RSS

Menulis Bersama, Menorehkan Sejarah Bersama Warung Blogger

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

Saya suka sekali quote itu, tapi kadang pura-pura nggak suka biar suami saya nggak besar kepala :p *istri kompetitif*. Suami saya, lulusan Jurusan Pendidikan Sejarah, yang kemudian nyemplung menjadi wartawan lalu menggantungkan penghasilannya di ujung pena. Hidupnya seperti digambarkan dengan tepat oleh Pramoedya Ananta Toer, tentu saya iri.

Saya, mengantongi predikat sarjana Ilmu Komunikasi dari Jurusan Jurnalistik, mantan aktivis pers kampus lalu berakhir dengan menjadi ibu rumah tangga. Suatu tugas mulia, tapi saya yakin bapak dan ibu dosen saya tidak bangga. Yang membanggakan tentu ketika anak didik mereka berhasil menjadi jurnalis sukses, menjadi anchor di televisi, meraih penghargaan, dan karyanya banyak dipuji. Sekali lagi saya iri.

Saya iri. Suami dan teman-teman saya berhasil merangkai sejarah mereka sendiri dengan lantunan tuts keyboard mereka. Mereka menulis dan mereka menorehkan sejarah. Tapi ini bukan tentang saya dan rasa iri saya, ini tentang kita. Saya tak hendak mengukir sejarah sendiri, karenanya saya menulis postingan ini.

Alkisah suatu hari Komandan Blog Camp, Pakdhe Cholik melontarkan ide untuk membuat buku bersama Warung Blogger. Ada berbagai tema, mulai parenting, travel, olahraga, teknologi, sains, dan masih banyak lagi. Saya cuma numpang lewat aja karena kesibukan saya bermanja-manja dengan kardus dan lakban *prikitiew*. Dalam hati, “Saya saja tak sempat update blog, masa ikut-ikut proyek nulis buku?”

Tak dinyana Teh Nchie menawari saya menjadi Desk Officer (DO), penanggung jawab maksudnya *terlalu keren bahasanya, sampai rasa-rasanya terlalu berat buat saya*, untuk tema resep dan masakan. Saya menyetujui, tapi seperti biasa, saya sibuk dengan urusan *lagi-lagi* kardus dan lakban, dan Teh Nchie juga sibuk menjadi Dewi SEO *eh :p. Jadi, setelah satu setengah bulan berlalu, barulah woro-woro ini diposting. Sementara itu, tema-tema lain sudah akan jatuh deadline-nya akhir Mei ini.

Bingung? Sama saya juga bingung. Pas dibaca lagi kok ruwet begini sih? Hahaha… Baiklah mari kita bikin singkat. Warung Blogger punya proyek menulis buku dan saya jadi penanggung jawab untuk tema resep dan masakan. Pasrah aja walau nggak bisa masak, saya masih bisa eksis *loh, salah fokus*. Teman-teman boleh mengirimkan resep masakan, foto masakan, hasil wisata kuliner, dan segala jenis hal yang berhubungan dangan masak, dapur, resep, dan makanan. Boleh juga hasil reportase ala-ala koran gitu deh.

Syaratnya gampang saja, silahkan dibaca ketentuan berikut:

SYARAT UTAMA
Untuk syarat dari nulisbuku.com silahkan klik link di bawah ini : http://abdulcholik.com/2013/02/20/buku-karya-anggota-grup-warung-bloggerterms-conditions/

SYARAT TAMBAHAN (yang lebih banyak dari syarat utama :p)

1. Blogger dan harus jadi anggota WB (yang belom terdaftar bisa klik di sini untuk bergabung)
Nggak harus foodblogger, asal punya blog dan sudah member WB saja.
2. Gaya penulisan bebas dan sopan. Bahasanya tidak harus baku, asal enak dibaca aja dan tidak mengandung SARA, alay, atau temen-temennya alay *maksudnya bahasa autotext BBM*.
3. Boleh mengirimkan resep, review tempat makan, recipe card, tips memasak, cara mengatur dapur, interior dapur, chef favorit dkk. Yang perlu diperhatikan, semua harus karya sendiri, bukan copy paste, bukan comot di blog tetangga, bukan pula hasil menghapus watermark foto karya orang lain. Resep boleh hasil googling, tetapi harus diuji coba di dapur masing-masing.
4. Postingan boleh baru, tapi boleh juga yang sudah diposting di blog dengan modifikasi agar lebih menarik.
5. Boleh kirim lebih dari 1 karya.
6. Karya dikirim ke dapurhangus@gmail.com dengan subjek email Buku WB
7. Format pengiriman karya :
- Ketik di MS Words, A4, Time News Roman font 12, 1,5 spasi. Margin 3-3-3-3
- Kirim dalam bentuk attachment, bukan di badan email
- Bila menggunakan foto, boleh diattacthment dengan maksimal ukuran 300KB
- DI badan email, tulis nama FB (untuk mengecek apakah sudah menjadi member WB atau belum), judul, biodata singkat (boleh dengan atau tanpa foto)
8. Deadline pengiriman karya 15 Juli 2013 pukul 23.59 WIB. Batas waktu pengiriman bisa diperpanjang sesuai kebutuhan.
9. Semua hasil penjualan buku ini nantinya untuk kegiatan sosial yang dikoordinasi oleh para admin dan member WB.
10. Karya yang masuk tidak dipungut biaya sepeserpun.

Jadi, mari kita menulis bersama, menorehkan sejarah kita bersama. Swit wiwwwwwwww *tumben serius :p*. Selamat menulis, kami tunggu kiriman karyanya :) .

Salam hangat bau minyak bawang,

Ika Rahma
Chef Abal-abal

 
24 Comments

Posted by on May 27, 2013 in Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: , , ,

KUKIS TANPA NAMA, KUKIS SUKA-SUKA

KUKIS TANPA NAMA, KUKIS SUKA-SUKA

Udah tujuh turunan saya nggak update blog mwihihi… Sekarang waktunya posting resep yaaa… yang gampang-gampang dan seperti biasa, ini kukis aka kue kering kesukaan saya. Resepnya hasil otak-atik sendiri, ga pake gugling (biar gaya :p), tapi aslinya sih enak dan gampang. Ini bukan kukis yang ribet, bahan-bahannya mudah, murah, mudah ditemukan (maksudnya beli ya, bukan minta ke saya :p). Cocok banget buat babycookies, tentu tanpa gula kalau untuk bayi di bawah 12 bulan.

Kok namanya kukis tanpa nama? Ya, suka-suka dong mau kasih nama atau enggak, sama dengan suka-sukanya saya ngasih nama anak yang sejujurnya nggak ada artinya. Suer! Biarpun katanya nama adalah doa, tapi ya kalau ditanya apa arti nama Vio, saya ga bisa jawab kecuali dipaksa. Dipaksa dikasih duit sekresek atau dipaksa dikasih rumah mewah (mefet sawah), baru deh bisa diadain arti nama Vio *kok tampak ngarep banget ya? :p*.

Kalau orang lain baking itu menjiwai, saya sih lebih banyak terpaksanya. Terpaksa masa blog ga ada isinya, terpaksa karena Vio bilang, “Bu, ovennya bagus, kapan kita bikin kue.” Saya janji sih besok-besok mulu, sampai kok akhirnya kasihan ya sama bocah cilik bermata indah itu, ya wis terpaksa bikin. Sengaja dibikin nggak terlalu manis. Bukan, bukannnnnnn sok sehat, tapi biar ga diabisin ayahnya *ketawa puas!*. Buktinya pas ayahnya nyicipin, “Ini ga manis sih?” dan saya dengan santai dan bahagia, “Bikinin Vio, Yah, bukan Ayah.” *sambil berdoa ga masuk neraka*.

Kukis suka-suka

Kukis coklat suka-suka :)


Bahan:
170 gram terigu protein rendah
30 gram maizena
50 gram gula pasir
100 gram margarin (suhu ruang)
2 butir kuning telur

Bahan tambahan (optional)
10 gram taro powder
1 sdt bubuk coklat (cocoa powder)

Cara membuat:
1. Campur tepung terigu, gula, maizena sampai rata. Masukkan margarin lalu aduk rata kembali. Setelah rata dan semua tercampur, masukkan kuning telur dan aduk rata lagi. *mengulang kata rata sebanyak 3 kali :p hihihi…*
2. Bagi adonan menjadi 2, satu bagian ditambah taro powder (bubuk talas) dan satu bagian lagi ditambahkan bubuk coklat. Saya beli taro powder karena satu hal penting errrrrr….karena warnanya ungu *ngibrit sebelum dilempar sendal swallow*. Ini penting loh ya, karena ternyata Vio lebih memilih yang berwarna ungu daripada yang warnanya coklat. Saya bilang, Vio anak saya, anak kandung saya karena sebagaimana emaknya yang cantik jelita, dia juga suka ungu *ngomong-ngomong ceritanya lebih panjang daripada cara membuatnya :p*.
3. Mencampur adonan dengan bubuk taro dan bubuk coklat ini pe er tersendiri karena agak susah untuk membuatnya rata. Tips dari saya sih nggak ada *face palm*. Ya pokoknya sampe rata aja, gimana caranya biar adonan yang dicampur taro powder berwarna ungu semua, ga ada sisa-sisa yang krem-nya. Begitupun dengan adonan yang dicampur bubuk coklat. Kalau nggak pake taro powder atau bubuk coklat bisa juga, ini saya aja yang kecentilan sih sebenernya hahaha… Kalau saya sih ngaduknya pake tangan kosong, mau pake samurai kepanjangan, mau pake spatula kok ga nyampur-nyampur, ternyata pake tangan lebih cepet. Vio ikut-ikutan ngaduk yang adonan ungu, hepi bener dia :D .
4. Setelah adonan siap, mari kita dandanin. Siapkan Hada Labo buat dandanin adonan biar makin cling ahahah…enggaklah ya, siapkan plastik cling wrap, talenan, rolling pin (untuk menggilas), dan cetakan kue kering yang unyu-unyu kayak saya. Alasi talenan dengan cling wrap. Lakukan hal yang sama dengan rolling pin. Kalau kata Ambu Melina Adhi, bisa juga pake kertas roti. Tujuannya biar adonan nggak lengket. Kayaknya ini pertama kali saya bikin kukis yang paling berhasil deh, berkat colek-colek Ambu di BBM tujuh turunan yang lalu *saking lamanya dan baru dipraktikkan–praktik yaaa, bukan praktek :) *.
5. Ambil adonan secukupnya, kira-kira sekepalan tangan, lalu gilas dan cetak dengan cetakan cookies. Saya pake cookie plunger, ternyata lebih cepet prosesnya dibanding pake cookie stamp. Bedanya apa sih cookie plunger, cookie stamp, dan cookie cutter? Saya pernah posting di sini, masing-masing cetakan punya kelebihan dan kekurangan.
- Cookie plunger: relatif susah membersihkan sisa adonan. Agak ribet sih bersihinnya, harus direndam dan disikat. Lebih bagus direndam air hangat biar lebih cepet bersih (jangan air panas ya), tapi so far saya paling suka ini, paling praktis. Banyak yang nanya bisa dipake cetakan nugget. Ya menurut saya sih bisa aja, tapi nggak akan maksimal. Cookie plunger ini mengadopsi plunger buat nyetak fondant itu loh, pake per.
- Cookie stamp: Sesuai namanya, ada stamp alias stempelnya. Gampang dibersihkan, terdiri atas cookie cutter dan cookie stamp yang terpisah. Cookie cutternya aja bisa buat motong roti tawar, dan nugget. Kalau nugget ga perlu di stamplah ya, toh nanti pas dikasih breadcrumb juga ga bakal keliatan, sia-sia.
- Cookie cutter: sesuai namanya, ya fungsinya buat motong aja. Harganya biasanya paling murah. Kalau saya sih paling suka yang dari plastik, karena kalau dari logam resiko karatan, apalagi kalau dipakenya satu abad sekali hihihi… Keburu mumi di Mesir sono bangun kali kalau kelamaan ga dipake :p.
6. Setelah semua adonan dicetak, saatnya pindahkan adonan ke loyang dengan bantuan scrapper biar bentuknya ga berubah. Biasanya scrapper cookie itu yang tipis melebar. Ohya, jangan lupa loyangnya dialasi dengan bakingpaper atau silpat atau sebelumnya dioles dulu dengan margarin biar ga nempel.
7. Panaskan oven sekitar 10 menit suhu 200 derajat, setelah adonan masuk, turunkan suhu jadi 180 derajat. Manggang cookies ini nggak perlu pakai api atas. Manggang cukup 15-20 menit aja, karena saya bikin adonan tipis biar jadinya banyak hahaha….

Kukis Suka-suka

Kukis Suka-suka alias tanpa nama ^^


Nah, cookies tanpa nama sudah jadi, resepnya suka-suka saya. Tapi karena warnanya ungu dan bentuknya lucu, Vio suka banget. Dia bawa bekal ke sekolah dan beberapa temannya dibagi. Ada yang terkecoh dan ngiler-ngiler ternyata pas dimakan ga manis kayak cookies pabrikan hehehe… Duh, maaf ya temennya Vio, tadinya cuma mau ngerjain suami, ternyata ada anak lain yang ngelirik. Next time bakal bikin banyak trus dibekuin, jadi kalau Vio mau sekolah tinggal dipanggang aja. Mantap, emak bisa bangun siang deh *emak males jangan ditiru*.

Gampang kan bikinnya? Gampang banget kan? Gampil pisan bukan? Nah, karena gampang, silahkan dibikin di rumah masing-masing, jangan di rumah tetangga yaaaa… Jangan koleksi cetakannya doang tapi cookiesnya ga pernah bikin *hayoooo pasti ada yang ngerasa hihihihi… :p*. Kapan-kapan mau eksperimen cookies sayuran ahhh…. Kapan? Kalau mumi di Mesir udah bangun *kalem*.

 
10 Comments

Posted by on May 25, 2013 in Resep

 

Tags: , , , , , , ,

When Chef Abal-abal Meets Professional Chef

Sabtu nyaris dua minggu lalu saya dateng ke acara ulang tahun Homemade Healthy Baby Food (HHBF), salah satu grup di Facebook. Karena lagi ngepel tol Cipularang, jadi saya datang terlambat. Pas dateng udah ga mood gitu deh, ga dapet tempat duduk trus ga tau ngomongin apa.

Eits, tapi di pojokan saya liat sesosok berbadan tinggi besar dengan baju putih yang tampaknya seorang chef. Sebagai sesama chef *saya chef abal-abal kan? :p* saya lirik-lirik dong, tapi ga berani pedekate secara saya sudah ada yang punya gitu loh ihik hihihi… Nah, pas ada kesempatan ngobrol berdua *cie-cieciecieeeeee…* saya nanya, “Nanti mau masak berapa resep Chef?” Doi jawab, “Dua resep.” Lalu yaaaaa kami ngobrol sepotong-sepotong, dan waktunya doi show.

Saya baru tau namanya Chef Nchank Tamberang, selama ini taunya Chef Nchank ajah. Penasaran ini nama asli nggak sih Nchank-nya? Duh nyesel banget ga sempet nanya :p *sungguh penyesalan yang penting nggak sih hahahaha*. Yang mau tahu siapa itu Chef Nchank, silahkan intip-intip Facebook atau twitternya @ntamberang. Saya ga friend atau follow, takut doi ngefans *eeeehhh gedubragssss*.

chef nchank

Wah, ternyata chef satu ini seru banget! Bukan acara masaknya sih yang seru, tapi quote-quotenya itu top markotop. Meskipun sekarang om Google bisa menjawab semuanya, tapi hal-hal kecil tapi berarti besar seperti ini rasanya susah digugling karena kita pun nggak tahu mau gugling pake keyword apa.

Nah, biar seluruh dunia pada tahu (jiahahaha), saya sharing ya sedikit yang saya bisa inget sesuai kapasitas otak saya hihihi… Pengennya sih semua saya inget ya, tapi kan saya bukan memory card yang menyimpan semua rekaman, apalagi nyaris dua minggu lalu. Kalau ada yang salah silahkan dibenerin, kalau ada yang kurang silahkan ditambahin, tapi kalau lebihannya buat saya aja ya *kayak kembalian gitu deh :p*.

PERINGATAN!
Quote Chef Nchank diketik dengan bold, selain itu quote saya lah yaaaa :p.

Setiap orang harus konsumsi garam 1 sendok teh tiap hari. Tapi kalau kelebihan, efeknya buanyakkkk. Penyebab kegemukan bukan gula, tapi garam. Makanya kl lagi demo masak ada yg nyeletuk di pojok sana, kurang asin chef, saya lirik pasti gendut.

Jadi ya buibu, lain kali kalau ikutan demo masak chef, bilang aja, “Chef kurang banyak,” mwahahaha…
daripada dibilang gendut karena bilang kurang asin, kan mending dibilang gembul :p. Gendut dan gembul kan beda, kalau gembul diakhiri huruf L, gendur diakhiri huruh T :p *dikeplak semua orang*.

Saya cerita nih masalah garem ke suami saya, soalnya doi kan penggemar ikan asin. “Yah, kata chef-nya biarpun udah diet tapi tetep makan ikan asin pasti ga bisa kurus, pantesan ayah makin gendut, ” muka polos tanpa perasaan.
Beberapa hari kemudian, suami liat semut ngerubutin telor goreng. “Bu, kemarin semut-semut ini pasti denger deh ibu ngomong tentang garem, makanya mereka pengen gendut jadi makan yang gurih-gurih.” *siap-siap tujes suami haahaha*

Mengapa kalau ngiris bawang ibu-ibu selalu nangis? Karena pisaunya kurang tajem. Kalau pisaunya tajem, nggak ada waktu getah bawang merah keluar dan sampai ke mata. Kebiasaan ibu-ibu abis pakai pisau dibiarin gitu aja, bukan langsung cuci dan dikeringin. Nanti kalau sudah ga tajem diasah, salah itu. Mengasah itu menghilangkan lapisan tajam dari pisau.

Waduh, pelajaran berharga dari quote ini adalah, BELILAH PISAU DI DAPUR HANGUS dan nggak usah beli pengasah. Kalau pisau ga tajem, beli lagi di Dapur Hangus juga (pesan sponsor) *kabur sebelum dilempar pengasah pisau*.
Tapi beneran kok, pas saya nyoba pake Victorinox baru saya emang nangisnya dikit, nah giliran pake Victorinox yang udah lama, nangisnya banyak. Apalagi kalau disambi liatin dompet akhir bulan, wahhhh buanyak pasti nangisnya hahaha….

Kalau bikin kaldu, masukin ayam sebelum mendidih. Karena dengan begitu otot-otot ayam akan membuka, dan lemak-lemaknya mencair sehingga menambah rasa gurih kaldu. Satu lagi, kasih seledri, bawang putih, dan apinya kecil aja. Sebaiknya nggak usah pakai bawang daun karena nanti akan berlendir.

Chef Nchank, kok sama sih kita. Tapi asli saya nggak tau kalau masukin daging/tulang pas air belum mendidih itu adalah cara yang bener. Saya cuma berpegangan pada semua cemplung dan bereslah tugas saya, biarkan kompor bekerja *menghindari kata males :p*. Setelah semua masuk saya bisa selonjoran sambil chatting sama Siwon Super Junior cailahhhh… *korban iklan LINE :p*

Bikin kaldu itu gampang saja, beningnya bisa diadjust. Kalau mau bening, masukkan semua bahan kaldu ke kain kasa, kalau sudah jadi tinggal diangkut semua sama kain kasa-nya.

Ide bagus chef, jadi saya makin lama ngobrol sama Siwon, ga ada acara ambil-ambil sisa lemak atau apalah yang coklat-coklat itu. Hati makin tenang deh, duh Chef Nchank makin cakep *eh.

Bikin sop yang enak gimana caranya? Gampang. Daging ditumis dulu dengan minyak sayur sampai keluar aromanya, lalu siram air dingin atau kaldu. Dijamin sopnya lebih gurih.

“Bikinin dong chef, males ah, di warteg juga enak kok.”
Tapi tunggu quote berikutnya.

Ibu-ibu kalau masak sayru sop pasti sayurnya lembek dan nggak cantik kayak kalau makan di resto, karena masakanya salah. Jadi, sebaiknya sayuran di-blanch atau diblansir. Masukkan ke air panas dalam tiga hitungan, lalu siram air dingin atau air es untuk menghambat pematangan, nanti sayurnya pasti bagus sekali warnanya.

*catet*

Makanan yang enak di restoran termahal sekalipun bisa dibuat di rumah ibu-ibu semua. Tahu brown stock yang dijual mahal warna coklat itu? Itu adalah tulang sapi yang dioven sampai keluar aromanya, lalu disiram air dingin. Airnya itu yang disebut brown stock. Warna coklatnya dari mana? Saya biasa nggak buang kulit bawang bombay yang paling luar itu warna coklatnya bagus banget! Kulit-kulit bawang merah dan bawang putih juga saya nggak buang.

*manggut-manggut* tapi kalau chef yang masakin pasti lebih enak *tetep maksa*.

Perbandingan bawang putih dan bawang merah yang bagus itu 1 banding 2, 1 bawang putih dan 2 untuk bawang merah. Kalau 1:1 sih tetep enak, tapi aroma bawang merahnya nggak bakal keluar.

Sebagai ibu yang sedang rajin bikin nasi goreng, beberapa hari lalu saya coba sih, beneran ternyata kalau 1:2 aromanya makin wangi. Ternyata Chef Nchank ga boong. Menurut looooo hahaha… masa chef profesional bohong sih, kalau chef abal-abal, nah…. nggak tau ya itu :p.

Kalau saya anti vetsin atau MSG. Vetsin itu bukan bikin makanan jadi enak, tapi hanya penguat rasa. MSG alami ada pada sayuran. Asal dimasak dengan benar, penguat rasa sayuran akan keluar dan memperkuat rasa. Kalau ibu-ibu masaknya pake MSG, berarti masaknya belum pede.

Ya ampun kalimat terakhir itu plak banget, saya suka ga pede kalau masak, cuma ya ga pake vetsin juga sih. Cuma ada ancaman ke yang makan, “Awas, kalau nggak enak ga usah protes, kalau sampe protes besok-besok ga masak lagi deh!” *puk puk Vio dan ayahnya :p*. Padahal ga protes pun besoknya tetep sms, “Yah, nasi Padang ya.” (arti nasi Padang itu kurang lebih, “Ga masak tapi laper.” hihihi…)

Vetsin itu tidak bisa larut, tapi mengristal dan akan menyumbat saluran di otak kita.

Ya ampun, ngeri yaaa…. Padahal makan Indomie itu menghilangkan stress euy. Stress kl lagi sibuk dan males masak, padahal kata Bapak Chef itu kalau makan nggak bener, nanti di atas 40 tahun penyakit antri. Hiyyyyy…. Amit-amit deh! Jangan sampe ya buibu, jauh-jauh dari penyakit. Aminnnn!

Penyebab diabetes yang utama bagi warga Indonesia itu ya nasi, apalagi nasi anget yang belum diaduk, lalu dimakan paling atasnya. Itu tingkat glukosanya paling tinggi. Kalau nasi matang, biarkan dulu agak dingin lalu diaduk dan diangin-anginkan biar kadar glukosa turun dan menguap, diakeul kalau kata orang Sunda ya.

Padahal suatu hari saya maen ke rumah uwa di lembur dan terpana melihat uwa ngipas-ngipasin nasi. “Rajin banget si Uwa,” begitu kata saya dalam hati *ponakan kualat!*. Padahal itu baik ya buat kesehatan, selain mengurangi kadar glukosa, nasinya juga lebih pulen dan ga gampang basi. Ya waktu itu saya nggak tahu cyin, kalau tahu pasti uwa tak bantuin deh tuh.
Kalau di rumah saya sih pakai cara instan, pasang kipas angin di deket magiccom *cara males*. Ya kipas angin di rumah saya yang nyaris gunung ini sih ga guna, udah tiris soalnyah.

Jangan kebanyakan keju ya, keju memang bagus tapi kebanyakan keju bisa bikin sesak nafas. Makanya orang Prancis banyak yang penyakitnya sesak nafas.

Ahhhhh…. ini nih pelajaran buat yang sering ganti garem sama keju, yang hobi makan keju, dan yang tiba-tiba sering sesak nafas padahal ga ada alergi. Kalau kelebihan stok keju, boleh dilempar ke sini *endingnya ga enak :p*

Jaman sekarang semua pengennya organik, tapi jangan salah kalau bahan organik dimasak pakai alat masak yang nggak sehat seperti teflon, pencetus kanker terbesar, ya sama aja. Bahan organik yang nggak dicuci pakai sabun organik, hilang manfaatnya.

Baiklah, saya nggak jadi beli-beli yang organik, mahal chef *korek-korek dompet*

Ibu tau nggak mengapa bahan teflon nggak boleh disiram air dingin ketika masih panas? Ya nanti lapisannya rusak. Padahal benar sekali menyiram panci dengan air dingin ketika panas, bakteri langsung ilang semua, bagus itu.

Jadi, harus mulai mengurangi penggunaan teflon yah, ganti sama stainless dan ironcast aja gitu. Kata Chef Nchank panci-panci di pasar gitu justru lebih bagus daripada teflon, jadi ayo belanja di pasar tradisional, mbahku jualan loh *promosi terselubung :p*. Untuk info jelasnya digugling lagi yah, Google menjawab semaunya kok, eh semuanyaaaa… :D

Ibu-ibu kalau masak bawang bombay, buang kulitnya satu lembar lagi setelah kulit coklat. Jangan lupa juga buang bagian tengahnya, yang paling tengah itu ya. Selain rasanya nggak enak, itu juga bikin aroma jadi nggak terlalu sip.

Nah, ini kan ga semua orang tau kayak gini, mau digugling pake keyword apa coba. Duh, chef, I lap yu deh. Nih, surat cintanya udah panjang, jadi udahan dulu deh yaaa…

Cuma orang Indonesia yang pake lada putih buat masak, di luar negeri semua pakai lada hitam. Memang beda rasanya, lada hitam itu memperkuat rasa. Beda banget rasanya kalau pakai lada hitam. Ibu-ibu sering bangga kan kalau beli yang merk-merk luar itu, Mc Cormick dan sebagainya, padahal tau nggak penghasil lada terbesar di dunia itu ya Belitung, tapi saya ke sana nggak ada itu lada hitam. Lada hitam itu yang belum dikupasnya ya.

Yeuh pasti langsung sedih, wajar sih pak Chef nggak ketemu lada hitam di Belitung, soalnya Bangka Belitung penghasil lada putih, Lampung penghasil lada hitam. Pinter ya saya, dulu apal tuh isi RPUL *padahal gugling :p*. Saya turut prihatin, padahal Indonesia kaya rempah tapi banyak yang diekspor, trus dijual lagi ke Indonesia dengan harga selangit *ala Pak Presiden, prihatin*

Seneng deh dateng ke acara HHBF tempo hari, walaupun saya ga homemade di rumah sendiri (homemade-nya di rumah pemilik nasi padang :p), dapet banyak quote bagus. Selamat ultah HHBF, semoga makin jaya di darat, laut, udara. Mana mau nerbitin buku yang ada tulisan sayanya kan? Duh, pasti makin keceh *siap-siap dipelototin adminnya*.

 
42 Comments

Posted by on May 24, 2013 in Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: ,

Dan…

Kemaren mau ngumumin kuis, saya lupa dan ngantuk berat. Biasa, tanggal-tanggal segini biasanya tanggal bokek kan :p. Ya walaupun saya sama suami nggak kerja kantoran, nggak punya gaji, tapi kebokekan orang lain seringkali berimbas kepada kami sementara kekayaan orang lain ya milik mereka sendiri, bukan milik kami ahahaaha… *yaiyalah mak!*

Maka dari itu, daripada dagangan kagak laku, saya bagi-bagi hadiah, bikin kuis. Ini cuma permulaan saja, saya sedang berpikir keras sekeras karang di lautan untuk mengadakan giveaway yang cetar membahana. Kalau perlu, jurinya mbak Syahrini idola saya, atau Happy Salma sodara kembar saya :p.

Daripada berpanjang lebar, dan ujung-ujungnya cuma mau ngumumin kuis, marilah kita umumkan saja. Berdasarkan UU Santet yangs edang digodog DPR, pemenang satu set pisau Vicenza adalah pemilik akun facebook Dey *pura-pura ga kenal :p* dan pemenang flashdisk adalah Husfani Agri. Selamat yaaaa.

Sebagai bonus, ini saya kasih foto saya lagi gendong Vio yah, thanks to Adobe Photoshop yang membuat saya mirip Farah Quinn.

Farah Quinn

Vio-Farah Quinn

Seperti biasa, pemenang harus update status dengan tag Dapur Hangus dan tag 10 orang teman yang isinya mengabarkan kalau menang kuis. Ditunggu tagging status-nya 1×24 jam yah, seperti layaknya batas laporan ke Pak RT.

 
27 Comments

Posted by on March 20, 2013 in Giveaway

 

Tags: , ,

Setahun Dapur Hangus

Dunia persilatan ibu-ibu gempar karena bawang merah dan bawang putih kali ini akur, kompak naik harga. Bagaikan A*famart dan Indomar*t, meskipun bermusuhan tapi sok ikrib selalu tampak kompak berdampingan *apa sih mak!!!!*. Terus teramg saya bosen baca status mengeluh bawang mahal di media sosial. Yaelah, kayak nggak ada yang namanya bumbu Bamboe atau Bumbu 47 aja sih *yang terakhir itu jualan saya hihihi…plak, sekalian pesan sponsor*.

Ngomong-ngomong, Minggu kemaren, tepatnya 17 Maret 2013, saya pertama kali ngisi formulir pendaftaran blog di wordpress *semacam SNMPTN ada formulirnya :p*. Tujuan mulianya cuma satu, menggeser tahta Kakak cantik Astri Nugraha sebagai role model ibu rumah tangga sakses. Gedubrags!

Terlalu muluk-muluk sih, tapi rasanya saya dan Lei udah puluhan ribu kali deh ngomongin empat tumpeng dalam satu hari dan tetap tak ada nyali buat menambah anak seperti Mbak Astri. Kalo kata Kak Sondang dan Pak Edi suaminya, saya dan suami adalah korban brainwash BKKBN. Yah secara BKKBN telah membuat keluarga kami hidup makmur lewat Litera Media *promosi lagi, tunggu loncingnya yah wkwkwk :p*

Jadi, Dapur Hangus Ultah, saya nggak bikin kue karena bawang lagi mahl. Begitulah kira-kira kesimpulan 3 paragraf di atas hahahaha… *mumet dot kom*. Sebagai gantinya, saya bikin kuis di Dapur Hangus Facebook Fanpage. Pertanyaannya, “Sedang ikut pelatihan apakah saya kemarin?”

Hadiahnya ada dua, satu set pisau Vicenza yang merupakan dagangan dan satu buah flashdisk mini 2 GB (2 Giga itu seperti udah semilenium kemaren yah, tapi adanya ya itu). Maaf ya kalau hadiahnya ga modal, abis kemarena spontan aja sih ngetik kuisnya *plakkk*.

Banyak banget sih yang bener jawabnya, secara ada temen-temen blogger yang menguping pembicaraanku dengan Teh Nchie *ge er dan sok artis banget*. Ya, jawabnya kemaren saya lagi ikut Private Ekpress SEO bersama Dewa SEO (alias Kang Argun). Tuh, kan, banyak yang bener kan, tapi pemenang cuma akan dipilih dua orang oleh si mafia Corleone cilik, Violeta. Caranya dipikir nanti deh, biasanya Vio sih suka asal tunjuk mau lihat foto ini itu, tapi ya marilah kita pikirkan lagi sambil menyanyi di kamar mandi :p.

Mari kita bahas satu per satu jawabannya:
- Ikut pelatihan Konselor Laktasi: Salah lah ya, saya kan sukanya antimainstream, kalo ibu-ibu lain berlomba-lomba pengen menjadi konselor, saya mah nggak minat (ga minat apa ga punya duit? yang ke-2 lah yaaa…)
- Ikut pelatihan jurnalistik : mungkin harus sombong dikit, ga perlulah ya rasanya, saya udah 7 tahun kuliah Jurnalistik cieeeee :p
- Ikut pelatihan fotografi : Nyaris banget ikut training food Photography di Jalan Veteran, tapi kan bentrok hihihihi… Padahal udah ngerayu Teh Nchie biar privat-nya diundur, tapi kan or iso jendral!
- Ikut pelatihan mompreneur : pengen sih, tapi belum ada yang mau ngelatih murid seenak udel kayak saya.
- Ikut pelatihan senam hamil : Jedarrrrr! :p, saya ga hamil
- Ikut pelatihan ngeblog : plis deh sekarang juga lagi ngeblog ga pake latihan
- Ikut pelatihan pemasaran internet : pengen, tapi belum kesampain
- Ikut pelatihan ESQ : udah khatam baca bukunya, jadi udah cukup sih ya…
- Ikut pelatihan memasak : biarpun ga bisa masak, saya belum perlu ikut pelatihan memasak sampai jatuh korban dari masakan saya hahaha…
- Ikut pelatihan MLM : jangan-jangan yang jawab orang MLM yah? Belum ke arah situ, ngurusin Dapur Hangus seekor aja masih sering misuh-misuh diawali huruf A :p *dibahas*
- Ikut pelatihan CEO : Nah yang jawab ini salah sih, tapi semoga merupakan doa suatu saat saya beneran bisa jadi CEO. Aminnn…

Banyak ya yang jawabannya bener. Pengumuman pemenangnya nggak hari ini, tapi nunggu besok sambil posting sesuatu lagi. Biar makin rajin nyambangin blog ini jadi saya juga cemungudh buat posting hehehe…

Selamat Hari Jadi Dapur Hangus ^^, diupdate dong blog-nya *ngomong sambil ngaca*

 
18 Comments

Posted by on March 18, 2013 in Cerita dari Dapur Hangus, Resep

 

Tags: , , , ,

Rahasia Macaroni Schotel Ciamik

makaroni schotel

Orgran Vegetable Schotel, enakkkkk….

Baru kali ini saya bisa makan pasta tanpa tersisa. Nggak mau kalah sama Vio pokoknya. Dia habis satu setengah porsi, saya habis dua porsi hehehe… Resepnya ngawur aja, wong kalo gugling “resep makaroni skutel” setidaknya ada 41 ribu entry yang bakal muncul. Silahkan pilih mau yang mana, sejujurnya saya mau pamer aja dikiiit kalau udah bisa bikin skutel yang yahud binti maknyus. Vio bilang, “Bikinan ibu enak, ibu pinter banget!”

Selama ini, saya selalu kurang puas dengan skutel bikinan saya. Selalu ada yang kurang, nggak padet kayak kalau beli di Borma *sebut merk*. Sayangnya kalau beli di Borma itu udah mahal, dapetnya sedikit, kejunya pelit pula. Wis, itu cuma bikin menggerutu aja pokoknya.

pasta orgranKemaren saya iseng aja pengen sarapan pasta, itung-itung mempersiapkan perut kalau suatu saat tinggal di Italy *ehem-ehem*. Kebetulan stok pasta lagi melimpah, ada Orgran, ada juga elbow biasa. Saya akhirnya milih Orgran buat diolah, penasaran kayak apa sih rasanya pasta mahal ini.

Karena udah lama banget nggak uplek-uplek dapur, stok bumbu-bumbuan saya nol besar. Ga ada bawang bombay, padahal bombay hukumnya fardhu ain di masakan Italia. Yo wislah karena saya bukan orang Italia melainkan orang Ciwaruga, bawang bombay saya ganti dengan bawang merah aja. Rasanya tetep enak kok *seenggaknya menurut saya dan Vio :P *

makaroni skutel Dapur Hangus

Yummyyyy….

Bahan
2,5 genggam pasta Orgran, inget yaaaa…. tangan saya kecil. Jadi ya dua setengah genggam ini sama dengan satu setengah genggam tangan yang agak besar. Tentang tangan kecil ini, jadi inget doa adek saya pas saya hamil Vio, “Ya Allah semoga tangan ponakan saya normal nggak kayak tangan emaknya.” *jedarrrrr*
1 siung bawang putih, cincang halus
2 siung bawang merah ukuran sedang (harusnya pakai bawang bombay setengah ya). biar ga kerasa banget bau bawang merahnya, saya bela-belain ngulek nih.
40 gram keju cheddar parut
Keju mozarella secukupnya, parut juga. Mozarellanya buat taburan ya.
1 buah telur ukuran kecil
1 kotak kaldu ayam yang resepnya bisa diintip di sini
Gula, garam, merica secukupnya
Butter untuk menumis
100 gram fillet dada ayam, parut. Ya intinya sih ayam cincang ya, tapi saya kan nggak punya ayam cincang, ga punya grinder dan semacamnya. Jadi saya sih ayam beku dikeluarin dari freezer, langsung diparut pake parutan keju. Lumayan, lumayan dinginnnnnn….. tapi hasilnya bagus sih, mirip ayam cincang di supermarket hihihi… Yaaaa… sementara tangan menderita karena nahan dingin dulu deh sebelum bisa beli blender 7in1-nya mbak Happy Salma :p.

Cara membuat:
Rebus pasta sampai empuk, tapi jangan terlalu lembek. Tambahkan sedikit butter dan garam. Tiriskan lalu sisihkan. Ga usah jauh-jauh sih ya nyisihinnya, jangan disisihin ke rumah tetangga apalagi :p. Beuuhhh… bisa dimakan abis sama anak tetangga. Yuuk fokus, fokus ke skutel yaaa… *

Tumis bawang merah dan bawang putih sampai harum. Masukkan ayam cincang alias ayam parut yang membuat tangan saya menderita tadi. Masak sampai ayam berubah warna dan matang.

Tambahkan kaldu, masukkan pasta yang sudah ditiriskan, tambah gula, garam, dan merica secukupnya. Kecilkan api. Aduk sampe merata. Setelah tercampur rata, masukkan telur, aduk cepat jangan sampai telur menggumpal.

Terakhir, masukkan 3/4 keju cheddar parut. Seperempatnya buat apa? Yakin ya kalau sambil masak tadi kejunya ga dicemilin *ngomong sambil ngaca :p*. Ehemmm…seperempatnya buat taburannya nanti. Dikit juga ga papa sih, biar tambah cantik aja skutelnya.

Tata di pinggan tahan panas, agak tekan-tekan. Taburi mozarella parut

makaroni skutel

Bau mozarella terbakar itu…. susah diceritakan deh :p


di seluruh permukaan adonan skutel, lalu taburkan cheddar parut. Sebelumnya, jangan lupa panaskan oven. Cuma butuh sekitar 10-15 menit skutel di oven, karena semuanya kan sudah matang. Manggang ini biar mozarellanya leleh dan baunya jadi seksi aja hihihi…

Nah, ternyata nggak susah ya bikin skutel sendiri, yang susah adalah mengumpulkan niat yang suci dari hati yang terdalam *tsahhh…

Jadi, apa sih rahasia bikin skutel enak? Ehem *siap-siap ditimpuk* ternyata selama ini saya nggak pernah pake ayam cincang kalau bikin skutel. Baru sekali ini deh bikin skutel seenak ini. Mari berdoa semoga skutel-skutel bikinan saya berikutnya seenak yang satu ini. Aminnnnn…

 
30 Comments

Posted by on January 12, 2013 in Resep

 

Tags: , , , , , ,

Dapur Hangus 2012 in Review

Yayyyy… 9 bulan yang membahana hihihi…

Terima kasih kunjungan dan komennya, sebagai komentator terbanyak, ada hadiah lohhhhh…. Selamat ya mbak Lidya ^^.

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

19,000 people fit into the new Barclays Center to see Jay-Z perform. This blog was viewed about 65,000 times in 2012. If it were a concert at the Barclays Center, it would take about 3 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

 
4 Comments

Posted by on January 11, 2013 in Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,665 other followers

%d bloggers like this: