari tahun lalu, PERCAYALAH SAYA NGGAK PUNYA RAMEKIN untuk dipake sendiri hehehe… p.

Kadang, ada mangkok yang hanya bisa dipakai di microwave saja. Mengapa? Perhatikan, kadang ada motif di luar mangkok, kalau di oven dengan durasi lama, motifnya akan memudar. Atau… di bagian dalam mangkok dicat (diwarnai) siver atau gold. Warna ini bukan warna asli keramiknya ya. Ini yang biasa kita temui di Ace Hardware, udah imut lucu cantik ternyata ga bisa dipake buat oven :(.

Apa itu ramekin

Warna warni cantik yaaa…

Saya nggak ngerti sih mengapa dalemnya harus diwarnai, tapi untuk durasi penggunaan di oven yang lama, takutnya cat itu masuk ke bahan makanan. Itulah mengapa nggak bisa dipakai di oven, sayang ya sebenernya.

Dari cerita puanjangggg di atas, kesimpulannya ternyata hampir semua mangkok bisa dipakai di oven, bahkan mangkok kaca yang selusin 10ribuan di pasar tradisional. Untuk pemanasan yang nggak lama, semuanya bisa dipakai (dan pada akhirnya bolehlah disebut ramekin). Kata mbak Titi, di tukang zuppa soup depan alfamart gitu, yang dipakai mangkok biasa yang bahkan bisa dibeli dengan harga seribu saja. Kok bisa? Karena zuppa soup tak butuh pemanasan lama, hanya sampai puff pastrynya mengembang, tak sampai 10 menit mungkin.

Selain dipake bikin zuppa soup, ramekin juga dipakai untuk membuat chocho lava cake, lasagna, segala turunan skutel, dan souffle. Souffle ini konon awal mula diciptakannya ramekin. Fungsi ramekin bisa digantikan oleh cup dari alumunium foil dan silicon cup, kalau alumunium foil sekali pakai, silicon cup bisa dipakai berulang sama halnya seperti ramekin. Hanya untuk makanan yang sifatnya cair, memakai silicon cup beresiko tumpah.

Kalau memang pengen punya ramekin, ya mulai sekarang buka-buka lemari deh, ada nggak mangkok polos yang bisa diuji coba dipakai di oven. Kalau nggak ada, lakukan hal yang sering saya lakukan, buka-buka lemari emak hahahah :p. Nah, kalau nggak ada juga, bolehlah beli di Dapur Hangus.

NB: Ceritanya jadi pamer foto ramekin ya wekekek :p

Apa itu ramekin

Ramekin Yoshikawa

Advertisements
 
30 Comments

Posted by on December 27, 2013 in Alat Tempur, Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: , , , , , , , ,

PO Sendok Garpu Kayu Episode 2

PO Sendok Garpu Kayu Episode 2

Seperti sinetron, PO sendok dan garpu kayu ternyata ada episode lanjutannya. Padahal, saya sebenernya sepakat sama Hanung Bramantyo yang tidak suka membuat sekuel film. Namun, Mas Hanung *sok ikrib* justru melakukannya dengan membuat sekuel Get Married, Get Married II. Sayapun sama, karena masih banyak permintaan *dan sejujurnya butuh uang :p*, PO dibuka kembali mulai hari ini, 1 Oktober 2012 bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila. PO akan ditutup bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2012.

Berbeda dengan kalimat sakti yang saya ucapkan ketika PO perdana, kalimat sakti sekaligus promosinya akan diganti. Kalau dulu begini,

Apalagi, harganya masih jauuuuhhh lebih murah dari barang Daiso. Kalau beli di Daiso dapet satu biji, di situ dapet 2 biji plus kembalian 3 ribu. Murah kan?

Sekarang akan diganti menjadi begini *yang insya Allah semua jadi ga mau beli :p*

Ternyata di Kijang Mas ada dong barang yang sama, harga satu biji 19.900, jadi saya kemurahan dong kalau jual 10 ribu :p

PO sendok kayu.

Sedikit berbeda dengan PO lalu, sekarang ada 2 paket saja yang isinya campur-campur semua. FYI, untuk sementara sendok warna hitam kosong yaaa… Dengan berat hati, harganya juga naik karena terpaksa saya merepotkan ibu dan bapak saya untuk ngirim. Takut kualat sodara-sodara, jadi harap maklum *maaf ya Bapak dan Ibukku, namanya dicatut hheheh…*
1. Paket 10 pcs campur-campur, harga Rp 99.000
2. Paket 5 pcs campur-campur, harga Rp 57.000
3. Bila ada barang sisa PO, akan dijual satuan/per pcs dengan harga antara Rp 12.500-Rp 15.000, tergantung jenis sendoknya. Foto-foto sendok yang dijual satuan nanti akan di posting di Facebook Dapur Hangus pada 27 September, jadi yang belum temenan, silahkan add as a friend sekarang juga.

THE RULES:
1. Sistemnya adalah pre order, bayar di muka, dan barang dikirim setelah pre order ditutup. Pengiriman barang serentak tanggal 29-30 Oktober.
2. Pemesan pertama adalah yang dilayani pertama juga, bahasa Harry Potter-nya sih first come first serve.
3. Saya menjual per paket, ada dua macam paket seperti yang disebutkan di atas. Penjualan per pcs/satuan hanya akan dilayani jika ada sisa barang pesanan, kecuali jika yang bersangkutan sudah request sebelumnya.
4. Pemesanan bisa dilakukan melalui email dapurhangus@gmail.com, inbox ke akun Facebook Dapur Hangus, mention atau DM ke @ikarahmavioleta, melalui BBM bagi yang sudah ada di kontak BBM saya, atau sms ke 085722771642 (sms not recomended sebenernya karena saya sering nggak punya pulsa). Semua kontak untuk pemesanan harap langsung menyertakan alamat pengiriman dan jenis paket yang dipilih (paket 1 atau 2). Contoh: Mbak Ika yang cantik *ehem* aku mau pesen sendok kayu paket 1 untuk alamat pengiriman Balikpapan Kota (sebutin kota atau kabupaten ya). Nanti saya akan balas dengan jumlah yang harus ditransfer plus nomor rekening serta nomor peserta PO. Setiap transfer harus ditambah dengan nomor PO, misal harus transfer seratus ribu, maka nanti harus transfer dengan angka 100.005 (artinya Anda peserta PO ke-5). Harap maklum, semata-mata biar saya nggak pusing karena kalau keseringan pusing saya jadi kurus :p.
5. Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar dan dikembalikan.
6. Lima orang peserta PO pertama akan mendapatkan bonus senyuman manis saya plus sutil kayu, so grab it fast! Oya, mengingat saya itu Senin niat jualan dan Kamis jadi nggak niat, manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya mumpung saya niat hehehe *ditimpukin sendok kayu*
7. Pemesanan via komen di FB maupun di postingan ini dianggap belum final yaaa…
8. Di akhir PO akan digelar giveaway dengan hadiah paket sendok kayu (isi 10), satu paket untuk pemesan, satu paket lagi untuk pembaca yang beruntung selain pemesan.

Sekian dan terima transferan ^_^. Sekadar untuk menunjukkan kegunaan sendok kayu untuk properti foto, silahkan klik beberapa posting sebelumnya seperti Nasi Uduk Ungu, Maunya sih Sate Lilit, Terima Kasih, Ebi!, dan Sambal Seminggu Sekali.

Berikut adalah testimoni beberapa pembeli pada PO pertama:
1. Medyratri (via twitter)
Sendoknya halus, kalo ada lagi mau ya Mak Vio.
2. Rina Aulia (via twitter)
Mak @ikarahmavioleta lapor saya lapar #eh :p Lapor paket tlah tiba!! Makasi yaaaaaaa…. @ikarahmavioleta aku sukaaaaaaaa…lucu2 bangeeeeeeeett…
3. Sefa Firdaus (via twitter)
Sendoknya udah sampai, makasih ya @ikarahmavioleta mulai senin dipake deh utk motret
4. Nyanya alias Almaviva (via twitter)
Beli ini semua di @dapurhangus cuman 90rb. Dapet bonus & dianterin pulak! Maacih @ikarahmavioleta :* pic.twitter.com/WnjyY4Fi
5. Mia Ilmiawaty (via BBM)
Sendoknya udah nyampe, itu garpu kurang banyak sih, Ka. Rebutan sama Atar 🙂 (harus beli lagi sip? :p)
6. Andrie Anne (via FB)
Mbak sendoknya udah nyampe, makasih ya. Sebenernya pengen sendok yang buat IDFB, yang kotak… *lanjutannya disensor*
7. Masih banyak lagi capek ngetiklah saya, mana belum sarapan lagi 🙂

 
3 Comments

Posted by on October 1, 2012 in Alat Tempur

 

Tags: , ,

Kukis Milo Rasa Brownies

Kukis Milo Rasa Brownies

Niat hati pengen belajar bikin kukis milo, tapi apa daya ternyata kok rasanya malah mirip brownies. Ya tak apalah, tetep diposting biar suatu saat kalau berhasil bikin kukis milo tau beda resepnya. Saya juga ngak ngerti salahnya di mana, mungkin karena saya pake chocochip atau karena efek almond bubuknya ya? Atau mungkin ini adalah konspirasi yahudi? *pasti gara-gara folo si Tiga macan deh ini hihihih…*

Ngomong-ngomong tentang Milo, dulu saya waktu kecil seneng banget makan Milo. Tentu saja, sembunyi-sembunyi dari ibu saya. Awalnya sih satu sendok teh, lalu dua sendok teh, dua sendok makan, dan seterusnya. Sampai akhirnya satu kaleng Milo cuma bertahan dua hari karena adik saya ikut-ikutan. Terbongkarlah gerilya kami nyolong Milo di lemari. Ibu saya kemudian menyembunyikan di tempat yang tak mungkin dijangkau lagi. Hiks…

Entah karma atau apa, Vio juga demen banget sama Milo. Dia juga suka ngemilin tanpa diseduh. Untungnya ya dia masih kecil, masih bisa diboongin emaknya. Kalau beli kemasan kardus, dia pasti merengek minta cemal-cemil. Nah, kalau beli sachet, dia gak tau tuh kalau itu Milo yang sama. Alhamdulillah, saya emak yang cerdas hehehe…

milo cookies

Ga ada rasa Milo blas, malah rasa brownies jadinya 😦

Pembukaannya sudah cukup tiga paragraf saja ya. Pembukaan itu saya persembahkan untuk pembaca yang protes kok akhir-akhir ini cerpennya ga ada? Bingung ga sih? Namanya Dapur Hangus kok posting cerpen, ternyata yang dimaksud cerpen itu ya pembukaan yang ngalor ngidul sampai ujung dunia itu. Sekarang giliran resep ya pemirsa, silahkan dinikmati ^^.

milo cookies

Bahan:
4 sachet milo (56 gram), judulnya kuras kulkas ini karena udah ga ada sisa lagi.
2 sdm gula pasir
75 gram mentega/margarin.
30 gram almond bubuk, nemu di sebuah slempitan di kotak tepung di dapur saya. Bisa saja di skip atau nggak pakai, bisa juga diganti kacang tanah cincang yang sudah disangrai.
100 gram tepung terigu protein rendah
1 butir telur
30 gram chocochip putih, ini lebih mirip karamel, jadi nantinya juga bakal bikin manis kukisnya. Kalau takut keanisan, kurangi gulanya :).

Cara pembuatan
Seperti biasa, campur mentega dan gula, kocok sampai lembut. Saya udah bosen euy ngetik begitu terus secara postingan di blog ini sebagian besar adalah kue kering. Saya emang suka banget sama kue kering aka kukis, baik yang manis maupun yang asin semua aman di perut.
Setelah mentega lembut, masukkan telur. Kocok lagi sampai merata.
Di wadah terpisah, campur terigu, milo, dan chocochip putih. Masukkan adonan telur+mentega ke dalam campuran tepung. Aduk rata dan adonan kukis Milo siap dicetak dan dipanggang.
Panasakan oven, panggang suhu 180 derajat Celcius selama 25 menit. Ati-ati gosonggggg….

cookies milo

Sebenernya selain bersih-bersih bahan kue, saya juga mau nyobain gadget terbaru di dapur :p. Bolehlah dibilang pamer, tapi kasian doi sih bukan apa-apa kok dipamerin. Dengan gadget baru inilah saya nyetak kukis milo. Ternyata hasilnya cepat dan tanggap hahaha… Enggak ding, lebih cepat dan lebih bersih aja.

Yaaaa, perkenalkan skup es krim mini terbaru punya saya. Setelah pencarian ke tujuh gunung, termasuk Gunung Batu, saya akhirnya nemu juga si skup es krim ini. Pertama kali menyadari fungsi lain dari scoop tentu saja dari solmet saya, Masterchef from Cimahi, Lady Fitriana yang cantik jelita.

Waktu saya main ke rumahnya, doi dengan asyiknya nyendokin adonan perkedel jagung dengan skup es krim. Hasilnya perkedel jagungnya berukuran sama rata, cenderung lebih bulet, dapurnya tetep bersih, dan minim yang dicuci. Kalau pake sendok, minimal ada dua sendok yang bakal kotor kena adonan untuk keperluan ngebuletin. Ditambah lagi rada lama kan pingpong adonan dari sendok satu ke sendok yang lain. Dengan skup tercinta ini, cucian dipangkas, waktu dihemat cieeeeee…. Tepuk tangan untuk skup es krim dan Lady Fitriana.

Sayangnya, skup es krim yang dijumpai di pasaran rata-rata segede bola bekel. Sudah 5 samudera saya seberangi, 51 toko bahan kue saya kunjungi, dan tujuh kota saya sambangi, ga nemu juga skup mini idaman. Sampai suatu hari saya bertemu seorang lelaki hitam manis penjaga stand es krim thumb and thumb di Festival Citylink. Di mata saya, si lelaki hitam manis itu tampak sangat ganteng karena dia memegang skup es krim supermini, mungkin diameternya hanya 2 cm. Saya jatuh cinta sama skupnya, ingat sama skup yang dia pegang, bukan mas-masnya ya hahaha…

Makin penasaran sama skup ini. Pencarian saya seperti Tong Sam Chong bersama Kera Sakti mencari kitab suci, begitu fokus dan tak kenal lelah *euleuhhhh meuni serius pisan*. Sempet bahagia nemu melon baller di Ace hardware, tapi tentu saja harganya tak lagi bikin kantong bolong, tapi langsung sobek tanpa bisa dipermak. Kasian tukang permak jadi ga laku .

Pun akhirnya ketika saya menemukan pujaan hati si skup es krim 2 cm, kantong saya nyaris mati. Tak tega mengeluarkan duit 120ribu cuma untuk scoop. Saya terpaksa mengucapkan gutbye sama pujaan hati, biarlah dia jadi milik mas penjaga stand thumb and thumb seorang.

Akhirnya pencarian saya mencapai titik terang. Walaupun si mas eh skup thumb and thumb masih terbayang-bayang, saya cukup bahagia loh bisa menemukan si tiga senti ini. Buah karya pertama saya dengan si skup eskrim baru ini ya si kukis milo yang ternyata rasanya mirip brownies ini. Entahlah, pasti karena pake skup baru ya? Hehehe…

Nah, bentuk kukisnya semua sama kan, ga perlu timbangan, ga perlu tangan belepotan, tapi nikmatilah kukis bikinan sendiri seukuran goodtime. Inilah yang namanya jodoh . Besok-besok saya share lagi ya kegunaan skup ajaib ini, pokoknya saya cinta mati dah sama doi *mmmuahhh*

Oya, lupa bilang kalau satu resep ini jadi sekitar 25 kukis ukuran segitu itu, ukuran skup. Batch pertama pemanggangan, gosong sodara-sodara *pelajaran penting, jangan namain blog Anda Dapur Hangus :p*. Gosong parah, tapi ya berhubung saya sudah menahbiskan diri cinta kukis sampai mati, ya masuk perut juga sih. Batch ke-2 sukses diangkat sebelum gosong, alhamdulillah :D.

 
12 Comments

Posted by on September 26, 2012 in Alat Tempur, Resep

 

Tags: , , , , , , , , ,

Timbangan 35 Ribu

Timbangan 35 Ribu

Kalau klik kategori alat tempur di blog ini, isinya sih bakal pamer saya udah punya apa aja di dapur. Selain itu pasti juga racauan kalau ini itu belum lunas. Dulu saya dianggap belum pantes menikah karena tak tertarik beli panci dan segala tetek bengek dapur. Suerrr! ini kejadian lho! yang bilang Mbak Atun, asisten rumah tangga sepupu saya sekaligus orang yang berjasa mengenalkan saya sama kegiatan di dapur.

Kalau dipikir-pikir, beruntung sekali baru sekarang saya gila gadget dapur. Kalau dari awal menikah kegilaan saya sudah dimulai, sekarang saya harus nyewa dapur tetangga buat menyimpan segala perkakas dapur selama lima tahun terakhir *lebay*. Semua panci yang saya beli dari awal nikah masih dipake sampai sekarang, paling cuma lepas kupingnya saja. Jadi kalau mau beli-beli terus, kayaknya dapur bakal penuh banget sama

Loh, kok jadi ngomongin panci? Ya suka ngelantur gini memang, apalagi posting disambi main bounce dengan background tangisan Vio. Oya, mau ngomongin timbangan. Suer deh niat mau pamer kalau timbangan ini saya beli cuma 35 ribu saja. Keren kan? *ditimpuk panci*.

harga timbangan digital

Kok murah sih? Sebenernya waktu ikut lomba resep di Dapur Sehat Bubu yang resepnya saya posting di sini, saya dapet juara 3 karena jumlah like yang banyak. Ya maklum yah, saya kan bekas preman lomba like-likean begini dari 2010, kalau cuma seratus dua ratus like sih gampil pisan *sombong*. Karena menang dapet deh voucher belanja 150 ribu, padahal harga timbangan 175 ribu. Nambah deh 25 ribu plus ongkir 10 ribu, saya punya timbangan digital impian.

Sebulan sebelumnya rewel deh nanya harga timbangan impian ke Kak Sondang, bimbang mau beli di Ace Hardware atau Mutiara Super Kitchen. Berhubung harganya lumayan, ga jadi-jadi
beli, eh… malah bisa nebus ini. Bahagia dong pastinyaaa.

Sejak punya timbangan ini, gudbye deh cucian wadah banyak setelah baking. Begitu nimbang terigu, di nol lagi, bisa dicampur deh maizena di bowl yang sama. Maksimal cuma dua wadah saja buat nimbang-nimbang. Jauh banget deh sama pakai timbangan biasa, setidaknya butuh 3 atau empat. Yes! Cucian cuma dikit. Akan lebih bagus lagi kalau yang nyuci wadah adalah suami hahaha… *mantab kalau gitu*.

Tangan diperankan oleh model :p

Timbangan ini mudah sekali digunakan, lihat saja ada tangan kecil yang ikut serta berpartisipasi mencet-mencet tombol. Cuma ada dua tombol, satu buat on off, satu lagi buat memilih satuan berat, bisa ons, gram, lb (ini ga tau deh apa dan ga pengen tau juga takut mimisan saking pusingnya halah). Pokoknya tanpa baca manual pun bisa deh mengoperasikan timbangan mungil ini, buktinya saya aja bisa *sekalipun baca ga akan ngerti itu tulisan apa, bahasa Jepun dan Korea ckckck…*.

Setelah punya ini, bisa nimbang nastar per 10 gram, gaya pisan hahaha… Bangga gitu? Iya dong, nastarku buletannya sama hihihi… sesuatu banget itu, secara tangan saya tidak diciptakan untuk membuat nastar cantik ala bakery-bakery gitu *pede*.

Oya, timbangan ini merknya Electronic kitchen scale, dioperasikan dengan dua buah baterai AAA. Kalau nggak dipake, tinggal copot batereinya biar lebih awet. Nah, tertarik? Silahkan beli sendiri, jangan minta saya apalagi minta suami saya :p.

 
7 Comments

Posted by on August 11, 2012 in Alat Tempur, Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: ,

Butter Murah Andalan :D

pengganti butter

Pengganti butter murah meriah

Belajar itu nggak  harus mahal. Pasti semua setuju sama pernyataan tersebut. Kalau mau nyobain resep trus ada bahan butter, dulu saya bisa langsung mundur teratur. Untuk percobaan, butter terlalu mahal sementara diganti margarin biasa belum tentu rasa dan teksturnya sama. Kadang sih saya cuek aja mengganti butter alias mentega dengan margarin biasa, tapi kadang penasaran juga dengan hasil akhirnya yang ‘asli’ bila shortcut itu nggak saya lakukan. Saya nggak tahu pasti mengapa satu resep harus wajib pakai butter sementara yang lain boleh-boleh aja diganti, yang saya tahu hasil akhirnya memang bakal beda. Cuma segitu ilmu perbakingan saya yang kayaknya semua orang juga tahu deh!

Sampai Dewi Resep alias Lady Fitriana pamer produk ini, BOS (butter oil subtitute) Filma. Sesuai namanya, ya inilah pengganti butter dan minyak. Harganya sedikit lebih murah dari Blue Band tapi hasilnya mendekati bila kita pakai butter. Pengen deh nge-bold kalimat sebelum ini tapi takut disomasi Blue Band hehehe… Di Bandung sih saya cuma nemu di toko bahan kue, di supermarket belum pernah liat, di pasar juga belum pernah nemu (kecuali pasar tradisional semi modern kayak Baltos ya).

Jadi, kalau memang ada resep yang menggunakan butter, bisa banget diganti ini. Hasilnya tetep enak, tetep berlemak, dan memuaskan. Siap-siap buang jauh-jauh timbangan biar kalau timbangan naik ga nyesel :p.

NB: sumpah bukan endorser ataupun buzzer. Walaupun pengen dibayar setiap bikin tulisan kayak wartawan, kenyataannya nggak begitu *mewek*.

 
 

Tags: , , , , , ,

Oven Emak Vio

Yak! Inilah senjata utama saya dalam hal manggang memanggang, Cosmoven. Suatu ketika saya ketiban rejeki menang arisan lalu langsung jalan-jalan ke PVJ. Pucuk dicinta ovenpun tiba, ternyata ada oven listrik yang penampakannya keren abis, jauh lebih kece dibanding oven Kirrin idaman. Baiklah, langsung deh dibungkus.

Ini namanya cinta pada pandangan pertama, sekali liat langsung bungkus. Apalagi, wattnya lebih kecil dibanding Kirrin. Duh, kalau di komik Jepang, mata saya udah berubah lope-lope deh hahaha… (Abaikan ya alasan bahwa sebenarnya oven ini lebih murah dari Kirrin dengan spesifikasi yang sama wekekeke…).

oven listrik

cantik, slim, so sexy hehehe... *racun mode on*

Spesifikasi secara umum sih lupa, nanti di update kalau udah mantengin kardusnya ya. Ini ada api atas api bawah, masing 375 watt jadi totalnya kalau menyala bersama 750 watt saja. Bisa dipake buat segala macam membakar, memanggang, atau sekadar memanaskan. So far semua oke.

Hmmm… ada juga sih kelemahannya. Si cosmoven ini agak susah on, susah panas. Ini pengaruh daya listrik di rumah yang nggak stabil dan kebiasaan saya baking jam 5 sore (maaf ya PLN hiks…). Jadi kalau mau hasil panas yang maksimal, kudu dipanasin dulu sekitar 15-20 menit (bandingkan dengan oven tangkring yang cukup 5-10 menit).

Panel sebelah kanan ada 3 tombol, pertama untuk penunjuk suhu, ke dua mengatur api, dan paling bawah berfungsi sebagai timer. Untuk suhu sebenernya saya nggak percaya 100 persen sih, kadang masih suka nipu. Selama ini pakai feeling aja kalau baking. Misal di resep suhu 180, saya pakai 200 aja. Hasilnya alhamdulillah ga gosong (masa iya sih gosong lagi, gosong deui :p). Tombol pengatur api punya tiga pilihan,  api atas saja, api bawah saja serta api atas dan bawah. Saya sih jarang menggunakan api atas, kecuali 10 menit terakhir biar topping agak krispi.

Nah, tombol paling bawah ya timer. Pengatur waktu ini bisa disetting sampai 60 menit. Untuk membuat cake dengan loyang loaf yang tebel, baru deh setting 60 menit dipakai, 15 menit memanaskan selanjutnya baru deh adonan masuk. Awalnya rada terganggu lho dengan bunyi tik-tik di timernya, apalagi kadang udah mati pun masih bunyi. Ternyata setelah diselidiki (taelah kayak detektif aja), bunyi tik tik nya tetep bakal bunyi sepanjang elemennya masih panas. Kalau sudah dingin ya diem sendiri kok hehehe…

oven listrik hemat

Oya, kalau beli oven ini udah dapet tray kawat, tray yang bisa difungsikan sebagai loyang juga, serta sosodok (halah ini apa bahasa internasionalnya ya?). Itu lho yang buat ngangkat loyang (di foto atas, gambar kanan atas). Sejauh ini memuaskan saja buat saya yang semangat bakingnya Senin-Kamis hihihihi…

 
64 Comments

Posted by on April 25, 2012 in Alat Tempur, Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Bye-bye Kertas Roti

Sebenernya saya bukan manusia yang suka baking atau mencoba resep. Alasannya klasik: tak tahan melihat bahan yang terbuang karena gagal! Yah, walaupun alasan tersebut semata-mata hanya untuk menutupi alasan terbesar, malas! Eitsss… tapi ada satu jenis makanan yang membuat saya kebal gagal karena memang nyaris tak pernah gagal: kue kering alias cookies. Sayangnya, baking cookies butuh kesabaran tingkat dewa mulai dari mencetaknya sampai motong-motong kertas roti buat alas loyang, masih juga harus dioles minyak atau margarin.

Syukur alhamdulillah di dunia ini ada orang pinter yang mengolah bahan silikon. Terciptalah silpat, alas loyang dari silikon yang menggantikan fungsi kertas roti, tak perlu oles-oles pula, serta dijamin antilengket. Wow! Shortcut tiga langkah sebelum memanggang kue kering bukan? Hahaha… beginilah yang saya suka.

silicon pad

Selamat tinggal kertas roti, selamat datang shortcut tiga tahap dalam baking cookies 🙂

Yang nggak saya suka sih tetep ada ya, terutama masalah harga. Dibanding kertas roti yang cuma seribu lima ratus perak selembar, silpat jauh lebih mahal. Harganya bisa ratusan ribu, bahkan lebih mahal dari oven saya (langsung pingsan serangan jantung).Ya, tapi saya tetep bisa beli sih, maklum orang kaya hahaha… (digeplak pak Najip). Yang butuh bisa lho beli di Dapur Hangus, harga bersahabat dan ga bikin kantong bolong, paling cuma berlubang dikiiitttt… Silakan hubungi kami dengan mengirim inbox ke Dapur Hangus, mention di twitter @dapurhangus. Masalah harga silahkan ceki-ceki di sini.

alas baking silicon

Oya, selain buat baking kue kering, silpat juga oke buat alas membuat macaroons lho! Yang pasti loyang juga awet bersih tanpa sisa adonan yang hobi nyempil-nyempil. Cara membersihkan pun gampang, tinggal lap dengan kain basah, silpat kembali bisa digunakan. Praktis dan baking kue kering favorit keluarga menjadi lebih cepat.

 
16 Comments

Posted by on April 25, 2012 in Alat Tempur

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

 
%d bloggers like this: