RSS

Sambal, Kekayaan Kuliner Indonesia

27 Jun
Sambal, Kekayaan Kuliner Indonesia

Ayam goreng tak lengkap rasanya tanpa sambal terasi. Ikan asin tak lagi sedap tanpa sambal dadak dan lalapan. Krupuk pun tak nikmat tanpa sambal pecel. Ikan bakar lebih lezat dengan sambal dabu-dabu. Colek tahu dengan sambal petis, rasanya mantap! Masih ada sambal pencit, sambal kenari, sambal bajak, sambal bawang, sambal embe, sambal parado, sambal lado mudo, sambal arang tampurung, sambal jalapeno, dan segala jenis sambal lain. Lihatlah dari sambal saja, kita menyadari betapa besarnya kekayaan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia memang tak bisa makan tanpa sambal. Tak peduli tua atau muda, miskin maupun kaya, di kota maupun di desa semua suka sambal. Rasanya tak cukup satu atau dua hari membahas tentang sambal khas Nusantara. Mungkin ada ratusan bahkan ribuan jenis sambal asli Indonesia.Masing-masing punya ciri khas tersendiri dan sensasi rasa yang berbeda. Beberapa sangat unik, baik dalam proses pembuatan maupun dari bahan-bahan dasarnya.

Sambal tumpang misalnya. Sambal khas Jawa Timur ini dibuat dari tempe busuk. Tempe busuk? Ya, tempe bosok alias tembe busuk. Tempe yang telah didiamkan beberapa hari sehingga mengalami fermentasi lanjutan hingga menjadi “busuk” inilah bahan dasar sambal tumpang. Yang mengherankan, rasanya luar biasa enak.  Hebat ya orang Indonesia, tempe busuk pun bisa jadi makanan enak.

Saking enaknya, seorang tetangga yang berangkat ke Eropa sampai-sampai rela membawa kuali berisi sambal tumpang lho! Konon, selama perjalanan kuali itu didekap dalam pangkuannya. Demi makan enak di negeri orang, pengorbanan mendekap kuali selama penerbangan pun dilakukan😀. “Habis, kalau lagi pengen kan nggak bisa mincuk (makan dengan daun pisang yang dibentuk kerucut),” ujarnya ketika ditanya.

Selain dari bahan dasar yang unik, ada juga sambal yang dibuat dengan cara cukup unik. Sambal arang tampurung namanya. Sambal ini satu daerah dengan sambal dabu-dabu. Semua bahan sambal diulek lalu dicampur dengan bara dari batok atau tempurung kelapa. Unik ya? Sayangnya saya belum pernah mencoba sensasi memakan bara tempurung kelapa. Pertama kali mengetahui jenis sambal ini, saya merasa aneh. Namun, bagi saudara kita yang asli Manado, pasti sambal unik ini bikin kangen kampung halaman. Lagi-lagi saya tersadar betapa kayanya kuliner Indonesia.

Dari sambal bawang, seorang Bu Rudy pun bisa ngetop sampai ke luar negeri. Sambal bawang yang khas karena pedasnya yang tanpa ampun ini telah menjadi satu pilihan cindera mata kuliner dari Indonesia. Setiap membeli sambal Bu Rudy, karyawan Bu Rudy yang kebagian tugas  packing akan bertanya apakah sambal tersebut akan dibawa masuk kabin atau dititipkan di bagasi. Keduanya akan mempunyai perlakuan berbeda, jika di bagasi pegangan kardus dibiarkan tegak berdiri sehingga petugas mudah mengambilnya. Semntara bila pelanggan membawa masuk kabin, pegangan kardus akan dilipas dan diganti dengan tali yang kokoh.

Omset Bu Rudy tak tanggung-tanggung. Dalam sehari ia bisa menghabiskan setidaknya 200 kilogram cabe sebagai bahan dasar sambalnya. Jumlah itu setara dengan 2.000-3.000 botol sambal. Luar biasa bukan? Padahal sambal ini sama dengan sambal lain, terbuat dari bawang merah, bawang putih, dan tentu saja cabe. Bu Rudy, seorang ibu sederhana berlogat Jawa khas Suroboyoan, berhasil mengangkat sambal biasa menjadi istimewa karena kecintaannya akan memasak. Ia ramah, selalu menyempatkan berdialog dengan pelanggan di depotnya. Hanya sambal, tapi nama Bu Rudy seolah tak bisa lepas dari produk dagangannya yang dikerjakan dengan sepenuh hati.

Ada lagi sambal pecel. Sambal yang terbuat dari kacang tanah yang ditumbuk halus lalu dibumbui dengan bumbu khusus dan irisan daun jeruk ini disajikan dalam berbagai bentuk. Menjadi teman nasi, oke. Mau jadi teman makan lontong sayur, oke juga. Dijadikan colekan ketika menyantap krupuk sudah pasti tak kalah nikmatnya. Menjadi saos siraman di mie goreng, tak ada yang bisa menolaknya. Semuanya sedap terasa.

Sambal pecel ini memiliki berbagai varian. Ada pecel Madiun, pecel Kediri, lalu pecel Surabaya. Pada dasarnya semua sama, hanya saja sedikit berbeda dalam penyajian nasi pecelnya. Pecel Kediri khas dengan lalapan dan rempeyeknya. Di Kediri sendiri, setiap malam lewat jam 9, sepanjang Jalan Dhoho akan berubah menjadi pusat lesehan pecel. Nasi pecel Surabaya disajikan dengan telur atau nasi rames sehingga harganya sedikit lebih mahal. Pecel Madiun sedikit berbeda taste dengan pecel Kediri. Setiap naik kereta api menuju Surabaya, saya selalu teringat pedagang pecel di stasiun Madiun yang menjajakan dagangannya dengan cara berteriak, “Pecellllllll, nasi pecel!”

Cobalah sekali-kali berkunjung ke rumah makan khas Sunda, lalu hitung berapa jenis sambal yang disajikan. Ada belasan atau puluhan jenis sambal tersaji di meja. Ada sambal terasi, sambal ijo, sambal cikur, sambal sereh, sambal dadak, sambal matah, sambal teri, sambal tempe, dan sambal yang namanya pun saya tak tahu. Sudahkah Anda mencoba semua jenis sambal itu? Saya pribadi belum. Itu baru rumah makan khas Sunda lho! Sambalnya saja beraneka ragam, sekaya ragam kuliner Indonesia.

*****

 

Sambal mungkin tak bisa dipisahkan dari lidah orang Indonesia. Ada sensasi mau lagi dan lagi dari kapsaisin yang membuat ketagihan. Karena itu, orang Jawa punya istilah kapok lombok. Hari ini makan sambal, besok masih mau lagi. Hari ini diare karena makan pedas, besok tak kapok makan lagi. Biarpun lidah terjulur karena pedas, masih colek  lagi dan lagi. Seuhah kata orang Sunda.

Ternyata dari sambal saja kita belajar tentang Indonesia. Tak salah jika sambal menjadi satu hal yang paling Indonesia. Sambal menjadi bukti bahwa Indonesia begitu kaya. Jadi, masihkah Anda tidak bangga menjadi Indonesia? Jangan tanya saya, saya bangga menjadi warga negara Indonesia.

<img src="” alt=”” />

 
6 Comments

Posted by on June 27, 2012 in Kisah di Balik Rasa

 

Tags: , , , , , ,

6 responses to “Sambal, Kekayaan Kuliner Indonesia

  1. citra

    June 27, 2012 at 10:57 pm

    Makan nasi putih anget2 pake sambal aza udah nikmaaaat bgt rasanya.. Nyaaam..

     
    • dapurhangus

      June 30, 2012 at 9:08 am

      ihhh…aku langsung ngebayangin dan krucukkkk hahahah.

       
  2. hk wahyudi

    October 2, 2012 at 6:52 pm

    Dicoba dulu sambalnya wong mBlitar, rasanya ……..mak hek………….minta nambah, orang makan pasti nambah…………..pasti………………..gak ono sing nggak nambah, monggo sugeng kepanggih malih, kulo tiyang kelahiran Mediun ning koq yo seneng karo sambal mBlitar, yek opo rek …….endi sambeleeeeeeeeeeeeeeeee !!!!!!!!!!!!!!!

     
    • Ika Rahma

      October 2, 2012 at 7:39 pm

      hehehe… sambel Mblitar iki sing piye to mas?

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: