RSS

Jatuh Cinta sama Dapur

24 Apr

Dapur saya hangus! Itulah pengalaman pertama saya di dapur.

Masakan saya gosong! Begitulah pengalaman selanjutnya.

Salah satu favorit kami, chicken katsu🙂

Pengalaman saya di dapur praktis baru dimulai setelah menikah. Sebelum menikah, tak pernah terpikir untuk memasak sendiri. Sedikit pun tak pernah terbersit untuk berpeluh di dapur, mendekati penggorengan atau panci, bahkan berakrab-akrab dengan bumbu-bumbu. Saat itu saya berpikir sudah sangat hebat bisa menyalakan kompor lalu memasak mie instan atau menyeduh kopi hihihi…

Sebagai mantan anak kos yang setiap hari merasakan masakan warung tegal atau sesekali nasi padang, setelah menikah pun saya merencanakan  hal yang sama. Mengunjungi warung-warung di pinggir jalan atau kaki lima, tak masalah buat saya, lebih praktis dan hemat waktu.  Apalagi ketika calon suami tak mensyaratkan saya harus bisa masak. “Aku tak menikahimu untuk memasak,” ungkapnya ketika itu. So sweet banget kan?

Entah harus disyukuri atau tidak, rumah baru kami jauh dari warung nasi. Kalaupun ada, lauknya tak bervariasi dan rasanya hambar, harganya pun mahal. Mulailah kami membongkar kompor hadiah, membeli panci dan penggorengan serta berburu ulekan di pasar tradisional. Percobaan pertama memasak, dapur saya hangus! Kompor hadiah itulah pemicunya. Saluran pemantiknya bocor dan membuat api berkobar besar. Ya! Dan dapur kecil kami positif hangus. Itulah pengalaman pertama saya di dapur. Keinginan memasak di dapur sendiri yang tadinya hanya sepersekian jiwa, sekarangpun makin minus hahaha..

Kami kembali lagi ke pelukan warteg, warnas, dan teman-temannya. Sesekali makan steak atau makan di mal bila kantong sedang tebal, sayangnya kami tak suka makan di cafe. Lama-lama, lidah berontak karena makan makanan tak enak setiap hari. Sambal kurang pedas, nasi keras, ayam kurang asin atau sayur yang terlalu banyak vetsin membuat saya sadar. Terbitlah keinginan untuk memasak sendiri, setidaknya untuk sarapan. Kami membeli kompor baru dan dimulailah petualangan saya di dapur.

Masakan pertama saya adalah telur dadar pedas. Seringkali melihat ibu saya memasak telur dadar di dapur cukup membuat saya pe-de setengah mati! Dengan percaya diri saya berkoar-koar ke suami bahwa ini tak mungkin gagal, terlalu gampang buat saya memasak telur dadar pedas karena inilah salah satu makanan favorit saya. Saya lupa bahwa saya tak pernah praktek sendiri, hanya melihat, cuma menonton atau sesekali membantu mengiris bumbu. Hasilnya bisa ditebak, gosyong pemirsa!

Malu ke suami? Iya tentu saja. Untungnya dia masih mau memakan telur dadarnya meskipun rada pahit, ya lumayanlah untuk variasi masakan warteg yang itu-itu saja hahaha… Dia pun tentu tak lupa ucapannya sebelum menikah yang yakin tak menikahi saya untuk memasak. Jadi, telur gosong tak membuat saya was-was dipecat jadi istri hihihi…

Waktunya tiba ketika saya harus memasak yang sebenarnya. Ketika anak kami sudah masuk tahap MPASI (makanan pendamping ASI), mau tak mau saya harus berkenalan dengan dapur lebih intens. Saya dan suami boleh saja sudah kebal dengan makanan pinggir jalan yang jorok, tak diare meski minum es teh yang dibuat dengan air comberan, atau tak sakit walupun makan daging ayam tiren, tapi tak mungkin bayi saya makan makanan yang sama dengan kami. Sebagai ibu, saya ingin yang terbaik untuk anak. Di situlah titik balik saya, kalau saya mau anak saya makan makanan sehat maka kami sebagai orangtua pun harus melakukannya.

Bagaimana caranya? Ya saya harus belajar masak. Dibandingkan suami, saya termasuk pilih-pilih makanan. Saya suka makanan enak, daging-dagingan dan hanya sesekali makan sayur. Membeli olahan daging bagi kami sangat mahal. Lagi-lagi saya sampai pada kesimpulan kalau saya harus belajar memasak. Dari mana? Kali ini dari hasil gugling dan browsing di internet. Saya harus berterima kasih kepada teknologi.

Sialnya, semakin sering mencoba resep, lidah saya semakin tinggi levelnya. Bumbu-bumbu instan yang biasa saya stok di kulkas dan biasanya enak-enak saja tak lagi memuaskan lidah saya. Saya mulai belajar lagi membuat masakan dengan bumbu yang lebih kompleks. Again, saya berterima kasih kepada teknologi. Resep-resep mudah dan praktis bisa saya temukan dengan singkat dalam genggaman. Aplikasi yang tersedia di smartphone  membuat saya lebih “pintar” pula. Thanks to aplikasi Masak Apa , dapur saya bisa menghasilkan makanan yang lebih bervariasi. Tentu saja, Mbah yang paling ngehits seantero jagat raya, Mbah Google, turut andil dalam pencarian cinta sejati saya kepada dapur.

Kini, berbagai resep dalam genggaman saya. Ditantang masak apapun, saya berani. Kalau gosong atau keasinan itu resiko. Terpercik minyak sudah biasa. Makanan enak tak harus pergi ke cafe, memasak sendiri jauh lebih sehat untuk badan, dan tentunya untuk kantong juga hehehehe… Kebahagiaan memasak itu sederhana, ketika kelehan berjibaku di dapur dibalas dengan masakan yang tandas oleh orang-orang tersayang.

Saya sudah jatuh cinta sama dapur🙂

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: