RSS

Betapa Malasnya Nge-Blog 2013

Tahun 2013 menjadi tahun yang malas posting tulisan di blog ini. Makkkkk…. semoga tahun depan lebih semangat. Aminnnn….

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 170,000 times in 2013. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 7 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

 
7 Comments

Posted by on December 31, 2013 in Cerita dari Dapur Hangus

 
Image

Apa itu Ramekin?

Apa itu Ramekin?

Uncle Google menjawab segalanya, tapi ternyata tidak untuk jawaban dari pertanyaan, “Apa itu ramekin?”. Buktinya, banyak sekali yang bertanya kepada saya, baik lewat inbox FB atau komen di foto ramekin (yaaaaa komen di foto barang-barang yang disebut itu lohhhhh, padahal kan jelas penampakannya ya hihihi…). Eh, maksudnya uncle Google sih mungkin aja menjawab, tapi kurang lengkap tentang apa itu ramekin, apa kegunaannya, apa bedanya dengan mangkok lain? Mungkin yaaaa… takut kualat sama om yang sudah berjasa membantu saya belajar masak :p.

apa itu ramekin

Zen ramekin, made in Indonesia <3

apa itu ramekin

Sejak Oktober 2012, saya mulai jualan ramekin, jadi sebenernya wajar sih kalau banyak yang nanya ke saya apa itu ramekin. Ga mungkin juga dia mau nanya ke Dian Sastro, kan? Jadi, daripada saya mengulang-ulang seperti kaset rusak, saya tulis di sini aja.

Eh, tunggu bentar, saya mau sedikit cerita (yang endingnya biasanya banyak :p). Duluuuuu…. saya kenal ramekin pertama kali karena bahas MPASI di forum The Urban Mama. Yang saya lakukan pertama biar ga keliatan bodoh karena ga tau, ya saya gugling, kebetulan saya smart dan punya smartphone yang lebih smart. Itu dulu ya tahun 2010, saat yang namanya smartphone baru si apel dan si berry hitam saja. Kalau sekarang mestinya lebih banyak hape yang smart, tapiii…. ah ya sudahlah :D.

Setelah gugling, saya selalu kepikiran sama mangkok nama ramekin ini, tapi belum pernah nemu juga. Sampai suatu ketika, entah mengapa setiap malam saya gugling terus yang namanya ramekin. Ehhh…. tau nggak, tiba-tiba saya dapet pangsit eh wangsit bertemu dengan ramekin nggak lama setelah itu. Sejak itulah saya jualan dengan sistem Pre Order.

apa itu ramekin

Ini ramekin dengan kuping, bagus juga kan. Nah, ini contoh yang polos, ga bergelombang.

Sebelumnya saya nggak percaya loh orang bisa bisnis tanpa modal, tapi Allah Maha Baik dan menunjukkan jalan memulai usaha untuk saya. Dari modal nol, sekarang saya bisa memesan ramekin langsung dari pabrik senilai lebih dari sepuluh juta. Dan nikmat mana lagi yang harus saya dustakan? *dorrr seriusssss yaaa :p*. Minat? Inbox saya ya *MLM mode on :p*

Tuh kan, bener aja panjang. Jadi, apa itu ramekin?
Ramekin (ramequin) itu mangkok tahan panas yang bisa dipakai untuk oven, microwave, dan mengukus. Yang membedakannya dari pinggan tahan panas adalah bentuknya yang kecil jadi pas banget untuk satu porsi makanan. Setelah makanan di oven/microwave, bisa langsung dihidangkan di meja makan karena penampakan ramekin yang cantik kayak Asmirandah ^-^. Untuk keterangan lengkap asal kata dan sebaginya, silahkan buka di Wikipedia di sini atau di sini juga.

Kalau dari link di wikipedia itu kan jelas ya, ada bermacam-macam ramekin. Ada yang wavy side alias bergelombang permukaan luarnya ada juga yang plain/polos. Ciri khas ramekin ya memang dari bergelombangnya itu. Jadi, nggak usah bingunglah kalau yang punya mangkok yang ga bergelombang tapi tahan di oven, bisa disebut ramekin nggak kira-kira? Silahkan dipikirkan jawabannya sendiri :D.

Apa itu ramekin

Dragon Ramekin yang tak sempet diupload pun sudah ludes

Nah, definisi udah jelas kan? Sekarang bahan pembuatnya ya. Saya nggak paham bener sih tentang bahan-bahan ini, tapi dari pengalaman saya berkecimpung di dunia per-ramekin-an, bahan pembuat ramekinlah yang menentukan kualitas dan keawetannya. Ada yang menyebut bahan keramik, porcelain, white porcelain, dan glass. Ada yang sekadar dari keramik, tahan di oven juga, harga cuma lima ribu, lihatlah sekitar 6 bulan kemudian dengan minimal penggunaan seminggu sekali, ada garis-garis halus seperti retak. Ya namapun murah, jangan harap awet sampe kita kakek nenek ya. Tapiii, kalau untuk semacam koleksi atau you named kekalapan ingin punya, ramekin lima rebuan ini big deal banget! Di mana belinya? Di Giant biasanya banyak kalau lagi ada.

Ada juga yang dari white porcelain (eh saya pun bingung porcelain dan keramik itu sama ga ya?), biasanya lebih mahal, tapi ya memang lebih bagus. Saya membedakannya dengan tangan dan mata awam ya, bukan ahli porcelain. Lebih awet nggak? Sumpah saya nggak tau. Walopun sudah jualan ramekin dari tahun lalu, PERCAYALAH SAYA NGGAK PUNYA RAMEKIN untuk dipake sendiri hehehe… p.

Kadang, ada mangkok yang hanya bisa dipakai di microwave saja. Mengapa? Perhatikan, kadang ada motif di luar mangkok, kalau di oven dengan durasi lama, motifnya akan memudar. Atau… di bagian dalam mangkok dicat (diwarnai) siver atau gold. Warna ini bukan warna asli keramiknya ya. Ini yang biasa kita temui di Ace Hardware, udah imut lucu cantik ternyata ga bisa dipake buat oven :(.

Apa itu ramekin

Warna warni cantik yaaa…

Saya nggak ngerti sih mengapa dalemnya harus diwarnai, tapi untuk durasi penggunaan di oven yang lama, takutnya cat itu masuk ke bahan makanan. Itulah mengapa nggak bisa dipakai di oven, sayang ya sebenernya.

Dari cerita puanjangggg di atas, kesimpulannya ternyata hampir semua mangkok bisa dipakai di oven, bahkan mangkok kaca yang selusin 10ribuan di pasar tradisional. Untuk pemanasan yang nggak lama, semuanya bisa dipakai (dan pada akhirnya bolehlah disebut ramekin). Kata mbak Titi, di tukang zuppa soup depan alfamart gitu, yang dipakai mangkok biasa yang bahkan bisa dibeli dengan harga seribu saja. Kok bisa? Karena zuppa soup tak butuh pemanasan lama, hanya sampai puff pastrynya mengembang, tak sampai 10 menit mungkin.

Selain dipake bikin zuppa soup, ramekin juga dipakai untuk membuat chocho lava cake, lasagna, segala turunan skutel, dan souffle. Souffle ini konon awal mula diciptakannya ramekin. Fungsi ramekin bisa digantikan oleh cup dari alumunium foil dan silicon cup, kalau alumunium foil sekali pakai, silicon cup bisa dipakai berulang sama halnya seperti ramekin. Hanya untuk makanan yang sifatnya cair, memakai silicon cup beresiko tumpah.

Kalau memang pengen punya ramekin, ya mulai sekarang buka-buka lemari deh, ada nggak mangkok polos yang bisa diuji coba dipakai di oven. Kalau nggak ada, lakukan hal yang sering saya lakukan, buka-buka lemari emak hahahah :p. Nah, kalau nggak ada juga, bolehlah beli di Dapur Hangus.

NB: Ceritanya jadi pamer foto ramekin ya wekekek :p

Apa itu ramekin

Ramekin Yoshikawa

 
19 Comments

Posted by on December 27, 2013 in Alat Tempur, Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: , , , , , , , ,

Nasi Goreng Abrakadabra

Nasi Goreng Abrakadabra

Dari sekian banyak pilihan jawaban dari pertanyaan, “Diolah menjadi apa nasi sisa semalam?” Sekitar 70 persen penduduk Indonesia (bagian Ciwaruga) yang diwawancarai Dapur Hangus akan menjawab, “Nasi goreng.”

Sebagian lain akan menjawab, “Dijemur lalu dibikin krupuk.” (eh ini serius loh ya, namanya krupuk karak dalam bahasa Jawa, kalau bahasa Belandanya asli saya ga tau :p). Dan cuma satu dari 350 juta penduduk Indonesia yang menjawab, “Buat makan ayam di depan rumah biar ayamnya gendut.” Sayangnya satu makhluk ajaib itu bernama Violeta, kebetulan ditakdirkan jadi anak saya.

Masih ada lanjutannya sih, kalau Vio lagi liat ayam punya tetangga, dia bakal bilang, “Ayam makan yang banyak ya biar cepet gede dan pinter nanti sekolah di Percikan Iman.” *emaknya nggeblak*

Nah, balik lagi ke nasi goreng deh ya, waktu SD kan suka nulis di diary atau buku semacam itulah. Isinya biodata, hobi, makanan favorit, warna kesukaan, dan lain sebagainya. Saya juga ngisi dong, baik di buku sendiri maupun di buku temen. Di kolom makanan favorit, saya konsisten nulis: pecel lele dan nasi goreng hahahaha… Sampe sekarang nasi goreng masih favorit lah ya. Kalau pecel lele sih udah bosen-bosen gimana gitu, apalagi kalo inget makanan lele adalah… :p *isi sendiri*.

Dalam sehari, kalau saya lagi masa pertumbuhan atau lagi growth spurt *saya, iya saya bukan si Vio :p* bisa loh pagi makan nasi goreng, siang makan nasi goreng, dan malam pun makan nasi goreng. Ga bosen? Enggaklah, asal bukan saya yang masak yaaaaaa :p *tetep males*.

Nah, pagi itu (beberapa minggu lalu, udah lama pokoknyah), saya pengen nasi goreng. Intip dapur berantakan itu kok ga ada apa-apa kecuali ikan asin cumi dan duo bawang. Kemiri baru apek, telur tinggal satu, ayam apa lagi wong telur aja tinggal satu belum netes, ya ayam pasti ga ada :p. Sungguh kasian pemilik dapur ini :( *kak, minta uang kak, buat beli telor kak hahaha…*. Berhubung pengen nasi goreng, ya udah mari bikin nasi goreng asin cumi saja :D.

Kalau lagi nggak pengen diposting di blog, cumi asinnya sih digoreng, dipotong-potong, lalu digebruskan (bahasa mana ini) pas nasi goreng dimasak. Nah, berhubung ini mau dipotoh ya pemirsa, biar keceh ya cuminya dipotong dulu baru digoreng. Hahahha… cuma segitu doang ya bedanya? Hooh, biar panjang aja postingannya wekekeke. Eits, tapi bukan tanpa maksud serta tujuan, ya pokoknya biar cuminya bisa nampang dengan indah pas dipotrek sama fotograper profesional asli dari Bandung coret ini.

nasi goreng asin cumi

Kok coklat? Ya pake kecaplahhhh…

Saya sih kalau bikin nasi goreng udah default ya bumbunya, bawang merah, bawang putih dan teman-temannya. Tapi biar afdhol, biar rada kece gitulah saya posting juga deh resepnya. Ini resep tentu saja buat 2,5 porsi karena memang di rumah saya cuma ada 3 manusia, satunya diitung setengah biar ga bayar penuh :p.

Bumbu halus:
2 siung bawang putih ukuran sedang
5 siung bawang merah ukuran besar
1/2 sendok teh ebi kering (kalau ada) atau bisa juga disubtitusi dengan 1/2 sdt udang rebon yang sudah disangrai. Saya sih pake udang rebon karena alasan keselamatan kantong :p. Saya beli udang rebon di supermarket, beda gopek sama beli di pasar, tapi rebonnya lebih bersih, ga ada batu-batunya. Setelah beli langsung disangrai, lalu simpan di wadah kedap udara. Mungkin yang ada di rumah sekarang udah hasil sangrai setahun lalu hahaha…. *lama aja, abis jarang masak*. Ebi dan rebon ini jadi MSG alami, jadi ga perlu tambah-tambah micin dan seluruh perasa lainnya :D.
1 1/2 sdt garam
1/2 sdt merica bubuk
1 sdt gula pasir

Bumbu tambahan
2 sdm kecap manis
1 sdt saus tiram

Topping:
2 cumi asin, potong-potong lalu goreng setengah matang atau goreng lalu potong-potong bebas ajalah. Cuma orang bingung yang menganggap dua hal itu berbeda *loh, berarti itu saya dong :p*.
1 buah telor

Cara membuat:
Sebenernya saya yakin semua orang pasti bisa bikin nasi goreng. kecuali saya waktu pertama kali nikah. Bahkan bikin nasi goreng dari bumbu instan pun ga berhasil *mewek di bahu Kang Ariel yang ganteng maksimal*. Entah bumbunya ga rata atau kegosongan, pokoknya ga bisa *nasibmu sungguh nggilani pol!*. Jaman pertama nikah itu ya belum akrab sama om gugel yah, jadi kalau ga bisa masak ya alternatif lain sih beli :p *ga kreatif amat yak satu orang ini*.

Nah, ternyata setelah saya rada pinteran ngedapur, saya baru tau kalau nggak semua nasi bisa enak dibikin nasi goreng. Nasi goreng paling enak itu ya yang dibikin dari nasi yang agak keras, nggak hangat atau panas, pokoknya yang dingin. Kalau nasinya hangat, hasilnya akan benyek dan bumbunya ga kerasa. Oh yaudahlah kebanyakan ngomongnya, dilanjut saja cara membuat yaaa…

1. Haluskan bumbu halus, lalu tumis dengan minyak panas. Bumbu halus ini versi paling sederhana ya, ada kalanya saya bikin pake kemiri yang sudah disangrai (satu atau setengah aja). Kalau lagi pengen kuning ya pake kunyit, jangan banyak-banyak. Orang Sunda kadang bikin nasi goreng pake cikur (kencur), aromanya enak, wanginya beda. Tapi ya sutralah ini juga namanya nasi goreng abrakadabra, ya sejadi-jadinya aja.
2. Setelah bumbu menguarkan aroma wangi *uhuk bahasanya :p*, baru masukkan nasi. Buat dua setengah orang tadi ya nasinya, jadi kira-kira ini dua piring kurang dikit. Kebetulan porsi makan saya irit, jadi nasinya ga banyak-banyak. Kalau mau lebih ya bikin bumbu halusnya ditambahin ya biar bumbunya kerasa. Selama proses ini saya pake api sedang saja.
3. Loh, telornya kok belum dimasukkin? Tenanggg, saya ini terinspirasi dari penjual nasi goreng Jawa. Telornya baru dipecahin di step ke-2. Setelah nasi tercampur rata di bumbu, sisishkan nasi agak ke pinggir, kasih minyak sedikit, pecahkan telor, kasih garem dikiitttt aja, lalu besarkan api. Setelah telor agak mateng, baru diorak arik dan dicampur dengan nasi. Posisi api tetap dengan api besar yaaaaa…. Hasilnya nasgornya nanti ada sensasi kegosong-gosongan ala nasgor Jawa. Biar nggak gosong beneran *seperti dapur ini*, harus kuat ngaduknya aja, jangan sampe didiemin, nanti bawgian bawah gosong dan mengerak, hasilnya ga cantik deh kayak Asmirandah :D. Kalau mau, masukkan cumi asin di tahap ini. Saya sih cuminya diatur di atasnya semacam toping gitu, karena kan mau difoto tea hehehe…
4. Sambil ngaduk-ngaduk, masukkan kecap manis sampai merata, lalu saus tiram juga. Sampai tahap ini, biasanya saya ambil setengah porsi buat Vio. Setelah itu lanjut nasi dimasak lagi setelah dikasih potongan cabe. Yessss, jadi sekali memasak yang suka pedes dan yang ga suka pedes bisa langsung dalam satu wajan. Hemat cucian perkakas dapur. Eh, tapi di foto nasi goreng ini ga pake cabe sih ya karena belum panen di rumah tetangga *ditimpuk selop sama tetangga* :p.
5. Nah setelah nasi mateng, matikan api. Karena tadi sempet pake api besar, proses memasak masih berlangsung, ada baiknya tetep diaduk-aduk biar coklat nasinya merata. Udah deh, nasi goreng cumi asin siap disantap. Pake krupuk pedes enak juga deh… duhhh, jadi laper cyinnn…

Oya, terkait nasi goreng ini kan kalo bahasa Inggrisnya fried rice ya? Katanya sih sekarang di luar udah ga ada lagi tuh di daftar menu yang namanya fried rice, rata-rata sudah nyebut nasi goreng, jadi udah diakui sebagai kekayaan kuliner Indonesia (makanya yang bisa masak nasi goreng keren banget deh *tunjuk idung*). Waktu saya jalan-jalan ke Gramedia juga nemu buku 100 macam nasi goreng nusantara. Busyettttt…. banyak banget macemnya kan? Sayang nggak beli sih padahal lagi diskon, maklum bokek sodarah :(. Di back cover buku itu ada daftar variasi nasgor, sumpah dari bikin nasi goreng aja bisa dibikin buku, nanti ya kapan-kapan saya bikin buku juga yang judulnya nasgor Abrakadabra, sambil merem juga bisa :D. Doakan yaaa….

 
19 Comments

Posted by on October 15, 2013 in Resep

 

Tags: , ,

Semur itu yang Penting Kecap

Semur itu yang Penting Kecap

“Ini Malika, kedelai hitam yang saya besarkan seperti anak sendiri,” begitulah bunyi salah satu iklan kecap *ga boleh sebut merk* yang botolnya gambar bango *eh keceplosan :p*. Kecap yang satu ini berjasa buat saya karena bisa mengobati rasa kangen sama kecap Sawi. Kecap Sawi ini kecap buat kota asal saya yang paling ngehits se-Jawa Timur, Kediri *jiah, dikejar massa*. Duluuuu banget waktu saya masih pake rok merah ke sekolah dan tentu saja masih imut, saya ikutan les di daerah deket pabrik Kecap Sawi. Tiap jam 3 sore pas ngantuk-ngantuk, hidung ini bau kecap yang hmmmm lezattttt…. manis pol sampe giung kalo kata orang Sunda.

Ini ngomongin kecap karena saya mau bikin semur. Saya kan punya hobi yang agak positif ya, selain hobi-hobi lain yang negatif :p. Walaupun nggak bisa dan nggak suka masak, saya sukaaaa banget ngumpulin buku resep. Salah satunya dari bonus kecap, pernah dapet edisi semur Nusantara. Ternyata bumbunya beda-beda ya semur itu. Ada yang pake lengkuas, ada yang pake pala, ada yang pake jahe, ada yang pake cengkeh. Yang ga ada tentu saja yang pake sendal jepit *apalagi merk swallow :p*.

Ngomong-ngomong tentang sendal jepit, tau ga sih, dulu waktu saya kecil ada lagu judulnya sendal jepit, saya sih inget dulu anak yang nyanyi ini gosipnya anak Bang Rhoma Irama. Gosipnya yaaa, saya lupa nama anaknya, tapi inget banget liriknya:

Duh kasihan, lihat kamu. Duh kasihan diinjek selalu, duh kasihan sandal jepitku, aduh-aduh.

Saya ajarin lagu ini ke Vio kalau sambil naik motor gitu, trus dia nanya kenapa kita jarus kasihan sama sandal jepit? Saya bingung jawabnya hahaha… Iya ya, kenapa harus kasihan, kan sudah fitrahnya dia diinjek.

Nah, tentang sandal jepit sudahlah ya *gara-gara sendal swallow nih*. Sekarang balik lagi ke semur. Melihat resep di buklet bonus binti gratisan dari kecap yang ga boleh disebut merknya tapi botolnya gambar bango itu tadi, saya menarik kesimpulan penting *gaya benerrrr*, semur itu yang penting coklat. Ya kan ya dongggg… Ya yang penting pake kecap :D.

Sore itu sebelum buka puasa, saya sih pengen banget bikin semur, tapi seperti biasa saya malah ga nemu di mana rimbanya buklet itu. Alhasil, saya mengira-ngira saja resepnya, seingetnya yang pernah saya baca aja. Pokoknya jangan lupa pake kecap, karena fitrah semur itu coklat pake kecap, sama halnya dengan fitrah sendal jepit yang mau nggak mau harus diinjek :p.

resep semur mudah

Maaf ya belepotan semurnya, lagi moto ada yang ga sabar pengen nyolek :D

Bahan:
18 buah telur puyuh. Serius ini jumlahnya 18 loh, karena saya beli di pasar 25 biji dan yang tujuh udah dilep sama Vio. Saya udah lama ga belanja ke pasar, biasanya belanja di warung nasi Padang *beli maksudnya :p, ga masak*, saya nggak tahu kalau telur puyuh bisa di kilo, biasanya kan dihargai per biji 250-300 rupiah. Coba-coba beli seperempat, ternyata dong, udah harganya lebih mahal, isinya lebih dikit. Dengan uang 8.000, harusnya kalo beli bijian saya dapet 32 eh ini cuma dapet 25 *mewek di ketek Keanu Reeves*. Kalau kata Dessy Ratnasari sih ‘menyesal tak pernah di awal’ :p. Oh ya sampe lupa, telurnya direbus sampai mateng lalu dikupas kulitnya.
5 buah tahu putih, potong ukuran sedang, goreng setengah matang. Jangan terlalu kering gorengnya, biar bumbu meresap.
1 blok kaldu ayam (bisa diganti air)
Air matang secukupnya, sesuaikan dengan kebutuhan kuahnya, kalau pengen kental, airnya cukup 2 gelas belimbing, kalau pengen agak light, tambahin airnya :D. Pokoknya jangan kebanyakan aja, kalau sekiranya satu gelas kurang, baru ditambah. Soalnya kalau sampe kebanyakan air, proses masaknya bakal lama banget plus bumbunya ga meresap maksimal.
2 sdm minyak goreng untuk menumis bumbu

Bumbu halus
2 butir kemiri, sangrai
3 siung bawang putih
5 siung bawang merah
½ sdt jahe bubuk. Kalau ada jahe yang nggak bubuk sih ya boleh saja dipake, sekitar 2 cm digeprek lalu ditumis dengan bumbu halus. Saya kebetulan nggak punya karena jarang masak, jadi semua bumbu bubuk inilah penyelamat saya :D
Bubuk pala secukupnya, saya pake 1/2 sdt juga.
Gula, garam, merica secukupnya, saya pake merica bubuk lah ya biar ga susah nguleg.

Bumbu tambahan:
3 biji cengkih kering, ini kok kebetulan ada di atas kulkas. Pasti hasil gelap mata suatu ketika di Kijang Mas ahahah… mbuh wis, inget-inget pas baca buklet kok ada yang pake cengkih, ya tak cemplungin aja :D
2 lembar daun salam
5 sdm kecap manis. Ini saya kira-kira ya 5 sdm, karena langsung tuang dari botol ga ditakar. Pokoknya banyak biar sesuai sama judulnya, semur itu yang penting kecap :D

Cara membuat:
1. Rebus telor puyuh sampai matang lalu kupas, sisihkan.
2. Potong-potong tahu sesuai selera, saya pakai tahu lembang ukuran besar, saya potong jadi 6. Goreng setengah matang, sisihkan juga.
3. Tumis bumbu halus, daun salam, dan cengkih sampai wangi.
4. Masukkan kaldu ayam (kalau nggak pakai kaldu ayam ya ganti air aja), lalu telur puyuh rebus.
5. Kecilkan api, tambahkan kecap sekitar 2 sdm. Tunggu sampai warna telur agak kecoklatan dan bumbu meresap, baru tambahkan air matang dan sisa kecap (3 sdm).
6. Masukkan tahu yang telah digoreng setengah matang. Besarkan api, maksudnya ya jangan gede-gede juga sih, sedang-sedang saja apinya, lalu tutup wajan. Biarkan 5-10 menit sampai bumbu benar-benar meresap, jangan lupa sesekali diaduk. Durasi ditutupnya ini tergantung keinginan ya, kalau mau kuahnya kental, ya agak lama. Saya suka yang kuahnya nyaris habis, jadi kuahnya sedikit, jadi ya lama sih masaknya. Bisa ditinggal luluran dulu gitu dehhhh… :p.

Nah, gimana? Ternyata bikin semur gampang ya? Gampang sih kalau cuman baca resep doang, kalau disuruh masak yaaaaa gampang-gampang susah. Tapi, yang ngaku-ngaku sebagai ibu Indonesia kudu bisa masak semur, soalnya bahasa Inggrisnya semur menurut om Wiki mah Indonesian Stew, berarti asli Indonesia gitulah kira-kira.

Oh ya, isinya bisa diganti-ganti ya. Bisa pake kentang, tempe, daging, telor dan lain-lain. Saya sempet bikin pake kentang rendang yang kecil-kecil itu bareng sama telor puyuh dengan niat yang tulus untuk mengelabui Vio dan ayahnya, biar ga melulu milih telur puyuh haahahaha… Ini trik diajarain sama ibu saya, jaman dulu waktu masih kecil sering masak sayur lodeh isinya telur puyuh semua dan bangkrut karena anak-anaknya kalo makan banyakan telurnya daripada nasinya. Akhirnya sama ibu saya dicampur dong sama kentang kecil, namanya telur puyuh KW 2. Suami saya sempet terkecoh dan berkomentar, “Wah, siasat ibu berhasil nih, semua yang diambil kok kentang semua.” Ssstttt… emang banyakan kentangnya, tapi rahasia yaaaa :p

Semur yang paling ngehits kayaknya semur jengkol ya? Saya belum pernah makan jengkol seumur hidup saya yang udah 18 tahun ini *ehemmm*, jadi ya belum bisa kasih testimoni secetar apa sih semur jengkol itu. Nantilah kapan-kapan kalo dirayu sama Brad Pitt buat makan semur jengkol, mungkin saya berubah pikiran *plak*.

 
41 Comments

Posted by on July 27, 2013 in Kisah di Balik Rasa, Resep

 

Tags: , , , , , ,

Chef Abal-abal Jadi “Penulis”

Chef Abal-abal Jadi “Penulis”

Ketika merencanakan membuat blog ini, pas banget nemu lomba nulis yang isinya pengalaman masak. Saya berbinar-binar mengingat hadiahnya adalah gadget daput yang sampe sekarang pun saya belum punya, MIXER :D. Sayang saya ga dapet mixer, tapi ternyata beberapa tulisan pemenang dibukuin dan sekarang bukunya udah terbit.

Biarpun jelek, saya udah pernah nulis buku *bangga sampe kiamat*. Bukan karena saya penulis, bukan karena suka nulis, dan bukan karena pengen eksis. Saya cuma beruntung bisa menulis. Beruntung punya komputer, punya laptop, punya BB yang sinyalnya senen kemis, beruntung dan bersyukur pokoknya *sholehah mode on :D*.

Oh ya, ini buku pertama dari Grup HHBF di Facebook, nah nanti katanya ada buku ke-2 juga yang isinya resep-resep. Tapi saya ga ikut-ikutan nulis lagi, yang nulis admin HHBF aja.

Nah ini penampakan tulisan saya di buku, ga pa pa ya narsis dikit. Ga perlu beli, tapi kalo borong boleh dong! *modus :p*. Cakep ya di ilustrasinya biar dapurnya hangus juga, mana ovennya gede kan. Ih di dapur saya mana ada oven segede itu, adanya mesin cuci. Memang dapur saya salah fokeus sih, ga jelas dapur ama londri, abisnya rumahnya cuma seiprit sih ya.

Sambil malangkrik :p

Tulisan saya yang masuk buku kayak apa sih? Apa harus beli bukunya? Nggak harus sih kalau cuma mau baca tulisan saya, tapi kalau mau baca hal-hal bermanfaat lain, buku ini wajib di beli (saya juga jual, gitu kira-kira lanjutannya :p). Buat yang mau MPASI atau MPASU, harus punya lah yaaaa…. Kalau cuma mau baca tulisan saya, di bawah ini tak lampirkeun kok, versi asli tanpa diedit. Kalau mau versi diedit ya beliiiiiii dongggg! Semoga para juri ga nyesel ya milih tulisan saya masuk di buku :D.

***

Dapur Hangus, Surat Cinta untuk Violeta
Oleh: Ika Rahma

Hidup saya sempurna, setidaknya begitulah menurut saya. Punya bisnis idaman, kuliah di jurusan yang menyenangkan, menikah dengan mantan atasan yang lucu dan imut-imut (uhuk-uhuk, pssttt….jangan kasih tahu suami saya ya! :p), serta Rahmania Violeta Corleone sang guru kecil yang menakjubkan.

Sampai di situ semua masih sempurna kan? Sayangnya kesempurnaan itu mulai goyah ketika Vio berusia 5 bulan. Artinya H-30 saya harus mengenalkan makanan padat untuknya. Artinya, saya harus masuk dapur. Artinya saya harus bersahabat dengan ulekan, bercengkerama dengan kompor, mengakrabi penggorengan, dan berparfum bawang. Aihhh… dengan kata lain: Neraka!

Eits! Jangan dulu dibayangkan neraka dengan iblis berbentuk panci, ulekan, penggorengan, kompor, dan kawan-kawan ya. Ini sih neraka versi saya, neraka dapur. Dapur itu seolah membuka ‘luka lama’. Lagi-lagi ‘luka lama’ ini versi saya, bukan versi band Cokelat yang liriknya ada kalimat mengenangmu menyesakkan jiwa. Sedikit mirip, tapi ‘luka lama’ versi saya adalah dapur. Ironisnya, dua orang yang membuat saya antidapur adalah suami dan ibu saya sendiri (tapi tetap jangan dibayangkan suami saya kayak iblis di neraka pake bando panah, suer suami saya lucu hihi…).

Alkisah tiga bulan setelah menikah, kami pindah ke rumah baru. Kami bersemangat 45 seperti pahlawan yang semangat bergerilya, bedanya pahlawan pegang bambu runcing, saya sih pegang ulekan. Dipasanglah kompor gas di dapur. Percobaan perdana sangat mengesankan, dapur kami hangus sodara-sodara! Kompor gosong, api besar, dapur hangus membuat suami saya panik. Refleks dia menyiramkan air ke api yang tentu saja apinya tidak langsung mati malah menjilat-jilat. Pengalaman pertama dengan dapur benar-benar tak terlupakan, masakan kami berjudul dapur hangus. Biar sedikit romantis (cieee…) dapur hangus ini saya jadikan judul blog saya biar anak cucu saya nanti membacanya.

Lalu ibu saya membuat saya trauma dapur lebih awal. Ibu saya orangnya cermat, salah satunya tak boleh mengupas bawang sampai ke dagingnya. Sayang katanya! Bagi yang sudah terbiasa memisahkan bawang dari kulit arinya sih gampang saja, tapi bagi saya lain lagi. Itu bencana hiks hiks… Eits, bukan bermaksud membicarakan ibu saya, bukan itu! Saya ambil hikmahnya saja, di usia 22 bulan, Vio sudah bisa mengupas bawang putih tanpa cacat. Lumayanlah meringankan pekerjaan dapur saya heheh… (jangan dilaporkan ke Kak Seto ya, ini hanya memanfaatkan potensi anak. Tapi kalau ada agensi iklan yang mau meng-hire Vio jadi bintang iklan kupas bawang sih boleh aja hihihi…)

Duh, jadi ngelantur kan. Ya pokoknya dapur itu jadi neraka dunia buat saya. Oya, ditambah lagi saya agak geuleuh dengan makanan yang blenyek-blenyek seperti bubur bayi. Jadi kebayang kan kegalauan saya ketika Vio akan mulai MPASI. Sudah tak suka dapur, tak bisa masak, ditambah merinding melihat bubur bayi menjadi paduan yang sungguh tak menguntungkan buat saya dan Vio.

Tapi syukurlah Tuhan tidak memberi saya cobaan yang lebih berat karena segitu saja sudah seperti mengangkat bola dunia dengan jari kelingking. Saya menemukan metode baby led weaning (BLW) yang dipopulerkan oleh Gill Rapley dari hasil berselancar di dunia maya. BLW intinya skip tahap puree dan mengenalkan tekstur asli makanan ke bayi. Orang tua hanya perlu mengikuti petunjuk bayi (baby led) kapan dia mau makan, kapan dia mau berhenti makan. Aha… inilah yang cocok buat kami berdua. Setidaknya bagi saya ya, sempat sebulan dua bulan belajar dulu membuat makanan bayi. Lalu apa MPASI pertama Vio? Kentang kukus, itupun ibu saya yang mengukus hehehe… Saya dan Vio (serta suami saya yang imut tadi) merasa pas dengan metode ini dan memutuskan Vio MPASI dengan full BLW tanpa spoon feed sama sekali.

Ketika Vio semakin ‘ganas’ melahap makanan, saya mulai ketar-ketir. Dia sudah membutuhkan sesi ngemil finger food di sela-sela makanan utama. Saya galau lagi nih ceritanya (sering banget galau ya kalau dipikir-pikir jadi kayak ABG aja ). Pucuk dicinta ulam tiba, ibu saya memiliki multipan yang bisa menjalankan fungsi memanggang. Tanpa basa basi, saya rampok multipan ibu saya (ga modal mode on). Multipan itulah bekal pertama saya memasuki dunia yang tadinya seperti neraka, dunia masak memasak.

Finger food pertama untuk Vio adalah kue keju (yang di dunia persilatan dikenal dengan nama cheese bliss). Saya sengaja membuat kue keju ini waktu mertu berkunjung biar dibilang menantu idaman hehehe… Rasanya enak, renyah, gurih. Apakah Vio suka? Tentu saja! Tapi tetap saja, emaknya jauh lebih suka. Komposisinya ¼ buat Vio dan ¾ buat emaknya hehehe… Percobaan perdana yang sukses besar ini membuat saya ketagihan memasak dan baking-baking. Dapur menjadi surga bagi saya, tapi berubah jadi neraka bagi suami karena saya jadi gemar beli ini itu buat dapur (maaf ya Pak Suami, yang penting kan homemade ).

Singkat kata, saya mulai suka memasak dan mencoba resep. Ketika Vio 11 bulan, saya sudah cukup mumpuni mengolah bahan makanan. Yah, walaupun belum bisa disamakan dengan Chef Vindex, saya mau dan ikhlas disandingkan dengan Chef Juna (maunya hihihi…). Dari mana saya belajar memasak? Ya tentu saja dari mbah paling pandai sedunia dan jagat raya, Mbah Google. Untung ada Mbah Google, kalau tidak pasti kasihan ibu saya sehari lima kali menerima telpon dari saya untuk menanyakan hal-hal remeh seperti, “Bu, merica sama ketumbar bedanya apa?” atau “Bu, kunyit itu yang kuning bukan sih?”

Ya ya ya, itulah masa lalu saya. Masa sekarang sudah jauh berbeda. Perlahan tapi pasti (pasti maksa suami maksudnya), saya mulai punya peralatan dapur mutakhir seperti oven listrik, panci presto, double pan yang tersohor karena Happy Salma, sampai printilan kecil seperti loyang dan cookie cutter. Sekadar info aja sih, panci presto belum lunas juga. Rasanya nunggu panci presto lunas itu kayak nunggu tahun 2050, luamaaaa… (keliling ke rumah admin HHBF minta sumbangan buat bayar panci presto *dipentung Ibu Ping karena OOT*).

Lanjut ya, sekarang saya bisa masak macam-macam makanan. Kalau dulu cuma bisa ngukus kentang, sekarang saya bisa bikin baked potato yang endang bambang (maaf minjem nama Pak Bambang sebentar :p). Kalau dulu pinter banget beli muffin di bakery, sekarang dengan bangga saya siarkan ke seluruh dunia kalau saya bisa membuat muffin yang enak walaupun resepnya kira-kira saja (suerr ga bohong, nanti kalau menang saya bagi muffin ketan hitam satu-satu buat member HHBF hihi…).

Bahkan, kalau lagi kesambet setan dari Papua, saya bisa saja jam 11 malam koclok-koclok telur pakai whisker buat bikin brownies (ini superkode biar menang mixer maksudnya hahaha..). Kalau lagi kesambet setan dari Betawi, saya bisa tiba-tiba bikin nasi uduk jam 1 pagi. Lain lagi kalau kerasukan setan dari Bali, saya tiba-tiba saja bisa ungkep ayam jam 3 pagi. Wah, masa sih masak tergantung asal geografis setan? Tenang, sebentar lagi zona waktu digabung sama pemerintah jadi jam tidur setan Papua bakal sama dengan saya yang di Bandung (sssttt… udah liat pentung karena ngelantur nih!).

Makanan favorit keluarga kami sebenarnya sederhana. Seperti mobil Esemka, 90 persen lidah kami terbuat dari onderdil lokal hihihi… Jadi, sebagian besar menu Indonesia tercinta seperti sayur asem, sayur bening, rendang daging, opor, rawon lolos uji emisi oleh pencernaan kami. Sisanya 10 persen diimpor dari RRC (karena suka capcay), Italia (karena kadang-kadang pasta), dan Jepang (karena suka katsu-katsuan).

Jadi tulisan ini maksudnya apa sih? Nglantur ngalor ngidul ga jelas. Poin utamanya dan yang paling penting adalah. Kalau saya yang tadinya ga suka masak, alergi dapur, ga betah diam di rumah saja akhirnya bisa mengakrabi dapur, yang lain juga pasti bisa dong. Masalah rasa nomor sekianlah, masalah penampilan nomor sekian lagilah (susah mau menyesuaikan penampilan dengan Farah Quinn sih ya ), yang penting masakan yang kita sajikan di rumah makanan sehat, mengandung unsur yang lengkap. Kalaupun mau masak soto Bandung jadinya coto Makasar pun ga pa pa, yang penting masih sama-sama soto (idih, ini sih saya aja kayaknya masak apa tapi rasanya apa).

Jelas sekali semangat saya biar Vio makan sehat membawa saya ke jalan yang benar untuk suka memasak. Aminnn… Saya yang tadinya ingin berkarir, stress kalau diam di rumah terus akhirnya memilih mengendurkan niat berkarir setelah tahu memasak sama menantangnya dengan bekerja kantoran. Serius, kali ini saya super duper serius. Masih terpatri jelas di ingatan saya bagiamana deg-degannya menanti cheese bliss matang itu sama dengan menanti kalimat, “Mau nggak kamu jadi istriku.” (uhuk-uhuk).

Saya menemukan sensasi kebahagiaan lain dengan memasak makanan rumahan untuk keluarga kecil saya. Kebahagiaan yang sederhana seperti berhasil membuat sambal ala Bu Rudy yang ngetop seantero jagat mengalahkan Miss Universe. Semakin lengkap kebahagiaan saya melihat suami lahap makan karena sambel bikinan saya (walaupun akhirnya sih bolak balik ke toilet, itu nggak termasuk klaim asuransi masakan saya :p). Semakin bahagia pula ketika melihat Vio penasaran dengan apa yang saya lakukan di dapur, sampai akhirnya saya delegasikan masalah mengupas bawang putih kepadanya.

Akhir-akhir ini malah saya punya hobi baru yang sensasinya membuat fly melebihi ekstasi. Bongkar-bongkar dokumen dan foto di HHBF, catat resep ini itu, browsing resep-resep bersama Mbah Google, serta main-main ke blog-blog memasak. Semuanya benar-benar membuat saya fly, semangat saya terbang untuk memasak. Ada satu buku khusus yang isinya resep-resep andalan saya, walaupun buku itu pada akhirnya lebih banyak diisi Vio dengan coretan-coretannya. Buku itu, blog saya, dan tulisan ini menjadi saksi bagaimana perjalanan saya belajar memasak. Saya persembahkan Dapur Hangus untuk Vio dan adik-adiknya nanti.

Lalu apa? Cukupkah hanya bahagia? Ya dicukup-cukupkan sajalah. Saya berbahagia menjadi chef keluarga.

Salam Homemade :D

Homemade Healthy Baby Food, padahal Vio BLW, saya ga pernah bikin makanan bayi hehehe...

Homemade Healthy Baby Food, padahal Vio BLW, saya ga pernah bikin makanan bayi hehehe…

***
NB: Tadinya sih tulisan ini mau dibikin posting pertama di blog, tapi karena pengumuman lomba waktu itu mundur, jadi ga jadi deh, saya bikin lagi Mengapa Dapur Hangus yang lebih ringkas :D.

 
 

Tags: , ,

Tongkol vs Daun Jeruk

Tongkol vs Daun Jeruk

Pagi itu saya bete, karena biasanya ga pernah masak dan pas niat masak suami saya bilang masakannya ga ada rasanya. Uhukk… sebenernya ga masak juga sih, cuma goreng tongkol aja dari tukang sayur, yang udah diasap (mungkin yah, lupa nanya ke mang sayur) dipotong-potong dan tinggal goreng.

Saat goreng-goreng-nya sih penuh drama, minyak meletup-letup ke mana-mana. Makin bete deh karena dapur yang udah berantakan kayak kapal kelelep semakin ga ada mirip-miripnya sama dapur malah kayak kilang minyak. Oke, dari situ saja saya udah cemberut, kalau ditambah ada yang bilang tongkolnya ga enak, kebayang saya cemberut kuadrat pangkat tiga. Yah, walaupun saya tinggal goreng dan ga pake bumbu macem-macem, tapi ya begitulah SOP-nya si tongkol *halah*.

Tumis tongkol daun jeruk

Tumis tongkol daun jeruk yang katanya enak, kalau kata saya enak banget! ^^


Lalu tiba-tiba saya teringat masakan ibu yang sering saya request kalo lagi mudik. Tumis tongkol biasa sih, kalau di Kediri pake pindang yang dijual di wadah bambu (disebutnya reyeng). Tapi biar biasa rasanya jos gandos. Peringatan pertamanya sih, ini gampang banget! Kalau ga menyalahi EYD, saya malah bakal nulis ‘sangat gampang banget sekali’ wekekekek…

Caranya gimana? Cuma goreng-iris-tumis dan jadi. Kayak judul tabloid, sedap sekejap. Hasilnya? Orang yang tadi bilang tongkol kagak ada rasanya besoknya bilang, “Tongkol yang kemaren itu aku suka.” Besoknya ya bilangnya, soalnya kalau langsung bilang, doi takut istrinya yang lagi manyun kuadrat pangkat tiga langsung meletus kayak petasan.

Jadi, si tumis tongkol itu bahannya cuma tongkol yang digoreng sampai matang, tapi jangan terlalu kriuk. Biarkan masih nyes-nyes gitu jadi bumbu tumisnya gampang meresap. Bumbunya cuma bawang putih dan bawang merah diiris, cabe iris, laos alias lengkuas digeprek, lalu daun salam, garam gula pasir, plus kecap manis satu sendok makan.

Jangan bayangkan di tengah dapur yang berantakan itu ada semua bahan di atas, bawang putih cuma ada 2 siung, bawang merah juga udah peyot saking ga pernah dipake. Lengkuas dan daun salam? Ya pasti ga ada lah ya… Tapi entah kesambet setan dari mana, pas beli tongkol kok saya sekalian beli daun jeruk. Jadilah judulnya tongkol vs daun jeruk. Sebelumnya saya pernah bikin abon tongkol pake daun jeruk juga, wangiii….

Tumis tongkol daun jeruk

Wangiiiii daun jeruknya itu bikin otomatis ambil nasi anget :p

Bahan:
10 potong tongkol, goreng jangan terlalu kering. Ini sisa aja sih, sehari sebelumnya kan udah dimakan tuh versi digoreng polosan *cailah bahasanya*

Bumbu:
2 siung bawang putih, iris tipis
5 siung bawang merah (ukuran agak kecil), iris tipis
3 cabe rawit, iris. Kok 3? Tau nggak kalau orang jaman dulu, bumbu yang ganjil itu lebih sedep. Saya sih suka ngikut aja, gak tau juga bener enggaknya, tapi buktinya masakan saya enak kok *narsis to the max :p*
Gula dan garam secukupnya
1 ruas lengkuas geprek dan 1 lembar daun salam, versi saya diganti daun ketuk yang dibuang tulang daunnya dan disobek-sobek. Saya pake 4 atau 5 lembar ya, lupa pokoknya karena masak sambil manyun :p.
1 sendok makan kecap manis
Air matang secukupnya

Cara membuat:
1. Goreng tongkol seperti disebutkan di atas.
2. Ambil 1 sdm minyak bekas goreng tongkol, lalu tumis bumbu iris+daun jeruk. Tumis bumbu dengan api kecil sampai keluar aroma wanginya.
3. Setelah bumbu wangi, masukkan tongkol, aduk biar bumbunya merata.
4. Tambah air secukupnya agar tumisan nggak terlalu kering, saya nambah air sekitar setengah gelas. Besarkan api.
5. Tambakan gula dan garam sesuai selera, mulai kecilkan lagi api dan tunggu air asat (berkurang).
6. Terakhir, tambahkan kecap manis, aduk sampai merata. Tunggu kecap meresap lalu matikan api. Tumis tongkol sudah siap dinikmati.

Setelah masak tiba-tiba saya senyum, asyik ada bahan buat update blog. Mulailah saya pilih-pilih properti buat foto-foto, gelar kayu alas di depan pintu. Pas banget nasi sisa kemaren masih ada semangkok kecil, lumayan buat pemanis. Ya, pokoknya betenya jadi ilang deh ya setelah masakan jadi. Ternyata masak bisa jadi terapi kebetean *jiah*.

Saya ambil kamera, ganti lensa lalu mulai dapet dua tiga jepret ada notifikasi di FB, centring. Eh, saya tinggalin tuh objek foto buat intip FB sebentar. Dan tahukah sodara-sodara, nasi yang tinggal semangkok itu dipatok ayammmmm huaaaa…. Beberapa potong tongkol sudah berceceran di kayu alas dan serbetnya. Bete datang kembali tapi sambil ngakak kali ini. Rupanya ayam juga pengen nyobain hasil masakan chef abal-abal. Cuma dengan kejadian ini, saya resmi mengobarkan bendera perang dengan ayam tetangga. Awas kalo deket-deket teras lagi, mau tak lempar sendal swallow ahahaha…

Nah, gampang kan bikin tumis tongkolnya? Silahkan dicoba di rumah masing-masing, dan berhati-hatilah pada ayam di sekitar Anda :p.

Tumis tongkol daun jeruk

Ini setelah diacak-acak ayam, kok makin cakep fotonya. Lain kali minta ayam acak-acak lagi deh :p

 
14 Comments

Posted by on June 30, 2013 in Resep

 

Tags: , , , ,

Untung Ada Foodpanda

Untung Ada Foodpanda

Laper, males masak, lalu males beli ke luar itu sebenernya bukan paduan yang cucok yah. Pilihannya buat saya ada dua, maksain beli ke luar sambil menahan laper dan resiko masuk angin *lebay* atau masak (baca: goreng telor ceplok :p). Tapi siang itu sayangnya saya males melakukan dua pilihan itu, pengennya sih telfon lalu makanan dateng, macem delivery service gitu. Tapi saya lagi pengen yang menunya beraneka macam, bukan hanya ayam atau kentang goreng atau pizza ajah. Maunya nasi aja, mengingat perut kami bertiga sedikit katrok.

Udah laper, males masak, males beli, pengennya macem-macem pula. Paling tepat memang teriak, Doremoooonnnnnn keluarin jin yang bisa masak dari kantong ajaib. Mungkin Doraemon akan jawab, “Ribet banget sih jin harus masak, mana harus ngeluarin panci, kompor, talenan, pisau Oxone *sekalian promosi*.” Pokoknya mending beliiiiiiii…..

Saya lagi nongkrong di Kampus UPI, tepatnya di Sekretariat IKA UPI sambil nungguin suami tercinta yang lagi berenang biar sixpack katanya. Bukannya ambil motor lalu beli makan, saya malah sibuk gugling lalu dilanjut blogwalking ke blog masak-masakan dan makan memakan #eh :p. Blognya foodblogger maksudnya, yang isinya masakan-masakan enak, tampak saya nggak bisa praktiknya, fotonya bagus pula, dan yang terpenting adalah nggak hangus ahahaha *berarti bukan blog ini*. Ya bisa ditebak saya makin laper lah ya, semua juga tau. Tak ada kata lain selain laper dan laper banget sodara-sodara.

Pas buka-buka blognya mbak Hesti, saya nemu postingan ini. Mata langsung berbinar bahagia seperti Cinderella yang diajak dansa sama Jang Geun Suk *mauuuuuu….*. Ada food delivery yang dipesen secara online, foodpanda. Cucok! Langsung meluncur ke foodpanda.co.id sambil deg-degan ada ga ya di Bandung? Eh, ternyata ada dong dong dong. Hepi berat!

Order Food Online in 3 Easy Steps

Order Food Online in 3 Easy Steps

Katanya, Foodpanda itu order food online in 3 easy steps. Masukin area, pilih resto-nya, dan pilih menu-nya. Gampang? Gampang banget! Yang bikin nggak gampang sih telunjuk saya yang ga bersahabat sama touchscreen tab punya suami, berkali-kali harus ngulang pilih menu. Akhirnya nyerah loh, buka laptop dulu dan memang lebih gampang. Buat yang pake android, foodpanda ada aplikasi khususnya, hanya pastikan jari Anda tak seperti jari saya yang katrok touchscreen hihihi…

Pilihan resto di Setiabudi, lumayanlah... :D

Pilihan resto di Setiabudi, lumayanlah… :D

Kami memutuskan memilih resto Sangkuriang, didasari pada lambung yang 100 persen terbuat dari onderdil lokal. Horayyy ada menu buntut, langsung klik dan pilih-pilih menu pendukungnya. Cuma 5 menit klak klik, daftar, buka email untuk konfirmasi, dan isi form, ehhhh udah di telp aja tuh sama orang foodpanda. Cepet yah! Lalu terjadilah percakapan seperti ini:
FP: Bu, bener melakukan pemesanan bla..bla…bla…
Saya: Benar.
FP: Tolong dimasukkan kode verifikasi dari hp ke web-nya bu
Saya: Ga bisa mas *dalam hati jangan sampai dibilang gaptek*
FP: Gampang bu, tinggal masukin kode yang dikirim ke hp ibu, nanti di web ada window-nya.
Saya: Masalahnya window-nya udah saya close *jederrrrr :p*, bisa diulang ga mas?
FP: Oh ya udah ga pa pa, yang penting sudah konfirm ya melakukan pesanan.
Saya: Iya Mas, jangan lama-lama ya keburu laper *ga tau malu*

Lima menit kemudian:
FP: Bu, mohon maaf menu buntut habis semua, mau diganti yang lain.
Saya: Yah, mas, saya pengennya buntut, kalo yang goreng ada nggak? *ngotot*

Nih struknya, btakut dikira hoax mah struk harus ditunjukin :)

Nih struknya, takut dikira hoax mah struk harus ditunjukin :)


FP: Habis semua bu untuk menu buntut.
Saya: Ya udah buntutnya diganti aja, tapi semua mau diorder ulang mas, soalnya saya mau pesen sapi lada hitam tapi pesenan yang tadi ada sayur asemnya, nanti rasanya nano-nano dong.
FP: Baik, Bu
Saya: *dalam hati* Mas nya pengertian banget ya, ogah juga kali makan sapi lada hitam bareng sayur asem.

Lalu saya order ulang dannnnn…. sejam kemudian pesenan dateng. Eh, ga sampe sejam sih, 45 menitan lah. Bayar di situ juga, mana bapak delivery Sangkuriangnya udah siap sama kembalian. Eits, tapi kami lebih sigap bayar pake uang pas hahahaha… Sapi lada hitamnya buanyakkkk dan puedessss, sampe dibungkus lagi *setelah dipoto-poto sama potograper*, dimakan buat sarapan besoknya.

Foodpanda.co.id ini jaringan internasional dari foodpanda.com. Saya aja melongo loh asli, ini orang kirim-kirim makanan aja jaringannya seluruh dunia begini. Hebat dan keren bener deh! Di Indonesia sendiri baru tersedia layanan di 3 kota/pulau, Jakarta, Bandung, dan Bali. Sayangnya, pilihan restonya masih terbatas. Saya sempet mau pilih Lekko di Setiabudi, iler udah netes-netes ke lantai, ehhhh… ternyata Lekko-nya di Setiabudi Jakarta, duhhh kecele nih yeee…

Sapi Lada Hitam, tanpa masak langsung makan ^^

Sapi Lada Hitam, tanpa masak langsung makan ^^

Ini foodpanda bikin ketagihan deh kayaknya, gabungan males masak, laper, dan males keluar rumah ga masyalaha lagi dong. Klik klik klik lalu tunggu, makanan lezatos dianter sampe depan rumah. Aihhh…. syedappp!

“Dan nikmat manakah yang kau dustakan?”

Subhanallah, saya bersyukur ada foodpanda. Untunggg banget ada foodpanda ;).

Menu lengkapnya, plus 2 macem jus :D. Kenyangggg....

Menu lengkapnya, plus 2 macem jus :D. Kenyangggg….

 
5 Comments

Posted by on June 30, 2013 in Cerita dari Dapur Hangus

 

Tags: , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,782 other followers

%d bloggers like this: